PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang Masalah
Proses belajar mengajar atau
proses pembelajaran merupakan suatu kegiatan melaksanakan kurikulum suatu
lembaga pendidikan, agar dapat mempengaruhi para peserta didik mencapai tujuan
pendidikan yang telah ditetapkan.[1]
Tujuan pendidikan telah di rumuskan dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional
Nomor 20 tahun 2003 pasal I bahwa:
Pendidikan
adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses
pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya
untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian,
kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya,
masyarakat, bangsa, dan negara.[2]
Makna dari pengertian
pendidikan dalam Sistem Pendidikan Nasional Nomor 20 tahun 2003 pasal I intinya
membentuk manusia Indonesia seutuhnya, yang meliputi aspek-aspek mental,
spiritual, moral, intelektual, professional, fisik, psikis, personal, sosial
dan nasional yang melekat dan menyatu dalam pribadi individu bangsa Indonesia.[3]
|
Tujuan
pendidikan yaitu mengantarkan peserta didik menuju perubahan-perubahan perilaku
baik intelektual, moral maupun sosial agar dapat hidup mandiri sebagai individu
dan makhluk sosial. Dalam mencapai tujuan pendidikan, peserta didik
berinteraksi dengan lingkungan belajar yang diatur pendidik melalui proses
pembelajaran.[4]
Namun,
dalam upaya memenuhi tujuan pendidikan tersebut, peserta didik seringkali di
hadapkan dengan berbagai macam masalah dan hambatan yang terjadi dalam proses
belajar mengajar, salah satunya menurunnya motivasi belajar peserta didik.
Thomas M. Risk mengemukakan “motivasi
adalah usaha yang didasari oleh pihak pendidik untuk menimbulkan motif-motif
pada diri peserta didik yang menunjang kegiatan ke arah tujuan-tujuan belajar.”[5]
Kata “motif”, di artikan sebagai daya yang mendorong seseorang untuk melakukan
sesuatu, motif dapat di artikan sebagai daya penggerak dari dalam untuk
melakukan aktivitas-aktivitas tertentu demi mencapai suatu tujuan.[6]
Motivasi sebagai suatu proses, mengantarkan peserta didik kepada
pengalaman-pengalaman yang memungkinkan mereka dapat belajar.[7]
Motivasi dapat juga di
katakan serangkaian usaha untuk menyediakan kondisi-kondisi tertentu, sehingga
seseorang mau dan ingin melakukan sesuatu, dan bila ia tidak suka, maka akan
berusaha untuk meniadakan atau mengelakkan perasaan tidak suka itu. Jadi,
motivasi dapat di rangsang oleh faktor dari luar tetapi motivasi itu adalah
tumbuh di dalam diri seseorang. Dalam kegiatan belajar, motivasi dapat di
katakan sebagai keseluruhan daya penggerak di dalam diri peserta didik yang
menimbulkan kegiatan belajar, yang menjamin kelangsungan kegiatan belajar dan memberikan
arah pada kegiatan belajar, sehingga tujuan yang di kehendaki oleh subjek
belajar itu dapat tercapai.[8]
Memotivasi peserta didik untuk
belajar, bukanlah hal yang mudah, memerlukan kesabaran, pemahaman dan ketulusan
hati. Kesukaran-kesukaran yang sering di hadapi pendidik dalam memotivasi
peserta didik adalah: (1) Kenyataan bahwa pendidik belum memahami sepenuhnya
akan motif, (2) Motif itu sendiri bersifat perorangan. Kenyataan menunjukan
bahwa dua orang atau lebih melakukan yang sama dengan motif yang berbeda sama
sekali bahkan bertentangan bila ditinjau dari nilainya, (3) Tidak ada alat,
metode atau teknik tertentu yang dapat memotivasi semua peserta didik dengan
cara yang sama atau dengan hasil yang sama.
Upaya meningkatkan motivasi belajar
peserta didik yaitu salah satunya dengan penggunaan media belajar di proses dalam
kegiatan belajar. Media dalam pembelajaran meliputi: Pertama, media grafis
seperti gambar, foto, grafik, bagan atau diagram, poster, kartun, komik, dan
lain-lain. Media grafis juga di sebut media dua dimensi, yakni media yang
mempunyai ukuran panjang dan lebar. Kedua, media tiga dimensi seperti model
padat (solid model), model penampang,
model susun, model kerja, dan lain-lain. Ketiga, model proyeksi seperti slide, film strips, film, dan
lain-lain. Keempat, penggunaan lingkungan sebagai media pembelajaran.[9]
Hubungannya dengan proses
pembelajaran di sekolah, media pembelajaran dapat mempertinggi proses belajar
peserta didik dalam pembelajaran yang pada gilirannya di harapkan dapat
mempertinggi hasil belajar yang di capainya. Ada beberapa alasan, mengapa media
pembelajaran dapat mempertinggi proses belajar peserta didik. Alasan pertama
berkenaan dengan manfaat media pembelajaran dalam proses belajar peserta didik
antara lain:
a.
Pembelajaran lebih menarik perhatian peserta didik
sehingga dapat menumbuhkan motivasi belajar.
b.
Bahan pembelajaran lebih jelas maknanya sehingga
dapat lebih dipahami oleh para peserta didik, dan memungkinkan peserta didik
menguasai tujuan pembelajaran lebih baik.
c.
Metode mengajar lebih bervariasi, tidak semata-mata
komunikasi verbal melalui penuturan kata-kata oleh pendidik, sehingga peserta
didik tidak bosan dan pendidik tidak kehabisan tenaga, apalagi bila pendidik
mengajar untuk setiap jam pelajaran.
d.
Peserta didik lebih banyak melakukan kegiatan
belajar, sebab tidak hanya mendengarkan uraian pendidik, tetapi juga aktivitas
lain seperti mengamati, melakukan, mendemonstrasikan dan lain-lain.[10]
Manfaat penggunaan media
dalam pembelajaran, peserta didik di harapkan lebih tertarik mengikuti
pembelajaran, di sisi lain peserta didik akan lebih mudah memahami dan
menguasai materi yang diajarkan. Dengan menggunakan media peserta didik lebih
banyak melakukan kegiatan belajar. Sebab peserta didik tidak hanya mendengarkan
uraian pendidik tetapi juga melakukan aktivitas lain seperti mengamati,
melakukan demonstrasi, dan kegiatan yang lain sehingga peserta didik tidak
merasa bosan.
Berdasarkan pemaparan
diatas, dengan memperhatikan berbagai kegunaan media dan macam-macam media
serta dengan memperhatikan permasalahan-permasalahan yang sering terjadi dalam
proses pembelajaran guna mencapai tujuan pembelajaran, maka peneliti akan
mencoba menggunakan media audiovisual dalam proses pembelajaran mata pelajaran
Sejarah Kebudayaan Islam (SKI) di kelas XI Madrasah Aliyah Al-Hidayah Cikancung
Kabupaten Bandung.
Konsep pembelajaran media audiovisual
bermakna sejumlah peralatan yang di gunakan pendidik dalam menyampaikan konsep,
gagasan, dan pengamalan yang di tangkap indera pendengaran dan pandang. Penekanan
utama dalam pembelajaran audiovisual adalah pada nilai belajar yang di peroleh
melalui pengamalan konkret, tidak hanya di dasarkan atas kata-kata belaka.[11]
Media audiovisual di
harapkan dapat di gunakan pada setiap proses pembelajaran terutama pada mata
pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam (SKI). Karena dengan menggunakan
media ini peserta didik lebih memahami tentang materi yang diajarkan,
pembelajaran yang biasa hanya sebatas pada teori-teori yang di sampaikan
melalui tulisan dan penjelasan dari pendidik, dapat di visualisasikan sehingga mempermudah
proses pemahaman peserta didik. Sehingga, pembelajaran yang awalnya biasa-biasa
terlihat bervariatif sehingga mampu membangkitkan motivasi belajar peserta
didik pada pembelajaran Sejarah Kebudayaan Islam (SKI). Salah satu media yang
dapat di gunakan dalam pembelajaran Sejarah Kebudayaan Islam (SKI) adalah
dengan media audiovisual. Karena dengan menggunakan media audiovisual, peserta
didik dapat langsung mengamati dan menghayati segala sesuatu yang di lihatnya.
Berdasarkan studi awal
sebelumnya di Madrasah Aliyah Al-hidayah Cikancung yang beralamat di Jl.
Cikancung-Pangauban, rt/rw 02/02 Desa Cikancung, Kecamatan Cikancung Kabupaten
Bandung, penulis menemukan beberapa masalah di antaranya kondisi kegiatan
belajar mengajar di kelas XI yang kurang dapat menarik perhatian peserta didik
karena tidak di gunakannya metode yang bervariatif, pendidik cenderung hanya
menggunakan metode konvensional dan belum menggunakan media pembelajaran yang
tepat, sehingga dalam proses belajar mengajar pada mata pelajaran Sejarah Kebudayaan
Islam (SKI) perhatian peserta didik terhadap materi yang diajarkan oleh pendidik
masih kurang. Ketika pendidik menyampaikan materi pelajaran, banyak peserta
didik yang tidak memperhatikan penjelasan dari pendidik. Hal tersebut
mengindikasikan kurangnya motivasi belajar peserta didik pada mata pelajaran Sejarah
Kebudayaan Islam (SKI), sehingga perlu di adakannya pembaharuan dalam proses
pembelajaran dengan menggunakan media belajar yang dapat membangkitkan motivasi
bagi peserta didik dalam belajar.[12]
Berdasarkan permasalahan
yang telah di uraikan di atas, menjadi alasan penulis melakukan penelitian dengan
judul “Pengaruh Media Audiovisual Terhadap Motivasi Belajar Peserta Didik Pada
Mata Pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam (SKI) Kelas XI (Penelitian di Madrasah Aliyah
Al-Hidayah Cikancung, Kabupaten Bandung).”
Apabila tidak di lakukan
penelitian di khawatirkan berdampak negatif yang berakibat pada pemahaman
peserta didik terhadap pembelajaran Sejarah Kebudayaan Islam (SKI) sehingga di
khawatirkan keliru.
B.
Pembatasan Dan Rumusan Masalah
1.
Pembatasan Masalah
Batasan masalah di fokuskan pada hal-hal sebagai berikut:
a.
Media audiovisual dalam penelitian ini di fokuskan
pada 6 (enam) indikator media audiovisual yang dikemukakan oleh Choirun Nisa
dan Wahono Widodo yang meliputi:
1)
Belajar lebih menarik.
2)
Media bersifat interaktif.
3)
Memicu kreativitas peserta didik.
4)
Hasil belajar lebih baik.
5)
Mempermudah peserta didik memahami materi.
b.
Motivasi belajar peserta didik dalam penelitian ini
di fokuskan pada 8 (delapan) indikator motivasi belajar yang di kemukakan oleh
Sardiman, yang meliputi:
1)
Tekun menghadapi tugas.
2)
Ulet menghadapi kesulitan (tidak putus asa).
3)
Menunjukan minat pada bermacam-macam masalah.
4)
Senang bekerja sendiri.
5)
Tidak cepat bosan terhadap tugas-tugas yang rutin.
6)
Dapat mempertahankan pendapatnya.
7)
Tidak cepat menyerah terhadap hal yang diyakini.
c.
Peserta didik kelas XI-IPA dan XI IPS-1 di Madrasah Aliyah
Al-Hidayah Cikancung berperan sebagai responden dalam penelitian.
d.
Madrasah Aliyah Al-Hidayah Cikancung di gunakan
sebagai lokasi pengumpulan data tentang pengaruh media audiovisual terhadap motivasi belajar peserta didik.
2.
Rumusan Masalah
Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
a. Apa konsep
dasar media audiovisual dan motivasi belajar peserta didik?
b. Bagaimana kondisi empiris pembelajaran dengan media audiovisual
di kelas XI Madarasah Aliyah Al-Hidayah Cikancung pada mata pelajaran Sejarah
Kebudayaah Islam (SKI)?
c. Bagaimana kondisi empiris motivasi belajar peserta didik kelas
XI Madrasah Aliyah Al-Hidayah Cikancung antara kelompok kontrol dengan
eksperimen sebelum perlakuan?
d. Bagaimana kondisi empiris motivasi belajar peserta didik kelas
XI Madrasah Aliyah Al-Hidayah Cikancung antara kelompok kontrol dengan
eksperimen sesudah diterapkan media audiovisual?
e. Bagaimana kondisi empiris motivasi belajar peserta didik kelas
XI Madrasah Aliyah Al-Hidayah Cikancung pada kelompok eksperimen sebelum dan
sesudah diterapkan media audiovisual pada pembelajaran mata pelajaran Sejarah
Kebudayaan Islam (SKI).
f. Berapa besar pengaruh media audiovisual terhadap motivasi
belajar peserta didik pada mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam (SKI) kelas
XI di Madrasah Aliyah Al-Hidayah Cikancung
C.
Tujuan Penelitian
Tujuan dalam penelitian ini adalah untuk memperoleh gambaran
tentang:
a. Konsep dasar media
audiovisual dan motivasi belajar peserta didik.
b. Kondisi empiris pembelajaran dengan media audiovisual di kelas
XI Madarasah Aliyah Al-Hidayah Cikancung pada mata pelajaran Sejarah Kebudayaah
Islam (SKI).
c. Kondisi empiris motivasi belajar peserta didik kelas XI Madrasah
Aliyah Al-Hidayah Cikancung antara kelompok kontrol dengan eksperimen sebelum
perlakuan.
d. Kondisi empiris motivasi belajar peserta didik kelas XI Madrasah
Aliyah Al-Hidayah Cikancung antara kelompok kontrol dengan eksperimen sesudah
diterapkan media audiovisual.
e. Kondisi empiris motivasi belajar peserta didik kelas XI Madrasah
Aliyah Al-Hidayah Cikancung pada kelompok eksperimen sebelum dan sesudah
diterapkan media audiovisual pada pembelajaran mata pelajaran Sejarah
Kebudayaan Islam (SKI).
f. Pengaruh media audiovisual terhadap motivasi belajar peserta
didik pada mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam (SKI) kelas XI di Madrasah Aliyah
Al-Hidayah Cikancung.
D.
Manfaat Penelitian
1.
Manfaat Praktis
a. Hasil penelitian dapat menjadi bahan masukan untuk Madrasah Aliyah
Al-Hidayah Cikancung dalam upaya membangkitkan atau menumbuhkan motivasi
belajar peserta didik melalui penggunaan media audiovisual dalam proses
pembelajaran.
b. Bagi peneliti, menerapkan ilmu pendidikan yang selama ini di dapat
pada perkuliahan.
c. Bagi pendidik, dapat memberikan masukan yang berarti sebagai
bahan kajian untuk meningkatkan kualitas pembelajaran.
d. Bagi peserta didik, memberikan pengalaman belajar yang bermakna
sehingga mempermudah peserta didik untuk membangun dan menemukan konsep-konsep
dalam pembelajaran.
2.
Manfaat Teoritis
Hasil
penelitian dapat memberikan konstribusi pemikiran khususnya bagi pendidik dan
tenaga kependidikan pada umumnya.
E.
Kerangka Pemikiran
Tujuan pendidikan pada
dasarnya mengantarkan para peserta didik menuju pada perubahan-perubahan
tingkah laku baik intelektual, moral maupun sosial agar dapat hidup mandiri
sebagai individu dan makhluk sosial. Dalam mencapai tujuan pendidikan, peserta
didik berinteraksi dengan lingkungan belajar yang diatur pendidik melalui
proses pembelajaran.[15]
Namun,
dalam upaya memenuhi tujuan pendidikan tersebut, peserta didik seringkali di
hadapkan dengan berbagai macam masalah dan hambatan yang terjadi dalam proses
belajar mengajar, salah satunya menurunnya motivasi belajar peserta didik.
Motivasi
merupakan daya penggerak dari dalam untuk melakukan aktivitas guna mencapai
tujuan tertentu. Motif dapat di artikan sebagai kondisi intern (kesiap siagaan).
Dan motif di artikan sebagai daya upaya yang mendorong seseorang untuk
melakukan sesuatu.[16]
Hakikat
motivasi belajar adalah dorongan internal dan eksternal pada peserta didik yang sedang
belajar untuk mengadakan perubahan tingkal laku. Hal itu mempunyai peranan
besar dalam keberhasilan individu dalam belajar. Dalam kegiatan belajar,
motivasi dapat di katakan sebagai keseluruhan daya penggerak di dalam diri
peserta didik yang menimbulkan kegiatan belajar, yang menjamin kelangsungan
dari kegiatan belajar dan yang memberikan arah pada kegiatan belajar, sehingga
tujuan yang di kehendaki oleh subjek belajar itu dapat tercapai. Peserta didik yang
memiliki motivasi kuat, mempunyai banyak energi untuk melakukan kegiatan
belajar. Hasil belajar optimal jika ada motivasi yang tepat.[17]
Motivasi
menyebabkan terjadinya suatu perubahan energi yang ada pada diri manusia,
sehingga akan bergayut dengan persoalan gejala kejiwaan, perasaan dan juga
emosi, untuk kemudian bertindak atau melakukan sesuatu.[18]
Indikator dari motivasi belajar peserta
didik di antaranya:[19]
1)
Tekun menghadapi tugas.
2)
Ulet menghadapi kesulitan
(tidak lekas putus asa).
3)
Menunjukkan minat terhadap
bermacam-macam masalah.
4)
Lebih senang bekerja
mandiri.
5)
Tidak cepat bosan terhadap
tugas-tugas yang rutin.
6)
Dapat mempertahankan
pendapatnya.
7)
Tidak cepat menyerah
terhadap hal yang di yakini.
8)
Senang mencari dan
memecahkan masalah soal-soal.
Media pembelajaran dapat
mempertinggi proses belajar peserta didik dalam pembelajaran yang pada
gilirannya di harapkan dapat mempertinggi hasil belajar yang dicapai. Pendidik
lebih mudah mengatur dan memberi petunjuk kepada peserta didik yang harus di lakukannya,
sehingga tugasnya tidak semata-mata menuturkan bahan melalui kata-kata
(ceramah). Penggunaan media pembelajaran erat kaitannya dengan tahapan berpikir
sebab melalui media pembelajaran hal-hal yang abstrak dapat di konkretkan, dan
hal-hal yang kompleks dapat di sederhanakan.[20]
Media audiovisual bermakna
sejumlah peralatan yang di gunakan oleh pendidik dalam menyampaikan konsep,
gagasan, dan pengalaman yang di tangkap oleh indera pandang dan pendengaran. Penekanan
utama dalam pembelajaran audiovisual adalah pada nilai belajar yang di peroleh
melalui pengalaman konkret, tidak hanya di dasarkan atas kata-kata belaka.
Peralatan audiovisual tidak harus digolongkan sebagai pengalaman belajar yang di
peroleh dri penginderaan pandang dan dengar, tetapi sebagai alat teknologis
yang bisa memperkaya serta memberikan pengalaman konkret kepada peserta didik.[21] Media audiovisual dalam
kerangka berpikir ini di tujukan untuk meningkatkan motivasi belajar peserta
didik.
Indikator dari penggunaan
media audiovisual ini di antaranya sebagai berikut:[22]
1) Proses belajar mengajar di
dalam kelas akan lebih menarik.
2) Media yang bersifat interaktif.
3) Akan memunculkan kreativitas peserta didik.
4) Hasil belajar peserta didik akan lebih baik.
5) Peserta didik akan lebih mudah dalam memahami materi yang di
sampaikan oleh pendidik.
6) Meningkatkan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Allah Subhanhu wataalla
dalam Al-Quran Surat An-Nahl [16] ayat 78 menyebutkan berbagai anugerah yang
Dia limpahkan kepada hamba-hamba-Nya ketika mereka di keluarkan dari perut
ibunya dalam keadaan tidak mengetahui apapun. Setelah itu, Dia memberikan
pendengaran yang dengannya mereka mengetahui suara, penglihatan yang dengannya
mereka dapat melihat berbagai hal, dan hati, yaitu akal yang pusatnya adalah
hati, demikian menurut pendapat yang shahih. Ada juga yang mengatakan, otak dan
akal. Allah Subhanhu wattaala juga memberikan akal yang dengannya dia
dapat membedakan berbagai hal, yang membawa mudharat dan yang membawa manfaat.
Semua kekuatan dan indera tersebut di peroleh manusia secara berangsur-angsur,
sedikit demi sedikit. Setiap kali tumbuh, bertambahlah daya pendengaran,
penglihatan, dan akalnya hingga dewasa.[23]
Sebagaimana dalam hadits
yang di riwayatkan oleh Imam al-Bukhori, dari Abu Hurairah radiallahu anhu,
dari Rasulullah Sallallahu alaihi wassallam, di mana beliau bersabda :
|
يَقُوْ
لُ تَعَا لىَ: مَنْ عَادَى لِيْ وَلِيًَا فَقَدْ بَارَزَنِيْ بِالْحَرْبِ، وَمَا
تَقَرَّبَ إِلَىَّ عَبْدِيْ بِشَيْءٍ أَفْضَلُ مِنْ أَدَاءٍ مَـا افْتَرَضْتُ
عَلَيْهِ وَلاَ يَزَالُ عَبْدِيْ يَتَقَرَّبَ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى
أُحِبَّهُ، فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِيْ يَسْمَعُ بِهِ
وَبَصَرَهُ الَّذِيْ يُبْصِرُ بِهِ وَيَدَهُ الَّتِيْ يَبْطِشُ بِهَا وَرِخْلَهُ
الَّتِيْ يَمْشِيْ بِهَا وَلَئِنْ سَأَلَنِيْ لأُعْطِيَنَّهُ وَلَئِنْ
دَعَـانِيْ لأُجِيْبَنَّهُ وَلَئِنِ اسْتَعَاذَ بِيْ لأُ عِيْذَنَّهُ، وَمَا
تَرَدَّدْتُ فِيْ شَيْءٍ أَنَ فَاعِلُهُ تَرَدُّدِى فِيْ قَبْضِ نَفْسٍ عَبْدِى
الْمُؤْمِنِ يَكْرَهُ المَوْتَ وَأُكْرَهُ مَسَاءَ تُهُ وَلاَبُدَّ لَهُ مِنْهُ.
|
Allah subhanahu
wataalla berfirman: barang siapa yang telah memusuhi wali-Ku berarti dia
telah menyatakan perang dengan terang-terangan kepada-Ku. Dan tidaklah seorang
hamba mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih baik daripada
pelaksanaan apa yang telah Aku wajibkan kepadanya. Dan hamba-Ku masih terus
mendekatkan diri kepada-ku dengan amalan-amalan nafilah (sunnah) sehingga Aku mencintainya. Jika aku mencintainya,
maka Aku akan menjadi pendengarannya yang dengannya dia mendengar,
penglihatannya yang dengannya dia melihat, tangannya yang dengannya dia
memegang, dan kakinya yang dengannya dia berjalan. Jika meminta kepada-ku maka
Aku pasti akan memberinya, dan jika berdoa kepada-Ku, Aku pasti mengabulkannya,
jika memohon perlindungan kepada-Ku, Aku pasti akan melindunginya. Aku tidak
pernah ragu terhadap sesuatu yang Aku akan melakukannya. Keraguan-Ku adalah,
pada pencabutan nyawa seorang mukmin yang tidak menyukai kematian dan Aku tidak
ingin menyakitinya, sedang kematian itu merupakan suatu keharusan baginya.”(Hadits
Riwayat Bukhori)
Makna hadits riwayat Bukhori adalah jika seorang hamba telah
mengikhlasan ketaatan, maka seluruh amal perbuatannya hanya untuk Allah Subhanahu
Wattaalla, sehingga dia tidak mendengar kecuali karena Allah dan tidak
melihat apa yang telah disyari’atkan Allah kepadanya melainkan hanya karena
Allah semata, tidak memegang dan tidak pula berjalan melainkan dalam rangka
mentaati Allah Subhanahu Wattaalla. Seraya memohon pertolongan
kepada-Nya dalam melakukan semuanya itu. Karena semuanya itu dalam beberapa
riwayat hadits selain yang shahih, disebutkan dalam firman Allah, dan kakinya
yang dengannya dia berjalan, “Dengan-Ku dia mendengar, dengan-Ku pula dia
melihat, dengan-Ku dia memegang, dan dengan-Ku pula dia berjalan.” Oleh karena
itu, Allah Subhanahu Wattaalla berfirman, “Dan Dia memberi kamu
pendengaran, pengliahatn dan hati, agar kamu bersyukur”.[24]
Berdasarkan filsafat progresivisme (Jhon Dewey), pengetahuan yang benar pada masa kini
mungkin tidak benar di masa mendatang. Karenanya cara terbaik
mempersiapkan peserta didik untuk suatu masa depan yang tidak di ketahui adalah
membekali mereka dengan strategi-strategi pemecahan masalah yang memungkinkan
mereka mengatasi tantangan baru dalam kehidupan untuk menemukan kebenaran
kebenaran yang relevan pada saat ini.[25]
Progresivisme menekankan pengalaman indera, belajar
sambil bekerja, dan mengembangkan intelegensi, sehingga anak dapat menemukan dan
memecahkan masalah yang dihadapi.[26] Keberhasilan
pendidikan bagi Dewey terletak
pada partisipasi setiap individu yang di dukung oleh kesadaran umum masyarakat.[27] Teori Kondisioning
Klasikal (Pavlov), berpendapat bahwa tingkah laku dibentuk melalui
pengaturan dan manipulasi stimulus dalam lingkungan. Pembentukan tingkah laku
tersebut disebut proses pengondisian. Dalam teori ini tekanan utamanya terdapat
pada pengaturan stimulus.[28]
Kemudian berdasarkan teori kesempurnaan, Atkinson dan McClelland
menyatakan bahwa jika kecenderungan utnuk berhasil lebih besar dari
kecenderungan untuk menjauhi kegagalan maka disana terjadi pengutamaan
pekerjaan-pekerjaan sederhana yang sulit, dan secara penafsirannya orang-orang
yang memiliki motivasi tinggi adalah orang-orang yang realistis. Setiap
pekerjaan sesulit apapun akan bisa ditempuh dan dilaluinya selama motivasi
untuk berhasil tertanam dalam jiwanya.[29]
Kerangka berpikir yang penulis ungkapkan adalah motivasi belajar yang
dipengaruhi oleh media audiovisual yang menekankan pada indera pendengaran dan
pandangan akan mampu memicu timbulnya motivasi belajar dalam diri peserta
didik. Pendidik di harapkan mampu melaksanakan pembelajaran yang efektif dan
mampu mendorong hasrat belajar peserta didik agar terciptanya mutu pembelajaran
yang baik.
Untuk lebih jelasnya, alur kerangka pemikiran
dalam penelitian ini dapat di gambarkan sebagai berikut :
Skema
1.
Skema Berpikir Tentang Pengaruh Media
Audiovisual Terhadap Motivasi Belajar Peserta Didik
F. Hipotesis
Hipotesis merupakan jawaban sementara terhadap rumusan masalah
penelitian, dimana rumusan masalah penelitian telah dinyatakan dalam bentuk
kalimat pernyataan. Di katakan sementara, karena jawaban yang diberikan baru di
dasarkan pada teori yang relevan, belum di dasarkan pada fakta-fakta empiris
yang di peroleh melalui pengumpulan data.[30]
Hipotesis
yang akan diuji ini dinamakan hipotesis kerja (Ha). Sementara lawannya adalah hipotesis
nol/nihil (H0).[31] Menurut Suharsimi
Arikunto, hipotesis kerja (Ha) atau disebut dengan hipotesis alternatif,
hipotesis ini menyatakan adanya hubungan antara variabel X dan Y, atau adanya
perbedaan antara dua kelompok. Sedangkan hipotesis nol (H0) sering juga
disebut hipotesis statistik, karena biasanya di gunakan dalam penelitian yang
bersifat statistik, yaitu diuji dengan perhitungan statistik. Hipotesis nol
menyatakan tidak adanya perbedaan antara dua variabel, atau tidak adanya
pengaruh variabel X terhadap Y. [32]
Hipotesis penelitian yang diajukan dalam penelitian ini, dapat dirumuskan
sebagai berikut:
|
1.
|
H0 :
Ha :
|
Pembelajaran media
audiovisual dianggap baik oleh peserta didik kelas XI di Madrasah Aliyah
Al-Hidayah Cikancung.
Pembelajaran media
audiovisual dianggap tidak baik oleh peserta didik kelas XI di Madrasah
Aliyah Al-Hidayah Cikancung.
|
|
2.
|
H0 :
Ha :
|
Ada perbedaan
secara signifikan motivasi belajar peserta didik pada kelompok kontrol dan
eksperimen sebelum perlakuan.
Tidak ada perbedaan
secara signifikan motivasi belajar peserta didik pada kelompok kontrol dan
eksperimen sebelum perlakuan.
|
|
3.
|
H0 :
Ha :
|
Ada perbedaan
secara signifikan motivasi belajar peserta didik pada kelompok kontrol dan
eksperimen setelah perlakuan.
Tidak ada perbedaan
secara signifikan motivasi belajar peserta didik pada kelompok kontrol dan
eksperimen setelah perlakuan.
|
|
4.
|
H0 :
Ha :
|
Ada
perbedaan secara signifikan kondisi motivasi belajar peserta didik kelompok
eksperimen sebelum dan setelah diberikan perlakuan.
Tidak
ada perbedaan secara signifikan kondisi motivasi belajar peserta didik
kelompok eksperimen sebelum dan setelah diberikan perlakuan.
|
|
5.
|
H0 :
Ha :
|
Media
audiovisual berpengaruh secara signifikan terhadap motivasi belajar peserta
didik pada mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam (SKI) kelas XI di Madrasah
Aliyah Al-Hidayah Cikancung.
Media
audiovisual tidak berpengaruh secara signifikan terhadap motivasi Belajar
peserta didik pada mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam (SKI) kelas XI di
Madrasah Aliyah Al-Hidayah Cikancung.
|
G. Sistematika Pembahasan
Pada sistematika
pembahasan, penulis berpedoman kepada buku panduan penulisan skripsi STAI
Bhakti Persada Bandung 2015,
yaitu sebagai berikut:
1. BAB I Pendahuluan: Mengemukakan latar belakang penelitian,
batasan masalah, rumusan masalah penelitian, Tujuan dan manfaat penelitian baik
secara teoritis maupun secara praktis. Kemudian kerangka pemikiran mengemukan
dasar-dasar pemikiran yang mendasari penelitian secara teoritis, yang
selanjutkan dirumuskan hipotesis penelitian untuk di uji dalam analisis
penelitian sesuai dengan rumusan masalah yang telah disusun. Bab pendahuluan di
akhiri sub sistematika pembahasan yang membahas secara naratif bagian-bagian
dari karya ilmiah skripsi ini berdasarkan pedoman penulisan skripsi STAI Bhakti
Persada Bandung.
2. BAB II berisikan kajian
teoritis dari Media Audiovisual & motivasi peserta
didik mulai dari membahas landasan teologis yang bersumber dari Al-Quran dan Hadits,
membahas landasan filosofis penelitian dari pendekatan filosofis empirisme
(John Locke), dan progresivisme (John Dewey). Kemudian membahas landasan
teori yang mendasari penelitian ini yaitu teori koneksionisme
(Thorndike), teori kondisioning klasikal (Pavlov), teori kondisioning
operan (Skinner), dan teori kesempurnaan (McClelland & John Atkinson).
Bab landasan teoritis ditutup
dengan membahas beberapa konsep dasar terkait media audiovisual, dan konsep-konsep dasar tentang motivasi
belajar peserta didik.
3. BAB III berisi
prosedur penelitian yang ditempuh penulis untuk memperoleh data dan informasi
yang dapat membantu ketercapaian tujuan penelitian baik secara umum maupun
secara khusus. Pada bab ini membahas beberapa proses yaitu penetapan metode
penelitian, subjek penelitian, teknik
pengumpulan data, tahapan
pengumpulan data, dan analisa data serta interpretasi data.
4. BAB IV merupakan bab pembahasan
dan hasil temuan penelitian, bab ini
membahas gambaran kondisi lokasi penelitian, mendeskripsikan hasil temuan
penelitian, dan pembahasan hasil temuan penelitian dengan pendekatan studi
pustaka.
5. BAB V merupakan bab
penutup yang berisi tentang kesimpulan
hasil temuan penelitian dan beberapa saran terkait hasil temuan penelitian terhadap beberapa
pihak terkait. serta rekomendasi yang berisi beberapa tindakan lanjut yang
perlu menjadi bahan pertimbangan bagi beberapa pihak terkait langsung maupun
tidak dengan proses penelitian.[33]
[1] Nana Sudjana dan Ahmad Rivai, Media Pengajaran, (Bandung: Sinar Baru Algensindo, 2013). hlm. 1
[2] Sebagaimana di kutip dari Undang-Undang Sisdiknas No. 20 tahun 2003 tentang
Sistem Pendidikan Nasional, (Bandung: Citra Umbara, 2009). hlm. 60
[3] Djamaludin Darwis, Dinamika Pendidikan Islam, (Semarang:
Rasail, 2010). hlm. 91
[4] Nana Sudjana dan Ahmad Rivai, Media Pengajaran, (Bandung: Sinar Baru Algensindo, 2013). hlm. 1
[5] Sebagaimana dikutip oleh Zakiah Daradjat, dkk, dalam Metodik Khusus Pengajaran Agama Islam,
(Jakarta: Bumi Aksara, 2001). hlm. 140
[6] Sardiman, Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar,
(Jakarta: PT Rajawali Pers, 2014). hlm. 73
[7] Zakiah Daradjat, dkk, Metodik Khusus Pengajaran Agama Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 2001).
hlm. 141
[8]
Sardiman, Interaksi dan Motivasi Belajar
Mengajar, (Jakarta: PT Rajawali Pers, 2014). hlm. 75
[9] Nana Sudjana dan Ahmad Rivai, Media Pengajaran, (Bandung: Sinar Baru Algensindo, 2013). hlm. 3
[10] Ibid, hlm. 2
[11] Nana Sudjana dan Ahmad
Rivai, Teknologi Pengajaran, (Bandung:
Sinar Baru Algensindo, 2009). hlm. 58
[12] Sesuai dengan studi awal
observasi yang telah dilaksanakan pada tanggal 8 januari 2016
[13] Choirun Nisa’ dan Wahono Widodo, “Penggunaan Media
Audio Visual Dalam meningkatkan Kreativitas Dan Hasil Belajar Peserta Didik
Pada Materi Pembelajaran Membuat Aneka Lipatan Serbet (Napkin Folding), dalam e-jurnal boga, Vol. 2, No. 1, Tahun 2013,
edisi yudisium periode Februari 2013. hlm. 30”
[14] Sardiman, Interaksi
dan Motivasi Belajar Mengajar, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2011).
hlm. 83
[15] Nana Sudjana dan Ahmad Rivai, Media Pengajaran, (Bandung: Sinar Baru Algensindo, 2013). hlm. 1
[16] Sardiman, Interaksi dan Motivasi Belajar mengajar,
(Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2011). hlm. 73
[17] Anak Agung Putu Chintya Putri Suardana dan Nicholas
Simarmata, “Hubungan Antara Motivasi Belajar dan Kecemasan pada Peserta Didik
Kelas VI Sekolah Dasar di Denpasar Menjelang Ujian Nasional”, dalam Jurnal Psikologi Udayana, Vol. 1, No. 1,
2013. hlm. 205
[18] Sardiman, Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar,
(Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2011). hlm. 74
[20] Nana Sudjana dan Ahmad Rivai, Media Pengajaran, (Bandung: Sinar Baru Algensindo, 2013). hlm. 1-3
[21] Nana Sudjana dan Ahmad
Rivai, Teknologi Pengajaran, (Bandung:
Sinar Baru Algensindo, 2009). hlm. 58
[22] Choirun Nisa’ dan Wahono Widodo, “Penggunaan Media
Audio Visual Dalam meningkatkan Kreativitas Dan Hasil Belajar Peserta Didik
Pada Materi Pembelajaran Membuat Aneka Lipatan Serbet (Napkin Folding)”, dalam e-jurnal boga, Vol. 2, No. 1, Tahun 2013,
edisi yudisium periode Februari 2013. hlm. 30
[23] Abdullah bin Muhammad bin Abdurahman bin Ishaq
al-Sheikh, Tafsir Ibnu Katsir Jilid 5,
(Pustaka Imam Asy-Syafi’I, 2003). hlm. 88
[24] Ibid, hlm. 89
[27] Tita Rostitawati, “Konsep Pendidikan John Dewey”,
dalam jurnal Manajemen Pendidikan Islam, volume. 02, nomor 2, Agustus 2014.
hlm. 135
[28] Nana Sudjana dan Ahmad Rivai, Teknologi Pengajaran, (Bandung: Sinar Baru Algensindo, 2009). hlm.
37
[29] Abdul Majid Sayid Ahmad Mansur, Zakaria Ahmad
Syarbini dan Ismail Muhammad Fata, Perilaku Manusia dalam Pandangan Islam
dan Ilmu Psikologi Modern, alih bahasa: Bambang Suryadi, (Yogyakarta:
Mistaq Pustaka, 2009). hlm 139
[31] Ibid, hlm. 97
[32] Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian,(Jakarta: PT Rineka Cipta, 2010). hlm. 112
Tidak ada komentar:
Posting Komentar