Sabtu, 15 Oktober 2016

Contoh Skripsi Media Audiovisual Bab I

Text Box: dBAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah
Proses belajar mengajar atau proses pembelajaran merupakan suatu kegiatan melaksanakan kurikulum suatu lembaga pendidikan, agar dapat mempengaruhi para peserta didik mencapai tujuan pendidikan yang telah ditetapkan.[1] Tujuan pendidikan telah di rumuskan dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional Nomor 20 tahun 2003 pasal I bahwa:
Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara.[2]

Makna dari pengertian pendidikan dalam Sistem Pendidikan Nasional Nomor 20 tahun 2003 pasal I intinya membentuk manusia Indonesia seutuhnya, yang meliputi aspek-aspek mental, spiritual, moral, intelektual, professional, fisik, psikis, personal, sosial dan nasional yang melekat dan menyatu dalam pribadi individu bangsa Indonesia.[3]
1
 
Tujuan pendidikan yaitu mengantarkan peserta didik menuju perubahan-perubahan perilaku baik intelektual, moral maupun sosial agar dapat hidup mandiri sebagai individu dan makhluk sosial. Dalam mencapai tujuan pendidikan, peserta didik berinteraksi dengan lingkungan belajar yang diatur pendidik melalui proses pembelajaran.[4] Namun, dalam upaya memenuhi tujuan pendidikan tersebut, peserta didik seringkali di hadapkan dengan berbagai macam masalah dan hambatan yang terjadi dalam proses belajar mengajar, salah satunya menurunnya motivasi belajar peserta didik.
Thomas M. Risk mengemukakan “motivasi adalah usaha yang didasari oleh pihak pendidik untuk menimbulkan motif-motif pada diri peserta didik yang menunjang kegiatan ke arah tujuan-tujuan belajar.”[5] Kata “motif”, di artikan sebagai daya yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu, motif dapat di artikan sebagai daya penggerak dari dalam untuk melakukan aktivitas-aktivitas tertentu demi mencapai suatu tujuan.[6] Motivasi sebagai suatu proses, mengantarkan peserta didik kepada pengalaman-pengalaman yang memungkinkan mereka dapat belajar.[7]
Motivasi dapat juga di katakan serangkaian usaha untuk menyediakan kondisi-kondisi tertentu, sehingga seseorang mau dan ingin melakukan sesuatu, dan bila ia tidak suka, maka akan berusaha untuk meniadakan atau mengelakkan perasaan tidak suka itu. Jadi, motivasi dapat di rangsang oleh faktor dari luar tetapi motivasi itu adalah tumbuh di dalam diri seseorang. Dalam kegiatan belajar, motivasi dapat di katakan sebagai keseluruhan daya penggerak di dalam diri peserta didik yang menimbulkan kegiatan belajar, yang menjamin kelangsungan kegiatan belajar dan memberikan arah pada kegiatan belajar, sehingga tujuan yang di kehendaki oleh subjek belajar itu dapat tercapai.[8]
Memotivasi peserta didik untuk belajar, bukanlah hal yang mudah, memerlukan kesabaran, pemahaman dan ketulusan hati. Kesukaran-kesukaran yang sering di hadapi pendidik dalam memotivasi peserta didik adalah: (1) Kenyataan bahwa pendidik belum memahami sepenuhnya akan motif, (2) Motif itu sendiri bersifat perorangan. Kenyataan menunjukan bahwa dua orang atau lebih melakukan yang sama dengan motif yang berbeda sama sekali bahkan bertentangan bila ditinjau dari nilainya, (3) Tidak ada alat, metode atau teknik tertentu yang dapat memotivasi semua peserta didik dengan cara yang sama atau dengan hasil yang sama.
Upaya meningkatkan motivasi belajar peserta didik yaitu salah satunya dengan penggunaan media belajar di proses dalam kegiatan belajar. Media dalam pembelajaran meliputi: Pertama, media grafis seperti gambar, foto, grafik, bagan atau diagram, poster, kartun, komik, dan lain-lain. Media grafis juga di sebut media dua dimensi, yakni media yang mempunyai ukuran panjang dan lebar. Kedua, media tiga dimensi seperti model padat (solid model), model penampang, model susun, model kerja, dan lain-lain. Ketiga, model proyeksi seperti slide, film strips, film, dan lain-lain. Keempat, penggunaan lingkungan sebagai media pembelajaran.[9]
Hubungannya dengan proses pembelajaran di sekolah, media pembelajaran dapat mempertinggi proses belajar peserta didik dalam pembelajaran yang pada gilirannya di harapkan dapat mempertinggi hasil belajar yang di capainya. Ada beberapa alasan, mengapa media pembelajaran dapat mempertinggi proses belajar peserta didik. Alasan pertama berkenaan dengan manfaat media pembelajaran dalam proses belajar peserta didik antara lain:
a.       Pembelajaran lebih menarik perhatian peserta didik sehingga dapat menumbuhkan motivasi belajar.
b.      Bahan pembelajaran lebih jelas maknanya sehingga dapat lebih dipahami oleh para peserta didik, dan memungkinkan peserta didik menguasai tujuan pembelajaran lebih baik.
c.       Metode mengajar lebih bervariasi, tidak semata-mata komunikasi verbal melalui penuturan kata-kata oleh pendidik, sehingga peserta didik tidak bosan dan pendidik tidak kehabisan tenaga, apalagi bila pendidik mengajar untuk setiap jam pelajaran.
d.      Peserta didik lebih banyak melakukan kegiatan belajar, sebab tidak hanya mendengarkan uraian pendidik, tetapi juga aktivitas lain seperti mengamati, melakukan, mendemonstrasikan dan lain-lain.[10]
Manfaat penggunaan media dalam pembelajaran, peserta didik di harapkan lebih tertarik mengikuti pembelajaran, di sisi lain peserta didik akan lebih mudah memahami dan menguasai materi yang diajarkan. Dengan menggunakan media peserta didik lebih banyak melakukan kegiatan belajar. Sebab peserta didik tidak hanya mendengarkan uraian pendidik tetapi juga melakukan aktivitas lain seperti mengamati, melakukan demonstrasi, dan kegiatan yang lain sehingga peserta didik tidak merasa bosan.
Berdasarkan pemaparan diatas, dengan memperhatikan berbagai kegunaan media dan macam-macam media serta dengan memperhatikan permasalahan-permasalahan yang sering terjadi dalam proses pembelajaran guna mencapai tujuan pembelajaran, maka peneliti akan mencoba menggunakan media audiovisual dalam proses pembelajaran mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam (SKI) di kelas XI Madrasah Aliyah Al-Hidayah Cikancung Kabupaten Bandung.
Konsep pembelajaran media audiovisual bermakna sejumlah peralatan yang di gunakan pendidik dalam menyampaikan konsep, gagasan, dan pengamalan yang di tangkap indera pendengaran dan pandang. Penekanan utama dalam pembelajaran audiovisual adalah pada nilai belajar yang di peroleh melalui pengamalan konkret, tidak hanya di dasarkan atas kata-kata belaka.[11]
Media audiovisual di harapkan dapat di gunakan pada setiap proses pembelajaran terutama pada mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam (SKI). Karena dengan menggunakan media ini peserta didik lebih memahami tentang materi yang diajarkan, pembelajaran yang biasa hanya sebatas pada teori-teori yang di sampaikan melalui tulisan dan penjelasan dari pendidik, dapat di visualisasikan sehingga mempermudah proses pemahaman peserta didik. Sehingga, pembelajaran yang awalnya biasa-biasa terlihat bervariatif sehingga mampu membangkitkan motivasi belajar peserta didik pada pembelajaran Sejarah Kebudayaan Islam (SKI). Salah satu media yang dapat di gunakan dalam pembelajaran Sejarah Kebudayaan Islam (SKI) adalah dengan media audiovisual. Karena dengan menggunakan media audiovisual, peserta didik dapat langsung mengamati dan menghayati segala sesuatu yang di lihatnya.
Berdasarkan studi awal sebelumnya di Madrasah Aliyah Al-hidayah Cikancung yang beralamat di Jl. Cikancung-Pangauban, rt/rw 02/02 Desa Cikancung, Kecamatan Cikancung Kabupaten Bandung, penulis menemukan beberapa masalah di antaranya kondisi kegiatan belajar mengajar di kelas XI yang kurang dapat menarik perhatian peserta didik karena tidak di gunakannya metode yang bervariatif, pendidik cenderung hanya menggunakan metode konvensional dan belum menggunakan media pembelajaran yang tepat, sehingga dalam proses belajar mengajar pada mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam (SKI) perhatian peserta didik terhadap materi yang diajarkan oleh pendidik masih kurang. Ketika pendidik menyampaikan materi pelajaran, banyak peserta didik yang tidak memperhatikan penjelasan dari pendidik. Hal tersebut mengindikasikan kurangnya motivasi belajar peserta didik pada mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam (SKI), sehingga perlu di adakannya pembaharuan dalam proses pembelajaran dengan menggunakan media belajar yang dapat membangkitkan motivasi bagi peserta didik dalam belajar.[12]
Berdasarkan permasalahan yang telah di uraikan di atas, menjadi alasan penulis melakukan penelitian dengan judul “Pengaruh Media Audiovisual Terhadap Motivasi Belajar Peserta Didik Pada Mata Pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam (SKI) Kelas XI (Penelitian di Madrasah Aliyah Al-Hidayah Cikancung, Kabupaten Bandung).”
Apabila tidak di lakukan penelitian di khawatirkan berdampak negatif yang berakibat pada pemahaman peserta didik terhadap pembelajaran Sejarah Kebudayaan Islam (SKI) sehingga di khawatirkan keliru.

B.     Pembatasan Dan Rumusan Masalah
1.      Pembatasan Masalah
Batasan masalah di fokuskan pada hal-hal sebagai berikut:
a.       Media audiovisual dalam penelitian ini di fokuskan pada 6 (enam) indikator media audiovisual yang dikemukakan oleh Choirun Nisa dan Wahono Widodo yang meliputi:
1)      Belajar lebih menarik.
2)      Media bersifat interaktif.
3)      Memicu kreativitas peserta didik.
4)      Hasil belajar lebih baik.
5)      Mempermudah peserta didik memahami materi.
6)      Meningkatkan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK).[13]
b.      Motivasi belajar peserta didik dalam penelitian ini di fokuskan pada 8 (delapan) indikator motivasi belajar yang di kemukakan oleh Sardiman, yang meliputi:
1)      Tekun menghadapi tugas.
2)      Ulet menghadapi kesulitan (tidak putus asa).
3)      Menunjukan minat pada bermacam-macam masalah.
4)      Senang bekerja sendiri.
5)      Tidak cepat bosan terhadap tugas-tugas yang rutin.
6)      Dapat mempertahankan pendapatnya.
7)      Tidak cepat menyerah terhadap hal yang diyakini.
8)      Senang mencari dan memecahkan masalah soal-soal.[14]
c.       Peserta didik kelas XI-IPA dan XI IPS-1 di Madrasah Aliyah Al-Hidayah Cikancung berperan sebagai responden dalam penelitian.
d.      Madrasah Aliyah Al-Hidayah Cikancung di gunakan sebagai lokasi pengumpulan data tentang pengaruh media audiovisual terhadap motivasi belajar peserta didik.

2.      Rumusan Masalah
Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
a.       Apa konsep dasar media audiovisual dan motivasi belajar peserta didik?
b.      Bagaimana kondisi empiris pembelajaran dengan media audiovisual di kelas XI Madarasah Aliyah Al-Hidayah Cikancung pada mata pelajaran Sejarah Kebudayaah Islam (SKI)?
c.       Bagaimana kondisi empiris motivasi belajar peserta didik kelas XI Madrasah Aliyah Al-Hidayah Cikancung antara kelompok kontrol dengan eksperimen sebelum perlakuan?
d.      Bagaimana kondisi empiris motivasi belajar peserta didik kelas XI Madrasah Aliyah Al-Hidayah Cikancung antara kelompok kontrol dengan eksperimen sesudah diterapkan media audiovisual?
e.       Bagaimana kondisi empiris motivasi belajar peserta didik kelas XI Madrasah Aliyah Al-Hidayah Cikancung pada kelompok eksperimen sebelum dan sesudah diterapkan media audiovisual pada pembelajaran mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam (SKI).
f.       Berapa besar pengaruh media audiovisual terhadap motivasi belajar peserta didik pada mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam (SKI) kelas XI di Madrasah Aliyah Al-Hidayah Cikancung

C.        Tujuan Penelitian
Tujuan dalam penelitian ini adalah untuk memperoleh gambaran tentang:
a.       Konsep dasar media audiovisual dan motivasi belajar peserta didik.
b.      Kondisi empiris pembelajaran dengan media audiovisual di kelas XI Madarasah Aliyah Al-Hidayah Cikancung pada mata pelajaran Sejarah Kebudayaah Islam (SKI).
c.       Kondisi empiris motivasi belajar peserta didik kelas XI Madrasah Aliyah Al-Hidayah Cikancung antara kelompok kontrol dengan eksperimen sebelum perlakuan.
d.      Kondisi empiris motivasi belajar peserta didik kelas XI Madrasah Aliyah Al-Hidayah Cikancung antara kelompok kontrol dengan eksperimen sesudah diterapkan media audiovisual.
e.       Kondisi empiris motivasi belajar peserta didik kelas XI Madrasah Aliyah Al-Hidayah Cikancung pada kelompok eksperimen sebelum dan sesudah diterapkan media audiovisual pada pembelajaran mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam (SKI).
f.       Pengaruh media audiovisual terhadap motivasi belajar peserta didik pada mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam (SKI) kelas XI di Madrasah Aliyah Al-Hidayah Cikancung.

D.    Manfaat Penelitian
1.      Manfaat Praktis
a.       Hasil penelitian dapat menjadi bahan masukan untuk Madrasah Aliyah Al-Hidayah Cikancung dalam upaya membangkitkan atau menumbuhkan motivasi belajar peserta didik melalui penggunaan media audiovisual dalam proses pembelajaran.
b.      Bagi peneliti, menerapkan ilmu pendidikan yang selama ini di dapat pada perkuliahan.
c.       Bagi pendidik, dapat memberikan masukan yang berarti sebagai bahan kajian untuk meningkatkan kualitas pembelajaran.
d.      Bagi peserta didik, memberikan pengalaman belajar yang bermakna sehingga mempermudah peserta didik untuk membangun dan menemukan konsep-konsep dalam pembelajaran.

2.      Manfaat Teoritis
Hasil penelitian dapat memberikan konstribusi pemikiran khususnya bagi pendidik dan tenaga kependidikan pada umumnya.

E.     Kerangka Pemikiran
Tujuan pendidikan pada dasarnya mengantarkan para peserta didik menuju pada perubahan-perubahan tingkah laku baik intelektual, moral maupun sosial agar dapat hidup mandiri sebagai individu dan makhluk sosial. Dalam mencapai tujuan pendidikan, peserta didik berinteraksi dengan lingkungan belajar yang diatur pendidik melalui proses pembelajaran.[15] Namun, dalam upaya memenuhi tujuan pendidikan tersebut, peserta didik seringkali di hadapkan dengan berbagai macam masalah dan hambatan yang terjadi dalam proses belajar mengajar, salah satunya menurunnya motivasi belajar peserta didik.
Motivasi merupakan daya penggerak dari dalam untuk melakukan aktivitas guna mencapai tujuan tertentu. Motif dapat di artikan sebagai kondisi intern (kesiap siagaan). Dan motif di artikan sebagai daya upaya yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu.[16]
Hakikat motivasi belajar adalah dorongan internal dan eksternal pada peserta didik yang sedang belajar untuk mengadakan perubahan tingkal laku. Hal itu mempunyai peranan besar dalam keberhasilan individu dalam belajar. Dalam kegiatan belajar, motivasi dapat di katakan sebagai keseluruhan daya penggerak di dalam diri peserta didik yang menimbulkan kegiatan belajar, yang menjamin kelangsungan dari kegiatan belajar dan yang memberikan arah pada kegiatan belajar, sehingga tujuan yang di kehendaki oleh subjek belajar itu dapat tercapai. Peserta didik yang memiliki motivasi kuat, mempunyai banyak energi untuk melakukan kegiatan belajar. Hasil belajar optimal jika ada motivasi yang tepat.[17]
Motivasi menyebabkan terjadinya suatu perubahan energi yang ada pada diri manusia, sehingga akan bergayut dengan persoalan gejala kejiwaan, perasaan dan juga emosi, untuk kemudian bertindak atau melakukan sesuatu.[18]
Indikator dari motivasi belajar peserta didik di antaranya:[19]
1)      Tekun menghadapi tugas.
2)      Ulet menghadapi kesulitan (tidak lekas putus asa).
3)      Menunjukkan minat terhadap bermacam-macam masalah.
4)      Lebih senang bekerja mandiri.
5)      Tidak cepat bosan terhadap tugas-tugas yang rutin.
6)      Dapat mempertahankan pendapatnya.
7)      Tidak cepat menyerah terhadap hal yang di yakini.
8)      Senang mencari dan memecahkan masalah soal-soal.
Media pembelajaran dapat mempertinggi proses belajar peserta didik dalam pembelajaran yang pada gilirannya di harapkan dapat mempertinggi hasil belajar yang dicapai. Pendidik lebih mudah mengatur dan memberi petunjuk kepada peserta didik yang harus di lakukannya, sehingga tugasnya tidak semata-mata menuturkan bahan melalui kata-kata (ceramah). Penggunaan media pembelajaran erat kaitannya dengan tahapan berpikir sebab melalui media pembelajaran hal-hal yang abstrak dapat di konkretkan, dan hal-hal yang kompleks dapat di sederhanakan.[20]
Media audiovisual bermakna sejumlah peralatan yang di gunakan oleh pendidik dalam menyampaikan konsep, gagasan, dan pengalaman yang di tangkap oleh indera pandang dan pendengaran. Penekanan utama dalam pembelajaran audiovisual adalah pada nilai belajar yang di peroleh melalui pengalaman konkret, tidak hanya di dasarkan atas kata-kata belaka. Peralatan audiovisual tidak harus digolongkan sebagai pengalaman belajar yang di peroleh dri penginderaan pandang dan dengar, tetapi sebagai alat teknologis yang bisa memperkaya serta memberikan pengalaman konkret kepada peserta didik.[21] Media audiovisual dalam kerangka berpikir ini di tujukan untuk meningkatkan motivasi belajar peserta didik.
Indikator dari penggunaan media audiovisual ini di antaranya sebagai berikut:[22]
1)      Proses belajar mengajar di dalam kelas akan lebih menarik.
2)      Media yang bersifat interaktif.
3)      Akan memunculkan kreativitas peserta didik.
4)      Hasil belajar peserta didik akan lebih baik.
5)      Peserta didik akan lebih mudah dalam memahami materi yang di sampaikan oleh pendidik.
6)      Meningkatkan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Allah Subhanhu wataalla dalam Al-Quran Surat An-Nahl [16] ayat 78 menyebutkan berbagai anugerah yang Dia limpahkan kepada hamba-hamba-Nya ketika mereka di keluarkan dari perut ibunya dalam keadaan tidak mengetahui apapun. Setelah itu, Dia memberikan pendengaran yang dengannya mereka mengetahui suara, penglihatan yang dengannya mereka dapat melihat berbagai hal, dan hati, yaitu akal yang pusatnya adalah hati, demikian menurut pendapat yang shahih. Ada juga yang mengatakan, otak dan akal. Allah Subhanhu wattaala juga memberikan akal yang dengannya dia dapat membedakan berbagai hal, yang membawa mudharat dan yang membawa manfaat. Semua kekuatan dan indera tersebut di peroleh manusia secara berangsur-angsur, sedikit demi sedikit. Setiap kali tumbuh, bertambahlah daya pendengaran, penglihatan, dan akalnya hingga dewasa.[23]
Sebagaimana dalam hadits yang di riwayatkan oleh Imam al-Bukhori, dari Abu Hurairah radiallahu anhu, dari Rasulullah Sallallahu alaihi wassallam, di mana beliau bersabda :
يَقُوْ لُ تَعَا لىَ: مَنْ عَادَى لِيْ وَلِيًَا فَقَدْ بَارَزَنِيْ بِالْحَرْبِ، وَمَا تَقَرَّبَ إِلَىَّ عَبْدِيْ بِشَيْءٍ أَفْضَلُ مِنْ أَدَاءٍ مَـا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ وَلاَ يَزَالُ عَبْدِيْ يَتَقَرَّبَ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ، فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِيْ يَسْمَعُ بِهِ وَبَصَرَهُ الَّذِيْ يُبْصِرُ بِهِ وَيَدَهُ الَّتِيْ يَبْطِشُ بِهَا وَرِخْلَهُ الَّتِيْ يَمْشِيْ بِهَا وَلَئِنْ سَأَلَنِيْ لأُعْطِيَنَّهُ وَلَئِنْ دَعَـانِيْ لأُجِيْبَنَّهُ وَلَئِنِ اسْتَعَاذَ بِيْ لأُ عِيْذَنَّهُ، وَمَا تَرَدَّدْتُ فِيْ شَيْءٍ أَنَ فَاعِلُهُ تَرَدُّدِى فِيْ قَبْضِ نَفْسٍ عَبْدِى الْمُؤْمِنِ يَكْرَهُ المَوْتَ وَأُكْرَهُ مَسَاءَ تُهُ وَلاَبُدَّ لَهُ مِنْهُ.

Allah subhanahu wataalla berfirman: barang siapa yang telah memusuhi wali-Ku berarti dia telah menyatakan perang dengan terang-terangan kepada-Ku. Dan tidaklah seorang hamba mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih baik daripada pelaksanaan apa yang telah Aku wajibkan kepadanya. Dan hamba-Ku masih terus mendekatkan diri kepada-ku dengan amalan-amalan nafilah (sunnah) sehingga Aku mencintainya. Jika aku mencintainya, maka Aku akan menjadi pendengarannya yang dengannya dia mendengar, penglihatannya yang dengannya dia melihat, tangannya yang dengannya dia memegang, dan kakinya yang dengannya dia berjalan. Jika meminta kepada-ku maka Aku pasti akan memberinya, dan jika berdoa kepada-Ku, Aku pasti mengabulkannya, jika memohon perlindungan kepada-Ku, Aku pasti akan melindunginya. Aku tidak pernah ragu terhadap sesuatu yang Aku akan melakukannya. Keraguan-Ku adalah, pada pencabutan nyawa seorang mukmin yang tidak menyukai kematian dan Aku tidak ingin menyakitinya, sedang kematian itu merupakan suatu keharusan baginya.”(Hadits Riwayat Bukhori)

Makna hadits riwayat Bukhori adalah jika seorang hamba telah mengikhlasan ketaatan, maka seluruh amal perbuatannya hanya untuk Allah Subhanahu Wattaalla, sehingga dia tidak mendengar kecuali karena Allah dan tidak melihat apa yang telah disyari’atkan Allah kepadanya melainkan hanya karena Allah semata, tidak memegang dan tidak pula berjalan melainkan dalam rangka mentaati Allah Subhanahu Wattaalla. Seraya memohon pertolongan kepada-Nya dalam melakukan semuanya itu. Karena semuanya itu dalam beberapa riwayat hadits selain yang shahih, disebutkan dalam firman Allah, dan kakinya yang dengannya dia berjalan, “Dengan-Ku dia mendengar, dengan-Ku pula dia melihat, dengan-Ku dia memegang, dan dengan-Ku pula dia berjalan.” Oleh karena itu, Allah Subhanahu Wattaalla berfirman, “Dan Dia memberi kamu pendengaran, pengliahatn dan hati, agar kamu bersyukur”.[24]
Berdasarkan filsafat progresivisme (Jhon Dewey), pengetahuan yang benar pada masa kini mungkin tidak benar di masa mendatang. Karenanya cara terbaik mempersiapkan peserta didik untuk suatu masa depan yang tidak di ketahui adalah membekali mereka dengan strategi-strategi pemecahan masalah yang memungkinkan mereka mengatasi tantangan baru dalam kehidupan untuk menemukan kebenaran kebenaran yang relevan pada saat ini.[25]
Progresivisme menekankan pengalaman indera, belajar sambil bekerja, dan mengembangkan intelegensi, sehingga anak dapat menemukan dan memecahkan masalah yang dihadapi.[26] Keberhasilan pendidikan bagi Dewey terletak pada partisipasi setiap individu yang di dukung oleh kesadaran umum masyarakat.[27] Teori Kondisioning Klasikal (Pavlov), berpendapat bahwa tingkah laku dibentuk melalui pengaturan dan manipulasi stimulus dalam lingkungan. Pembentukan tingkah laku tersebut disebut proses pengondisian. Dalam teori ini tekanan utamanya terdapat pada pengaturan stimulus.[28]
Kemudian berdasarkan teori kesempurnaan, Atkinson dan McClelland menyatakan bahwa jika kecenderungan utnuk berhasil lebih besar dari kecenderungan untuk menjauhi kegagalan maka disana terjadi pengutamaan pekerjaan-pekerjaan sederhana yang sulit, dan secara penafsirannya orang-orang yang memiliki motivasi tinggi adalah orang-orang yang realistis. Setiap pekerjaan sesulit apapun akan bisa ditempuh dan dilaluinya selama motivasi untuk berhasil tertanam dalam jiwanya.[29]
Kerangka berpikir yang penulis ungkapkan adalah motivasi belajar yang dipengaruhi oleh media audiovisual yang menekankan pada indera pendengaran dan pandangan akan mampu memicu timbulnya motivasi belajar dalam diri peserta didik. Pendidik di harapkan mampu melaksanakan pembelajaran yang efektif dan mampu mendorong hasrat belajar peserta didik agar terciptanya mutu pembelajaran yang baik.
Untuk lebih jelasnya, alur kerangka pemikiran dalam penelitian ini dapat di gambarkan sebagai berikut :


                                                                                                                                   




































Skema 1.
Skema Berpikir Tentang Pengaruh Media Audiovisual Terhadap Motivasi Belajar Peserta Didik


F.     Hipotesis
Hipotesis merupakan jawaban sementara terhadap rumusan masalah penelitian, dimana rumusan masalah penelitian telah dinyatakan dalam bentuk kalimat pernyataan. Di katakan sementara, karena jawaban yang diberikan baru di dasarkan pada teori yang relevan, belum di dasarkan pada fakta-fakta empiris yang di peroleh melalui pengumpulan data.[30]
Hipotesis yang akan diuji ini dinamakan hipotesis kerja (Ha). Sementara lawannya adalah hipotesis nol/nihil (H0).[31] Menurut Suharsimi Arikunto, hipotesis kerja (Ha) atau disebut dengan hipotesis alternatif, hipotesis ini menyatakan adanya hubungan antara variabel X dan Y, atau adanya perbedaan antara dua kelompok. Sedangkan hipotesis nol (H0) sering juga disebut hipotesis statistik, karena biasanya di gunakan dalam penelitian yang bersifat statistik, yaitu diuji dengan perhitungan statistik. Hipotesis nol menyatakan tidak adanya perbedaan antara dua variabel, atau tidak adanya pengaruh variabel X terhadap Y. [32]
Hipotesis penelitian yang diajukan dalam penelitian ini, dapat dirumuskan sebagai berikut:
1.
H0 :

Ha :
Pembelajaran media audiovisual dianggap baik oleh peserta didik kelas XI di Madrasah Aliyah Al-Hidayah Cikancung.
Pembelajaran media audiovisual dianggap tidak baik oleh peserta didik kelas XI di Madrasah Aliyah Al-Hidayah Cikancung.
2.
H0 :

Ha :
Ada perbedaan secara signifikan motivasi belajar peserta didik pada kelompok kontrol dan eksperimen sebelum perlakuan.
Tidak ada perbedaan secara signifikan motivasi belajar peserta didik pada kelompok kontrol dan eksperimen sebelum perlakuan.
3.
H0 :

Ha :
Ada perbedaan secara signifikan motivasi belajar peserta didik pada kelompok kontrol dan eksperimen setelah perlakuan.
Tidak ada perbedaan secara signifikan motivasi belajar peserta didik pada kelompok kontrol dan eksperimen setelah perlakuan.
4.
H0 :


Ha :
Ada perbedaan secara signifikan kondisi motivasi belajar peserta didik kelompok eksperimen sebelum dan setelah diberikan perlakuan.
Tidak ada perbedaan secara signifikan kondisi motivasi belajar peserta didik kelompok eksperimen sebelum dan setelah diberikan perlakuan.
5.
H0 :


Ha :
Media audiovisual berpengaruh secara signifikan terhadap motivasi belajar peserta didik pada mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam (SKI) kelas XI di Madrasah Aliyah Al-Hidayah Cikancung.
Media audiovisual tidak berpengaruh secara signifikan terhadap motivasi Belajar peserta didik pada mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam (SKI) kelas XI di Madrasah Aliyah Al-Hidayah Cikancung.

G.    Sistematika Pembahasan
Pada sistematika pembahasan, penulis berpedoman kepada buku panduan penulisan skripsi STAI Bhakti Persada Bandung 2015, yaitu sebagai berikut:
1.      BAB I Pendahuluan: Mengemukakan latar belakang penelitian, batasan masalah, rumusan masalah penelitian, Tujuan dan manfaat penelitian baik secara teoritis maupun secara praktis. Kemudian kerangka pemikiran mengemukan dasar-dasar pemikiran yang mendasari penelitian secara teoritis, yang selanjutkan dirumuskan hipotesis penelitian untuk di uji dalam analisis penelitian sesuai dengan rumusan masalah yang telah disusun. Bab pendahuluan di akhiri sub sistematika pembahasan yang membahas secara naratif bagian-bagian dari karya ilmiah skripsi ini berdasarkan pedoman penulisan skripsi STAI Bhakti Persada Bandung.
2.      BAB II berisikan kajian teoritis dari Media Audiovisual & motivasi peserta didik mulai dari membahas landasan teologis yang bersumber dari Al-Quran dan Hadits, membahas landasan filosofis penelitian dari pendekatan filosofis empirisme (John Locke), dan progresivisme (John Dewey). Kemudian membahas landasan teori yang mendasari penelitian ini yaitu teori koneksionisme (Thorndike), teori kondisioning klasikal (Pavlov), teori kondisioning operan (Skinner), dan teori kesempurnaan (McClelland & John Atkinson). Bab landasan teoritis ditutup dengan membahas beberapa konsep dasar terkait media audiovisual, dan konsep-konsep dasar tentang motivasi belajar peserta didik.
3.      BAB III berisi prosedur penelitian yang ditempuh penulis untuk memperoleh data dan informasi yang dapat membantu ketercapaian tujuan penelitian baik secara umum maupun secara khusus. Pada bab ini membahas beberapa proses yaitu penetapan metode penelitian, subjek penelitian, teknik pengumpulan data, tahapan pengumpulan data, dan analisa data serta interpretasi data.
4.      BAB IV merupakan bab pembahasan dan hasil temuan penelitian, bab ini membahas gambaran kondisi lokasi penelitian, mendeskripsikan hasil temuan penelitian, dan pembahasan hasil temuan penelitian dengan pendekatan studi pustaka.
5.      BAB V merupakan bab penutup yang berisi tentang kesimpulan hasil temuan penelitian dan beberapa saran terkait hasil temuan penelitian terhadap beberapa pihak terkait. serta rekomendasi yang berisi beberapa tindakan lanjut yang perlu menjadi bahan pertimbangan bagi beberapa pihak terkait langsung maupun tidak dengan proses penelitian.[33]





[1] Nana Sudjana dan Ahmad Rivai, Media Pengajaran, (Bandung: Sinar Baru Algensindo, 2013). hlm. 1
[2] Sebagaimana di kutip dari Undang-Undang Sisdiknas No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, (Bandung: Citra Umbara, 2009). hlm. 60
[3] Djamaludin Darwis, Dinamika Pendidikan Islam, (Semarang: Rasail, 2010). hlm. 91
[4] Nana Sudjana dan Ahmad Rivai, Media Pengajaran, (Bandung: Sinar Baru Algensindo, 2013). hlm. 1
[5] Sebagaimana dikutip oleh Zakiah Daradjat, dkk, dalam Metodik Khusus Pengajaran Agama Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 2001). hlm. 140
[6] Sardiman, Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar, (Jakarta: PT Rajawali Pers, 2014). hlm. 73
[7] Zakiah Daradjat, dkk, Metodik Khusus Pengajaran Agama Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 2001). hlm. 141
[8] Sardiman, Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar, (Jakarta: PT Rajawali Pers, 2014). hlm. 75
[9] Nana Sudjana dan Ahmad Rivai, Media Pengajaran, (Bandung: Sinar Baru Algensindo, 2013). hlm. 3
[10] Ibid, hlm. 2
[11] Nana Sudjana dan Ahmad Rivai, Teknologi Pengajaran, (Bandung: Sinar Baru Algensindo, 2009). hlm. 58
[12] Sesuai dengan studi awal observasi yang telah dilaksanakan pada tanggal 8 januari 2016
[13] Choirun Nisa’ dan Wahono Widodo, “Penggunaan Media Audio Visual Dalam meningkatkan Kreativitas Dan Hasil Belajar Peserta Didik Pada Materi Pembelajaran Membuat Aneka Lipatan Serbet (Napkin Folding), dalam e-jurnal boga, Vol. 2, No. 1, Tahun 2013, edisi yudisium periode Februari 2013. hlm. 30”
[14] Sardiman, Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2011). hlm. 83
[15] Nana Sudjana dan Ahmad Rivai, Media Pengajaran, (Bandung: Sinar Baru Algensindo, 2013). hlm. 1
[16] Sardiman, Interaksi dan Motivasi Belajar mengajar, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2011). hlm. 73
[17] Anak Agung Putu Chintya Putri Suardana dan Nicholas Simarmata, “Hubungan Antara Motivasi Belajar dan Kecemasan pada Peserta Didik Kelas VI Sekolah Dasar di Denpasar Menjelang Ujian Nasional”, dalam Jurnal Psikologi Udayana, Vol. 1, No. 1, 2013. hlm. 205
[18] Sardiman, Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2011). hlm. 74
[19] Ibid, hlm. 83
[20] Nana Sudjana dan Ahmad Rivai, Media Pengajaran, (Bandung: Sinar Baru Algensindo, 2013). hlm. 1-3
[21] Nana Sudjana dan Ahmad Rivai, Teknologi Pengajaran, (Bandung: Sinar Baru Algensindo, 2009). hlm. 58
[22] Choirun Nisa’ dan Wahono Widodo, “Penggunaan Media Audio Visual Dalam meningkatkan Kreativitas Dan Hasil Belajar Peserta Didik Pada Materi Pembelajaran Membuat Aneka Lipatan Serbet (Napkin Folding)”, dalam e-jurnal boga, Vol. 2, No. 1, Tahun 2013, edisi yudisium periode Februari 2013. hlm. 30
[23] Abdullah bin Muhammad bin Abdurahman bin Ishaq al-Sheikh, Tafsir Ibnu Katsir Jilid 5, (Pustaka Imam Asy-Syafi’I, 2003). hlm. 88
[24] Ibid, hlm. 89
[25] Uyoh Sadulloh, Pengantar Filsafat Pendidikan,(Bandung: Alfabeta,2010). hlm. 143
[26] Ibid, hlm. 146.

[27] Tita Rostitawati, “Konsep Pendidikan John Dewey”, dalam jurnal Manajemen Pendidikan Islam, volume. 02, nomor 2, Agustus 2014. hlm. 135
[28] Nana Sudjana dan Ahmad Rivai, Teknologi Pengajaran, (Bandung: Sinar Baru Algensindo, 2009). hlm. 37
[29] Abdul Majid Sayid Ahmad Mansur, Zakaria Ahmad Syarbini dan Ismail Muhammad Fata, Perilaku Manusia dalam Pandangan Islam dan Ilmu Psikologi Modern, alih bahasa: Bambang Suryadi, (Yogyakarta: Mistaq Pustaka, 2009). hlm 139
[30] Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif R&D (Bandung: Alfabeta, 2014). hlm. 64
[31] Ibid, hlm. 97
[32] Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian,(Jakarta: PT Rineka Cipta, 2010). hlm. 112
[33] Buku Panduan Penulisan Skipsi ,STAI Bhakti Persada Bandung

Tidak ada komentar:

Posting Komentar