LANDASAN TEORI
TENTANG MEDIA AUDIOVISUAL DAN MOTIVASI
BELAJAR
A. Landasan Teologis
Beberapa ayat yang di
jadikan landasan teologi dalam penelitian ini diantaranya:
1.
Landasan Teologi Tentang Media Audiovisual
a.
Al-Quran Surat An-Nahl [16] ayat 78:
|
ª!$#ur
Nä3y_t÷zr&
.`ÏiB
ÈbqäÜç/
öNä3ÏF»yg¨Bé&
w cqßJn=÷ès?
$\«øx©
@yèy_ur
ãNä3s9
yìôJ¡¡9$#
t»|Áö/F{$#ur
noyÏ«øùF{$#ur
öNä3ª=yès9
crãä3ô±s?
ÇÐÑÈ
|
Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak
mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati,
agar kamu bersyukur.[1]
|
Allah Subhanahu wattaalla menyebutkan berbagai anugerah
yang Dia limpahkan kepada hamba-hamba-Nya ketika mereka di keluarkan dari perut
ibunya dalam keadaan tidak mengetahui apapun. Setelah itu Dia memberikan
pendengaran yang dengannya mereka mengetahui suara, penglihatan yang dengannya
mereka dapat melihat berbagai hal, dan hati, yaitu akal yang pusatnya adalah
hati, demikian menurut pendapat yang shahih. Ada juga yang mengatakan, otak dan
akal. Allah Subhanahu wattaalla juga memberikan akal yang dengannya dia
dapat membedakan berbagai hal, yang membawa mudharat dan yang membawa manfaat.
Semua kekuatan dan indera tersebut di peroleh manusia secara berangsur-angsur,
sedikit demi sedikit. Setiap kali tumbuh, bertambahlah daya pendengaran,
penglihatan, dan akalnya hingga dewasa. Penganugerahan daya tersebut kepada
manusia di maksudkan agar mereka dapat beribadah kepada Rabb-Nya Yang
Maha Tinggi. Dia dapat meminta kepada setiap anggota tubuh dan kekuatan untuk
mentaati Rabb-Nya.[2]
Implikasinya dengan
media audiovisual, ayat ini menjelaskan tentang fungsi pendengaran dan
penglihatan untuk mendapatkan ilmu pengetahuan. Sama halnya dengan media
audiovisual yang menekankan indera pendengaran dan penglihatan dalam mencapai
tujuan belajar.
b.
Hadits Riwayat Bukhori
Hadits
tentang penggunaan media audiovisual di dalam kitab Shahih al-Bukhori, dari Abu Hurairah radiallahu anhu, dari
Rasulullah Sallallahu alaihi wassallam, beliau bersabda :
|
يَقُوْ لُ تَعَا لىَ: مَنْ عَادَى لِيْ وَلِيًَا فَقَدْ
بَارَزَنِيْ بِالْحَرْبِ، وَمَا تَقَرَّبَ إِلَىَّ عَبْدِيْ بِشَيْءٍ أَفْضَلُ
مِنْ أَدَاءٍ مَـا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ وَلاَ يَزَالُ عَبْدِيْ يَتَقَرَّبَ
إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ، فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ
الَّذِيْ يَسْمَعُ بِهِ وَبَصَرَهُ الَّذِيْ يُبْصِرُ بِهِ وَيَدَهُ الَّتِيْ
يَبْطِشُ بِهَا وَرِخْلَهُ الَّتِيْ يَمْشِيْ بِهَا وَلَئِنْ سَأَلَنِيْ
لأُعْطِيَنَّهُ وَلَئِنْ دَعَـانِيْ لأُجِيْبَنَّهُ وَلَئِنِ اسْتَعَاذَ بِيْ
لأُ عِيْذَنَّهُ، وَمَا تَرَدَّدْتُ فِيْ شَيْءٍ أَنَ فَاعِلُهُ تَرَدُّدِى فِيْ
قَبْضِ نَفْسٍ عَبْدِى الْمُؤْمِنِ يَكْرَهُ المَوْتَ وَأُكْرَهُ مَسَاءَ تُهُ وَلاَبُدَّ لَهُ مِنْهُ.
|
Allah Ta’alla berfirman: barang siapa yang telah
memusuhi wali-Ku berarti dia telah menyatakan perang dengan terang-terangan
kepada-Ku. Dan tidaklah seorang hamba mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu
yang lebih baik daripada pelaksanaan apa yang telah Aku wajibkan kepadanya. Dan
hamba-Ku masih terus mendekatkan diri kepada-ku dengan amalan-amalan nafilah (sunnah) sehingga Aku mencintainya.
Jika aku mencintainya, maka Aku akan menjadi pendengarannya yang dengannya dia
mendengar, penglihatannya yang dengannya dia melihat, tangannya yang dengannya
dia memegang, dan kakinya yang dengannya dia berjalan. Jika meminta kepada-ku
maka Aku pasti akan memberinya, dan jika berdoa kepada-Ku, Aku pasti
mengabulkannya, jika memohon perlindungan kepada-Ku, Aku pasti akan
melindunginya. Aku tidak pernah ragu terhadap sesuatu yang Aku akan
melakukannya. Keraguan-Ku adalah, pada pencabutan nyawa seorang mukmin yang
tidak menyukai kematian dan Aku tidak ingin menyakitinya, sedang kematian itu
merupakan suatu keharusan baginya.”(HR. Bukhori)
Makna hadits
diatas adalah jika seorang hamba telah mengikhlasan ketaatan, maka seluruh amal
perbuatannya hanya untuk Allah Subhanahu wattaalla, sehingga dia tidak
mendengar kecuali karena Allah dan tidak melihat apa yang telah disyariatkan
Allah kepadanya melainkan hanya karena Allah semata, tidak memegang dan tidak
pula berjalan melainkan dalam rangka mentaati Allah Subhanahu wattaalla.
Seraya memohon pertolongan kepada-Nya dalam melakukan semuanya itu. Karena
semuanya itu dalam beberapa riwayat hadits selain yang shahih, disebutkan dalam
firman Allah, dan kakinya yang dengannya dia berjalan, “Dengan-Ku dia
mendengar, dengan-Ku pula dia melihat, dengan-Ku dia memegang, dan dengan-Ku
pula dia berjalan”. Oleh karena itu, Allah Subhanahu wattaalla
berfirman, “Dan Dia memberi kamu pendengaran, pengliahatn dan hati, agar kamu
bersyukur”.[3]
Implikasi
dengan media audiovisual, media audiovisual merupakan media pembelajaran yang
menekankan indera pendengaran dan pandangan. Dalam hadits ini dijelaskan
tentang peran atau fungsi media pendengaran dan penglihatan sebagai alat atau
media untuk memperoleh sesuatu, terutama untuk memperoleh ilmu pengetahuan. Ini
sangat sesuai dengan peran media audiovisual yang dapat di gunakan sebagai
media belajar yang baik untuk mendapatkan ilmu pengetahuan.
2.
Landasan Teologi Tentang Motivasi Belajar Peserta Didik
a.
Al-Quran Surat Al-Mujadilah [58] ayat 11 :
|
$pkr'¯»t
tûïÏ%©!$#
(#þqãZtB#uä
#sÎ)
@Ï%
öNä3s9
(#qßs¡¡xÿs?
Îû
ħÎ=»yfyJø9$#
(#qßs|¡øù$$sù
Ëx|¡øÿt
ª!$#
öNä3s9
( #sÎ)ur
@Ï%
(#râà±S$#
(#râà±S$$sù
Æìsùöt
ª!$#
tûïÏ%©!$#
(#qãZtB#uä
öNä3ZÏB
tûïÏ%©!$#ur
(#qè?ré&
zOù=Ïèø9$#
;M»y_uy
4 ª!$#ur
$yJÎ/
tbqè=yJ÷ès?
×Î7yz
ÇÊÊÈ
|
Hai orang-orang yang beriman,
apabila di katakan kepadamu “Berlapang-lapanglah dalam majlis.” Maka
lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila di
katakan “Berdirilah kamu.” Maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan
orang-orang yang beriman di antaramu, dan orang-orang yang diberi ilmu
pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.[4]
Berkenaan dengan turunnya ayat tersebut dapat diikuti keterangan yang
diberikan oleh Ibn Abi Khatim. Menurut riwayatnya yang diterima dari Muqatil
bin Hibban, bahwa pada suatu ketika di hari jumat Rasulullah berada di suatu
tempat yang sempit, saat mana ia tengah menerima tamu dari penduduk Badar dari
kalangan Muhajirin dan Anshar, tiba-tiba sekelompok seorang yang ada di
dalamnya termasuk Tsabit bin Qais datang dan ingin duduk di bagian depan tempat
tersebut. Mereka berdiri memuliakan Rasulullah, dan mengucapkan salam
kepadanya. Nabi menjawab salam sekelompok orang tersebut, dan juga kelompok
tersebut menjawab salam yang lainnya. Mereka berdiri disampingnya dan menunggu
agar diberikan tempat yang agak luas. Namun orang yang dating terdahulu tetap
tidak memberikan peluang. Kejadian tersebut kemudian mendorong Rasulullah
mengambil inisiatif dan berkata sebagian orang yang ada disekitarnya,
berdirilah kalian, berdirilah kalian. Kemudian berdirilah sebagian kelompok
tersebut berdekatan dengan orang yang datang terdahulu, sehingga Rasulullah
tampak menunjukan kekecewaannya di hadapan mereka. Dalam keadaaan demikian itulah
ayat tersebut diturunkan.[5]
Qatadah mengatakan: “Ayat ini turun berkenaan dengan majelis-majelis
dzikir. Yaitu, jika mereka melihat salah seorang diantara mereka datang, maka
mereka tidak memberikan peluang untuk duduk didekat Rasulullah Sallallahu
alaihi wassallam. Kemudian Allah Subhanahu wattaalla menyuruh mereka
memberikan kelapangan sesama mereka.” Sedangkan Muqatil bin Hayyan berkata:
“Ayat ini diturunkan pada hari jum’at.”[6]
Firman Allah Ta’alla, “Allah akan
meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu, dan orang-orang yang diberi
ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu
kerjakan.” Maksudnya, bahwa Allah akan mengangkat orang-orang mukmin yang
melaksanakan segala perintah-Nya dan perintah Rasul-Nya dengan memberikan
kedudukan khusus, baik dari segi pahala maupun keridlaan-Nya.
Singkatnya bahwa setiap orang mukmin dianjurkan agar memberikan kelapangan
kepada sesama kawannya ketika berada di majelis, ketika kawannya itu datang
belakangan; atau apabila dianjurkan agar keluar meninggalkan majelis, maka
segera tinggalkanlah tempat itu, dan jangan ada prasangka bahwa perintah
tersebut akan menghilangkan haknya, melainkan merupakan kesempatan yang dapat
menambah kedekatan pada Tuhannya, karena Allah tidak akan menyia-nyiakan setiap
perbuatan yang dilakukan hamba-Nya, melainkan akan diberikan balasan yang
setimpal di dunia dan akhirat. Sedangkan potongana ayat “Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” Maksudnya bahwa
Allah mengetahui setiap perbuatan yang baik dan buruk yang dilakukan hamba-Nya,
dan akan membalasnya amal tersebut. Orang yang baik di balas dengan kebaikan.
Demikian pula orang yang berbuat buruk di balas buruk, atau di ampuninya.[7]
Implikasinya dengan motivasi belajar, ayat ini mengatakan Allah Subhanahu
wattaalla mengangkat setiap manusia yang berilmu beberapa derajat. Ini
jelas merupakan sebuah motivasi agar manusia senantiasa mencari ilmu sedalam
mungkin karena dengan ilmu Allah menjanjikan mengangkat derajat manusia.
b.
Hadits Riwayat Bukhori
|
بَاب الْعِلْمُ قَبْلَ الْقَوْلِ
وَالْعَمَلِ لِقَوْلِ اللَّهِ تَعَالَى{فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا
اللَّهُ}فَبَدَأَ بِالْعِلْمِ وَأَنَّ الْعُلَمَاءَ هُمْ وَرَثَةُ
الْأَنْبِيَاءِ وَرَّثُوا الْعِلْمَ مَنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ
وَمَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَطْلُبُ بِهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ طَرِيقًا
إِلَى الْجَنَّةِ وَقَالَ جَلَّ ذِكْرُهُ{إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ
عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ}وَقَالَ{وَمَا يَعْقِلُهَا إِلَّا
الْعَالِمُون}{وَقَالُوا لَوْ كُنَّا نَسْمَعُ أَوْ نَعْقِلُ مَا كُنَّا فِي
أَصْحَابِ السَّعِيرِ}وَقَالَ{هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ
لَا يَعْلَمُونَ}وَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ
يُرِدْ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ وَإِنَّمَا الْعِلْمُ
بِالتَّعَلُّمِ وَقَالَ أَبُو ذَرٍّ لَوْ وَضَعْتُمْ الصَّمْصَامَةَ عَلَى
هَذِهِ وَأَشَارَ إِلَى قَفَاهُ ثُمَّ ظَنَنْتُ أَنِّي أُنْفِذُ كَلِمَةً
سَمِعْتُهَا مِنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَبْلَ أَنْ
تُجِيزُوا عَلَيَّ لَأَنْفَذْتُهَا وَقَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ{كُونُوا
رَبَّانِيِّينَ}حُلَمَاءَ فُقَهَاءَ وَيُقَالُ الرَّبَّانِيُّ الَّذِي يُرَبِّي
النَّاسَ بِصِغَارِ الْعِلْمِ قَبْلَ كِبَارِهِ [رواه البخاري]
|
Berdasarkan firman Allah Subhanahu
Wattaalla maka ketahuilah bahwa sesungguhnya ialah Allah tiada Tuhan selain
Dia, maka segalanya bermula dengan ilmu, dan sesungguh nya para ulama itu
pewaris (ilmu) para Nabi Sallallahu alaihi wasallam yang berusaha
memperolehnya maka ia memang sangat bertuah memperolehnya, dan barang siapa
yang memperoleh dan barang siapa yang berjalan untuk menuntut ilmu niscaya
Allah akan memudahkan baginya jalan menuju ke surga, seperti juga firman Allah:
“sesungguhnya mereka yang benar-benar takut kepada Allah adalah dikalangan hamba-hamba-Nya
yang berilmu berbanding dengan orang-orang yang tak berilmu? Dan Nabi Sallallahu
alaihi wasallam bersabda, siapa yang ingin mengkaruniakan kebaikan
untuknya, maka akan diberikan peluang untuknya mendalami ilmu untuk mengetahui
agama dan sesungguh nya ilmu itu ditimba dengan menuntutnya, Ibnu Abbas
berkata: jadilah kamu pendidik yang penyantun, ahli fiqih, dan ahli ilmu,
disebut pendidik bila seseorang telah mendidik manusia dengan ilmunya
sedikit-sedikit lama kelamaan banyak”.(Hadits Riwayat Bukhari)[8]
Hadits di atas menjelaskan bahwa bagi siapa yang menuntut ilmu Allah akan
mempermudahkan baginya jalan ke surga. Seorang pendidik yang telah mendidik
manusia ilmunya semakin bertambah. Dan bagi siapa yang menuntut ilmu maka di mudahkan
jalannya masuk ke surga.
Islam memberikan perhatian dan
penghargaan yang besar terhadap masalah ilmu, orang-orang yang menuntut ilmu (tholabul
ilmi) dan para ahlinya (orang-orang yang berilmu:ulama). Dalam konsepsi
Islam orang berilmu itu berbeda dengan orang yang tidak berilmu, di katakan
bahwa orang yang berilmu itu lebih baik dan lebih terhormat dari pada orang
yang tidak memiliki ilmu (bodoh).[9]
Implikasi dengan motivasi belajar, hadits ini berisi penjelasan tentang
kewajiban manusia untuk menuntut ilmu, dan juga memotivasi manusia agar terus
senantiasa menimba ilmu karena dengan ilmu Allah akan memudahkannya jalan
menuju surga.
B. Landasan Filosofis
Filsafat secara etimologi berasal dari bahasa Yunani
yaitu philosophia - philien atau juga bahasa Arab, yaitu falsafah:
cinta dan sophia: kebijaksanaan. Filsafat sebagai sejenis pengetahuan yang
menyelidiki segala sesuatu dengan mendalam mengenai ketuhanan, alam semesta,
dan manusia sehingga dapat menghasilkan pengetahuan tentang bagaimana
hakikatnya sejauh yang dapat dicapai akal manusia dan bagaimana sikap manusia
itu seharusnya setelah mencapai pengethuan itu.[10] Dalam penelitian ini ada beberapa aliran filsafat yang berkaitan
dengan judul, diantaranya aliran empirisme, dan aliran progresivisme.
- Filsafat Empirisme Tentang Pendidikan (John Locke)
Landasan filosofis dalam
penelitian ini mengacu pada filsafat Empirisme. John Locke adalah seorang
filosof empiris. Bagi dia, empiris (empirie, experience) atau pengalaman
adalah sumber semua pengetahuan. Dalam bidang pendidikan, ia mengajarkan
pengamatan gejala-gejala psikis. John Locke menganut paham tabula rasa, teori
kertas putih, kertas tidak bertulis. Menurutnya, segala sesuatu yang ada dalam
pikirannya berasal dari pengalaman inderawi, tidak dari akal budi. Otak (dan
juga jiwa) seperti sehelai kertas yang masih putih, kosong dan pasif. Melalui
pengalaman inderawilah helai-helai kertas itu diisi. Artinya, pengamatan dengan
pancaindera akan mengisi jiwa dengan kesan-kesan (sensation) yang dengan jalan sintesis, analisis dan perbandingan
di olah menjadi pengetahuan (reflexion).[11]
Empirisme adalah suatu
doktrin filsafat yang menekankan peranan pengalaman dalam memperoleh
pengetahuan dan mengecilkan peranan akal.[12] Salah satu tokoh empirisme yang terkenal pada abad ke 17 adalah David Hume (1711-1776). Pemikiran empirisnya
terakumulasi dalam ungkapannya yang singkat yaitu I never catch my self at
any time with out a perception (saya selalu memiliki persepsi pada
setiap pengalaman saya). Hume dalam ungkapan ini menyampaikan bahwa seluruh pemikiran
dan pengalaman tersusun dari rangkaian-rangkaian kesan (impression). Pemikiran
ini lebih maju selangkah dalam merumuskan bagaimana sesuatu pengetahuan
terangkai dari pengalaman, yaitu melalui suatu institusi dalam diri manusia (impression,
atau kesan yang di sistematiskan) dan kemudian menjadi pengetahuan. Di samping
itu, pemikiran Hume ini merupakan usaha analisis agar empirisme dapat di rasionalkan
terutama dalam pemunculan ilmu pengetahuan yang di dasarkan pada pengamatan
(observasi) dan uji coba (eksperimentasi), kemudian menimbulkan kesan,
pengertian-pengertian dan akhirnya pengetahuan.
Hume melakukan pembedaan antara kesan dan ide. Kesan merupakan penginderaan
langsung atas realitas lahiriah, sementara ide adalah ingatan atas kesan-kesan.
Menurutnya, kesan selalu muncul lebih dahulu, sementara ide sebagai pengalaman
langsung tidak dapat diragukan. Dengan kata lain, karena ide merupakan ingatan
atas kesan-kesan, maka isi pikiran manusia tergantung kepada aktivitas
inderanya. Kesan maupun ide, menurut Hume, dapat sederhana maupun kompleks
Sebuah ide sederhana merupakan perpanjangan dari kesan sederhana. Begitu pula
ide kompleks merupakan kelanjutan dari kesan kompleks. Tapi, dari ide kompleks
dapat diturunkan menjadi ide sederhana.[13]
Alasan peneliti menggunakan filsafat empirisme karena empirisme
menekankan pengalaman inderawi sebagai sumber pengetahuan, yaitu melalui suatu
institusi dalam diri manusia (impression, atau kesan yang di sistematiskan)
dan kemudian menjadi pengetahuan, kesan tersebut dapat di peroleh melalui
penggunaan media audiovisual karena media ini menekankan pengalaman inderawi
yaitu pendengaran dan pandangan untuk memperoleh pengetahuan.
- Filsafat Progresivisme
Tentang Pendidikan (John Dewey)
Pendidikan dalam aliran progressivisme ini muncul adalah sebagai oposisi atas pendidikan model tradisional
di Amerika Serikat, sekitar tahun
1800-an.[14]
Progresivisme adalah suatu bangunan filsafat atau aliran
filsafat yang berdiri sendiri, melainkan merupakan
suatu gerakan dan perkumpulan yang didirikan pada tahun 1918. Gerakan progresif
terkenal luas karena reaksinya terhadap formalisme dan sekolah tradisional yang membosankan,
yang menekankan disiplin keras, belajar pasif, dan banyak hal-hal kecil yang
tidak bermanfaat dalam pendidikan. Lebih jauh gerakan ini dikenal karena dengan
himbauannya kepada pendidik: “kami mengharapkan perubahan, serta kemajuan yang
lebih cepat setelah perang dunia pertama”. Banyak pendidik yang mendukungnya,
sebab gerakan pendidikan progresivisme merupakan semacam kendaraan mutakhir
untuk digelarkan. Beberapa tokoh dalam aliran ini : George Axtelle,
william O. Stanley, Ernest Bayley, Lawrence B. Thomas, Frederick C. Neff.[15]
John Dewey adalah seorang tokoh
pendidikan, lahir di Burlington
Amerika pada tanggal 20 Oktober
tahun 1859 M, Setelah menyelesaikan studinya di Baltimore, ia menjadi guru besar dalam bidang filsafat dan kemudian dalam bidang
pendidikan pada beberapa universitas.[16]
Progresivisme sebagai aliran
pendidikan ditopang oleh filsafat sosial
John Dewey, yang menghendaki implementasi sosial dalam dunia pendidikan. Gerakan pendidikan progresivisme
di satu pihak hadir sebagai protes,
dan di pihak lain sebagai visi atau pandangan. Awal mulanya, aliran ini hadir sebagai protes terhadap
pendidikan yang bersifat otoriter, resimentasi pemikiran, standarisasi metode
pendidikan yang ditetapkan oleh psikologi pendidikan (metode latihan dan
disiplin formal). Semulanya, pendidikan progresivisme melaksanakan pendidikan
yang berpusat pada anak dalam kehidupan riil. Mereka menganjurkan
prosedur pendidikan yang berdasarkan dorongan tumbuh kodrati dari dalam,
perkembangan pribadi secara merdeka, dan minat spontan anak.[17]
Dasar pemikiran dari
pendekatan filosofis progresivisme
adalah pengetahuan yang benar pada masa kini mungkin tidak benar di masa
mendatang. Karenanya cara terbaik mempersiapkan peserta didik untuk suatu masa
depan yang tidak diketahui adalah membekali mereka dengan strategi-strategi
pemecahan masalah yang memungkinkan mereka mengatasi tantangan baru dalam
kehidupan untuk menemukan kebenaran kebenaran yang relevan pada saat ini.[18]
John Dewey berpandangan bahwa progresivisme menekankan pengalaman indera,
belajar sambil bekerja, dan mengembangkan intelegensi, sehingga anak dapat menemukan dan
memecahkan masalah yang dihadapi.[19] Keberhasilan
pendidikan bagi Dewey terletak
pada partisipasi setiap individu yang didukung oleh kesadaran umum masyarakat.[20] Perkembangan zaman yang ditopang oleh
kemajuan ilmu dan teknologi dalam tatanan masyarakat membutuhkan kemajuan dalam
pendidikan itu pula. Untuk menjawab persoalan inilah yang menjadi dasar
pemikiran dari pendidikan model filsafat progressivisme ini.[21]
Berdasarkan pembahasan diatas,
progresivisme mengharapkan adanya perubahan pada proses pembelajaran dari
pembelajaran tradisional seperti hafalan, dikte, mencatat di buku, dll. Ke arah
yang lebih maju dan sesuai kemajuan jaman dan ilmu teknologi agar tidak terjadi
kejenuhan dalam belajar. Maka jelas kaitannya dengan penggunaan media
audiovisual dalam pengaruhnya untuk meningkatkan motivasi belajar peserta
didik, karena dalam hal ini di gunakannya sebuah media belajar yang lebih
modern karena dengan media audiovisual sesuatu yang abstrak akan nampak lebih
nyata dan akan mempermudah dalam memecahkan suatu masalah.
C. Landasan Teoritis
Teori
merupakan sebuah penjelasan umum tentang berbagai pengamatan yang dibuat
seiring dengan berjalannya waktu, teori menjelaskan dan meramalkan timbulnya
perilaku, suatu teori tidak bisa dibangun diatas keragu-raguan, suatu teori
dapat diubah, dimodifikasi.[22]
1.
Teori Koneksionisme (connectionism)
Teori koneksionisme (connectionism)
adalah teori yang ditemukan dan dikembangkan oleh Edward L. Thorndike
(1874-1949) berdasarkan eksperimen yang ia lakukan pada tahun 1890-an.
Eksperimen Thorndike ini menggunakan hewan-hewan terutama kucing untuk
mengetahui fenomena belajar.
Seekor kucing yang lapar ditempatkan dalam sangkar berbentuk
kotak berjeruji yang dilengkapi dengan peralatan, seperti pengungkit, gerendel
pintu, dan tali yang menghubungkan pengungkit dengan gerendel tersebut.
Peralatan ini ditata sedemikian rupa sehingga memungkinkan kucing tersebut
memperoleh makanan yang tersedia di depan sangkar tadi.
Keadaan bagian dalam sangkar yang disebut puzzle box (peti teka-teki) itu
merupakan situasi stimulus yang merangsang kucing untuk bereaksi melepaskan
diri dan memperoleh makanan yang ada di muka pintu. Mula-mula kucing tersebut
mengeong, mencakar, melompat, dan berlari-larian, namun gagal membuka pintu
untuk memperoleh makanan yang ada di depannya. Akhirnya, entah bagaimana,
secara kebetulan kucing itu berhasil menekan pengungkit dan terbukalah pintu
sangkar tersebut.[23] Hasil pengamatan
Thorndike atas tingkah laku kucing itu dapat dicatat bahwa:
a.
Pada dasarnya kucing
bertingkah laku tanpa tujuan (gamak dan galat).
b.
Kucing membuat tanggapan
yang tepat atas kejadian (harapan berhasil).
c.
Kucing diberi upah dengan
makanan yang memuaskan.[24]
Apabila kita perhatikan
dengan seksama, dalam eksperimen Thorndike tadi akan kita dapati dua hal pokok
yang mendorong timbulnya fenomena belajar. Pertama, keadaan kucing yang lapar.
Seandainya kucing itu kenyang sudah tentu tidak akan berusaha keras untuk keluar.
Bahkan, barangkali ia akan tidur saja dalam puzzle
box yang mengurunganya. Dengan kata lain, kucing itu tidak kan menampakan
gejala belajar untuk keluar. Sehubungan dengan hal ini, hamper dapat dipastikan
bahwa motivasi (seperti rasa lapar) merupakan hal yang sangat vital dalam
belajar. Kedua, tersedianya makan di muka pintu puzzle box. Makanan ini merupakan efek positif atau memuaskan yang
dicapai oleh respons dan kemudian menjadi dasar timbulnya hokum belajar yang di
sebut law of effect. Artinya , jika
sebuah respons menghasilkan efek yang memuaskan, hubungan antara stimulus
dengan respons akan semakin kuat. Sebaliknya, semakin tidak memuaskan
(menggangu) efek yang dicapai respons, semakin lemah pula hubungan stimulus dan
respons tersebut.[25]
Edward L. Thorndike juga menyatakan
bahwa belajar adalah pembentukan asosiasi atau koneksi antara kesan-kesan
pancaindera dengan kecenderungan untuk bertindak. Thorndike mengemukakan tiga
hukum belajar, yakni :
a. Hukum Kesiapaan (law of
readiness)
Berdasarkan hukum kesiapan, kegiatan belajar hanya akan
terjadi apabila individu telah matang atau siap menerima stimulus. Kesiapan ini
bergantung pada perkembangan dan kebutuhannya. Oleh sebab itu, teknologi dalam pembelajaran
harus disesuaikan dengan tingkat perkembangan dan kebutuhan anak didik.
b. Hukum Latihan (law of
exercise)
Hukum ini mengandung makna bahwa belajar memerlukan
latihan-latihan yang teratur. Asumsinya adalah, semakin sering diulang, semakin
kuat hubungan antara stimulus dan respons.
c. Hukum Efek (law of effect)
Hukum ini artinya ialah hubungan stimulus respons akan semakin kuat
apabila menghasilkan kesenangan dan kepuasan. Hadiah atau reward biasanya merupakan salah satu cara dalam penggunaan hukum
penguatan.[26]
Kemampuan berpikir manusia
dipengaruhi oleh dua faktor, yaitu faktor intern dan faktor ekstern. Yang
dimaksud dengan faktor intern ialah intelegensi/kecerdasan dan kemampuan lain
yang dimiliki setiap individu sebagai modal awal untuk mengembangkan kemampuan
atau pengetahuannya. Thorndike menitik beratkan intelegensi sebagai kesanggupan
untuk merespon yang baik sesuai fakta yang dihadapi. Sedangkan faktor ekstern
adalah pengaruh dari luar individu yaitu orang lain atau lingkungan yang dapat
mempengaruhi kemampuan berpikir seseorang.[27]
2.
Teori Kondisioning Klasikal (classical
conditioning)
Teori kondisioning
klasikal (classical conditioning) dari
Pavlov, teori ini berpendapat bahwa tingkah laku dibentuk melalui pengaturan
dan manipulasi stimulus dalam lingkungan. Proses pembentukan tingkah laku
tersebut disebut proses pengondisian. Dalam terori ini tekanan utamanya
terdapat pada pengaturan stimulus, sedangkan dalam teori koneksionisme tekanan
utamanaya ada pada pengaturan respons. Oleh sebab itu, teori kondisioning
klasikal disebut tipe stimulus (S-type
theory), sedangkan teori koneksionisme disebut R-type theory. Oleh sebab itu, dalam teori kondisioning klasikal,
memberikan pancingan dan dorongan stimulus belajar merupakan faktor penting
agar dapat menimbulkan respons sehingga terjadi proses perubahan tingkah laku.[28]
Dalam eksperimennya,
Pavlov menemukan bahwa apabila suatu perangsang seperti bunyi lonceng
(perangsang bersyarat) dibunyikan pada waktu makan (perangsang tak bersyarat)
membuat liur anjing lapar itu meleleh menanggapi suara lonceng tersebut.[29]
3.
Teori Kondisioning Operan (operant
conditioning)
Operant adalah
suatu tanggapan yang beroperasi pada lingkungan dan instrumen untuk mencapai
penguatan.[30]
Teori pembiasaan perilaku (operant
conditioning) ini merupakan teori belajar yang berusia paling muda dan
masih sangat berpengaruh dikalangan para ahli psikologi belajar masa kini.
Penciptanya bernama Burrhus Frederic Skinner (lahir tahun 1904), seorang penganut
behaviorisme yang dianggap kontraversial.[31]
Teori Kondisioning Operan dari Skinner sebenarnya merupakan
kombinasi dari kedua teori diatas, terutama sekali dari teori Pavlov dan
Watson. Perbedaannya, Skinner membedakan dua macam respons, yakni respondent response (reflexive) dan
operant response (instrumental response). Respondent
response adalah respons yang secara alami timbul karena rangsangan yang
sesuai dengan stimulus tersebut (eliciting
stimulus), sedangkan operant response
adalah respons yang timbul dan perkembangannya diikuti oleh stimulus tertentu
yang dapat memperkuat terjadinya respons (reinforcing
stimulus). Berdasarkan konsep ini maka dikembangkan sistem pembelajaran
yang dikenal dengan itilah modifikasi tingkah laku dengan elemen utamanya
hadiah dan hukuman. Prosedur yang ditempuh adalah:
a.
Menentukan jenis tingkah
laku yang di kehendaki (tujuan).
b.
Menganalisis komponen
tingkah laku yang mendarai tingkah laku yang di kehendaki.
c.
Mengidentifikasi hadiah (reinforcer) yang sesuai untuk setiap
komponen.
d.
Melaksanakan pembentukan
tingkah laku sesuai dengan urutan yang telah ditentukan.
Salah satu bentuk pembelajaran yang dikembangkan dari teori
skinner adalah pembelajaran berprogram dan mesin pembelajaran.[32] Dalam salah satu
eksperimennya, Skinner menggunakan seekor tikus yang ditempatkan dalam sebuah
peti yang kemudian terkenal dengan nama “Skinner
Box”. Peti sangkar ini terdiri atas dua macam komponen pokok, yakni:
manipulandum dan alat pemberi reinforcement
yang antara lain berupa wadah makanan. Manipulandum
adalah komponen yang dapat di manipulasi dan gerakannya berhubungan dengan reinforcement.
Komponen ini terdiri atas tombol, batang jeruji, dan pengungkit.
Pada eksperimen tadi mula-mula tikus itu mengeksplorasi peti
sangkar dengan cara lari kesana kemari, mencium benda-benda yang ada di
sekitarnya, mencakar dinding, dan sebagainya. Aksi-aksi ini disebut “emitted behavior” (tingkah laku yang
terpancar), yakni tingkah laku yang terpancar dari organisme tanpa
memperdulikan stimulus tertentu. Kemudian pada gilirannya, secara kebetulan
salah satu emitted behavior tersebut
(seperti cakaran kaki depan atau sentuhan moncong) dapat menekan pengungkit.
Tekanan pengungkit ini mengakibatkan munculanya butiran-butiran makanan kedalam
wadahnya.
Butiran-butiran makanan yang muncul itu merupakan reinforce
bagi penekanan pengungkit. Penekanan pengungkit inilah disebut tingkah laku
operant yang akan terus meningkat apabila di iringi dengan reinforcement, yakni penguatan berupa butiran-butiran makanan yang
muncul pada wadah makanan.
Berdasarkan teori-teori di atas, maka penulis menyimpulkan
bahwa dalam upaya membentuk tingkah laku peserta didik yang di harapkan dalam
pendidikan perlu adanya stimulus dan respons untuk membantu meningkatkan
motivasi belajar peserta didik, dengan penggunaan media audiovisual maka di
harapkan mampu meningkatkan motivasi belajar peserta didik dalam halnya
mencapai tujuan pembelajaran. Mekanisme hubungan stimulus dan respons inilah memunculkan
suatu aktivitas.
4. Teori Motivasi Kesempurnaan McClelland dan John Atkinson
Menurut teori Atkinson dan McClelland untuk menghitung
faktor-faktor yang mempunyai andil dalam sebuah aktivitas yang cemerlang,
perilaku yang membuahkan hasil, Atkinson dan McClelland menyatakan ada dua
faktor khusus bagi seorang individu dan dua faktor khusus untuk perbuatan yang
hendak dilakukan. Dua faktor khusus bagi individu yaitu: a) Dorongan untuk
berhasil sempurna. b) Takut gagal.
Kedua faktor ini merupakan faktor yang biasanya seorang
motivator akan menyampaikan sebuah motivasinya dan menggambarkan sebuah
keberhasilan dalam suatu pencapaian pekerjaan dengan dorongan yang kuat dan
menganalogikan atau menggambarkan setiap kisah sukses yang pernah dialaminya,
sehingga ketakutan akan sebuah kegagalan bisa dihindarkan oleh setiap orang
yang ingin melakukan pekerjaan sesulit apapun. Adapun faktor khusus untuk
perbuatan yang hendak dilakukan antara lain:
a.
Kemampuan yang tinggi
karena potensi yang dimiliki.
b.
Kemampuan yang rendah
karena potensi yang dimiliki.
Kedua faktor kemampuan yang khusus tersebut biasanya menjadi
faktor yang mempengaruhi terhadap perbuatan yang hendak dilakukan, Atkinson dan
McClelland menyatakan bahwa jika kecenderungan utnuk berhasil lebih besar dari
kecenderungan untuk menjauhi kegagalan maka disana terjadi pengutamaan
pekerjaan-pekerjaan sederhana yang sulit, dan secara penafsirannya orang-orang
yang memiliki motivasi tinggi adalah orang-orang yang realistis. Setiap
pekerjaan sesulit apapun akan bisa ditempuh dan dilaluinya selama motivasi
untuk berhasil tertanam dalam jiwanya.[33]
Berdasarkan pengertian teori diatas, penulis menyimpulkan bahwa
motivasi peserta didik akan muncul apabila dilandasi dengan kemauan atau dorongan-dorongan
yang kuat untuk membuatnya bertindak, baik itu dorongan dari luar (ekstern)
ataupun dorongan dari dalam (intern).
D.
KONSEP DASAR
1.
Media Audiovisual dalam Pembelajaran
a. Pengertian Media Audiovisual
Kata “media”, bentuk jamak
dari kata medium, bersal dari bahasa
Latin yang secara harfiah memiliki arti perantara atau pengantar. Media
merupakan perantara atau pengantar pesan dari pengirim ke penerima pesan.[34] Sementara media pembelajaran
adalah alat perlengkapan mengajar untuk melengkapi pengalaman belajar bagi pendidik.
Dalam menggunakan media mengajar ini, pendidik hendaklah selalu mengingat bahwa
tujuan utama menggunakan media tersebut adalah mendekatkan peserta didik kepada
kenyataan. Media itu ada yang berupa alat-alat yang dicetak dan alat-alat
elektronik yang di gunakan untuk menyampaikan isi pelajaran. Alat-alat tercetak
seperti buku, majalah, dan buletin telah lama dipergunakan pendidik sebagai
media mengajar utama. Akan tetapi sekarang alat audiovisual telah dipergunakan pula oleh pendidik.[35]
Audio yaitu bahan yang
mengandung pesan dalam bentuk auditif (pita suara atau piringan suara), yang
dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian dan kemuan peserta didik,
sehingga terjadi proses belajar mengajar.[36]
Visual yaitu setiap
gambar, model, benda, atau alat-alat lain yang memberikan pengalaman visual
yang nyata kepada peserta didik.[37]
Media Audiovisual dalam
pembelajaran bermakna sejumlah peralatan yang di gunakan oleh pendidik dalam
menyampaikan konsep, gagasan, dan pengalaman yang di tangkap oleh indera
pandang dan pendengaran. Penekanan utama dalam pembelajaran audiovisual adalah
pada nilai belajar yang di peroleh melalui pengalaman kongkret, tidak hanya di
dasarkan atas kata-kata belaka.[38]
b.
Prinsip-Prinsip Penggunaan
Media Audiovisual
Memilih media untuk kepentingan pembelajaran sebaiknya
memperhatikan kriteria-kriteria sebagai berikut :
1) Ketepatannya dengan tujuan pembelajaran. Artinya media pembelajaran
dipilih atas dasar tujuan-tujuan instruksional yang telah ditetapkan. Yang
berisikan unsur pemahaman, aplikasi, analisis, sintesis lebih memungkinkan di
gunakannya media pembelajaran.
2) Dukungan terhadap isi bahan pelajaran, artinya bahan pelajaran
yang sifatnya fakta, prinsip, konsep, dan generalisasi sangat memerlukan
bantuan media agar lebih mudah dipahami peserta didik.
3) Kemudahan memperoleh media, artinya media yang diperlukan mudah di
peroleh, setidak-tidaknya mudah dibuat oleh pendidik pada waktu mengajar. Media
grafis umumnya dapat dibuat pendidik tanpa biaya yang mahal, disamping
sederhana dan praktis penggunaannya.
4) Keterampilan pendidik dalam penggunaannya, apapun jenis media
yang diperlukan syarat utama adalah pendidik dapa menggunakannya dalam proses pembelajaran.
Nilai dan manfaat yang di harapkan bukan pada medianya, tetapi dampak dari
penggunaan oleh pendidik pada saat terjadinya interaksi belajar peserta didik
dengan lingkungannya. Adapun OHP, proyeksi film, komputer, dan alat canggih
lainnya, tidak mempunyai arti apa-apa bila pendidik tidak dapat menggunakannya
dalam pembelajaran untuk mempertinggi kualitas pembelajaran.
5) Tersedianya waktu untuk menggunakannya, sehingga media tersebut
dapat bermanfaat bagi peserta didik selama pembelajaran berlangsung.
6)
Sesuai dengan taraf
berpikir peserta didik, memilih media untuk pendidikan dan pembelajaran harus
sesuai dengan taraf berpikir peserta didik, sehingga makna yang terkandung di
dalamnya dapat dipahami oleh para peserta didik.[39]
c.
Jenis Media Audiovisual
Media audiovisual dibagi menjadi dua macam, yaitu:
1) Audiovisual Diam, yaitu media yang menampilkan suara dan gambar
diam. Seperti film bingkai suara, dan cetak suara.
2) Audiovisual Gerak, yaitu media yang menampilkan unsur suara dan
gambar yang bergerak. Seperti film suara dan video cassette. [40]
d. Indikator Media
Audiovisual
Indikator dari penggunaan
media audiovisual ini diantaranya:
1)
Proses belajar mengajar di
dalam kelas akan lebih menarik.
2) Media yang bersifat interaktif.
3) Akan memunculkan kreativitas peserta didik.
4) Hasil belajar peserta didik akan lebih baik.
5) Peserta didik lebih mudah dalam memahami materi yang di
sampaikan oleh pendidik.
6) Meningkatkan ilmu pengetahuan dan teknologi.[41]
2. Motivasi Belajar
a.
Pengertian Motivasi Belajar
Motivasi ialah keadaan internal
organisme baik manusia maupun hewan yang mendorongnya untuk berbuat sesuatu. Menurut
Gleitman dan Reber, motivasi berarti pemasok daya (energizer) untuk
bertingkah laku secara terarah.[42]
Motivasi berasal dari kata “motif” yang dapat di artikan sebagai daya upaya
yang dapat mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu. Motif dapat di katakan
sebagai daya penggerak dari dalam dan di dalam subjek untuk melakukan
aktivitas-aktivitas tertentu demi mencapai suatu tujuan. Bahkan motif dapat di
artikan sebagai suatu kondisi intern (kesiap siagaan).[43]
Pada dasarnya motivasi adalah suatu usaha yang didasari untuk menggerakan,
mengarahkan dan menjaga tingkah laku seseorang agar ia terdorong untuk
bertindak melakukan sesuatu sehingga mencapai hasil atau tujuan tertentu.[44]
Motivasi dapat dibagi atas
dua jenis yaitu motivasi instrinsik dan motivasi ekstrinsik. Pada motivasi
instrinsik anak belajar karena belajar itu sendiri cukup bermakna baginya.
Tujuan yang ingin dicapai terletak dalam perbuatan belajar itu sendiri
(menambah pengetahuan, keterampilan dan sebagainya). Pada motivasi ekstrinsik
anak belajar bukan karena belajar itu berarti baginya, melainkan mengharap
sesuatu dibalik kegiatan belajar itu misalnya nilai yang baik, hadiah,
penghargaan atau menghindari hukuman atau celaan. Tujuan yang ingin dicapai
terletak di luar perbuatan belajar itu. Contoh: anak mempelajari sembahyang
karena ingin tahu dan terampil melaksanakannya (motivasi instrinsik).
Sebaliknya kalau ia mempelajari karena ingin dipuji atau takut akan dimarahi,
maka dalam hal ini berlaku motivasi ekstrinsik.[45]
Jadi dapat disimpulkan bahwa motivasi belajar
adalah keseluruhan daya penggerak di
dalam diri peserta didik yang menimbulkan kegiatan belajar menjamin
kelangsungan dan memberikan arah pada kegiatan belajar sehingga tujuan yang di
kehendaki dapat tercapai.
b.
Macam-Macam Motivasi
Motivasi belajar dapat
dibedakan menjadi dua macam, diantaranya:[46]
1)
Motivasi Intrinsik
Motivasi intrinsik
adalah hal dan keadaan yang berasal dari dalam diri peserta didik sendiri yang
dapat mendorongnya melakukan tindakan belajar. Termasuk dalam motivasi
intrinsik peserta didik adalah perasaan menyenangi materi dan kebutuhannya
terhadap materi tersebut, misalnya untuk kehidupan masa depan peserta didik
yang bersangkutan.
2)
Motivasi Ekstrinsik
Adalah hal dan
keadaan yang datang dari luar individu peserta didik yang juga mendorongnya
untuk melakukan kegiatan belajar. Pujian dan hadiah, peraturan atau tata tertib
sekolah, suri tauladan orangtua, pendidik, dan seterusnya merupakan
contoh-contoh konkret motivasi ekstrinsik yang dapat menolong peserta didik
untuk belajar. Kekurangan atau ketiadaan motivasi, baik yang bersifat internal
atau bersifat eksternal, menyebabkan kurang bersemangatnya peserta didik dalam
melakukan proses belajar materi-materi pelajaran baik di sekolah maupun di
rumah.
c. Fungsi Motivasi Dalam Belajar
Fungsi motivasi dalam belajar diantaranya sebagai berikut:[47]
1) Mendorong manusia untuk berbuat, jadi sebagai penggerak atau
motor yang melepaskan energi. Motivasi dalam hal ini merupakan motor penggerak
dari setiap kegiatan yang harus dikerjakan sesuai dengan rumusan tujuannya.
2) Menentukan arah perbuatan, yakni kea rah tujuan yang hendak
dicapai. Dengan demikian motivasi dapat memberikan arah dan kegiatan yang harus
dikerjakan sesuai dengan rumusan dan tujuannya.
3) Menyeleksi perbuatan, yakni menentukan perbuatan-perbauatn apa
yang harus dikerjakan yang serasi guna mencapai tujuan, dengan menyisihkan
perbuatan-perbuatan yang tidak bermanfaat bagi tujuan teersebut. Seorang
peserta didik yang akan mengahadapi ujian dengan harapan dapat lulus, tentu
akan melakukan kegiatan belajar dan tidak akan menghabiskan waktunya untuk
bermain kartu atau membaca komik, sebab tidak serasi dengan tujuan.
d. Faktor Penghambat Motivasi Belajar
Kesukaran-kesukaran yang sering di hadapi pendidik dalam
memotivasi peserta didik adalah:
1) Kenyataan bahwa pendidik belum memahami sepenuhnya akan motif.
2) Motif itu sendiri bersifat perorangan. Kenyataan menunjukan
bahwa dua orang atau lebih melakukan kegiatan yang sama dengan motif berbeda
sama sekali bahkan bertentangan bila ditinjau dari nilainya.
3) Tidak ada alat, metode atau teknik tertentu yang dapat
memotivasi semua peserta didik dengan cara yang sama atau dengan hasil yang
sama.[48]
e. Indikator Motivasi Belajar
Indikator-indikator motivasi belajar
di antaranya:
1) Tekun menghadapi tugas.
2) Ulet menghadapi kesulitan (tidak lekas putus asa).
3) Menunjukkan minat terhadap bermacam-macam masalah.
4) Lebih senang bekerja mandiri.
5) Tidak cepat bosan terhadap tugas-tugas yang rutin.
6) Dapat mempertahankan pendapatnya.
7) Tidak cepat menyerah terhadap hal yang diyakini.
8) Senang mencari dan memecahkan masalah soal-soal.[49]
3.
Mata Pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam (SKI)
Sejarah secara etimologi dapat di telusuri dari asal kata Arab syajarah
artinya pohon. Dalam bahasa asing lainnya peristiwa sejarah disebut histore
(Prancis), geschicte (Jerman) dan masih banyak lagi. Sejarah menurut
islilah adalah suatu yang tersusun dari serangkain peristiwa masa lampau,
keseluruhan pengalaman manusia dan sejarah sebagai suatu cara yang diubah-ubah,
dijabarkan dan dianalisa. Sejarah memberikan pemahaman akan arti memiliki sifat
objektif tentang masa lampau, dan hendaknya difahami sebagai suatu peristiwa
itu sendiri.[50]
Menurut E.B. Taylor, kebudayaan ialah “keseluruhan yang rumit yang
mencakup pengetahuan, iman (kepercayaan), seni, moral, hukum, adat atau
kebiasaan, dan kemampuan-kemampuan lain serta kebiasaan yang di peroleh manusia
sebagai anggota masyarakat.”[51]
Islam adalah agama yang ajaran-ajarannya di wahyukan Tuhan kepada
manusia melalui Muhammad sebagai Rasul. Dan datangnya dari Allah, baik dengan
perantaraan malaikat Jibril, maupun langsung kepada Nabi Muhammad Sallallahu
alaihi wassallam. Dalam Al-quran, Allah sendiri mendefisinikan Islam dengan
al-‘amilush shalihat atau iman dan amal. Menurut Abdul Qodir Audah,
Islam sebagai berikut :
1)
Al-Islam ‘aqidah wa nizham (Islam adalah kepercayaan dan system (syari’ah)
2) Al-Islam dinum wa
daulah (Islam adalah agama
dan Negara)
Berdasarkan beberapa pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa Islam
berarti seorang mukmin yang saleh atau seorang mukmin yang sungguh-sungguh menjalankan
syariat Islam.[52]
Sejarah
Kebudayaan Islam (SKI) merupakan suatu pelajaran yang menelaah tentang
asal-usul, perkembangan, peranan kebudayaan atau peradaban Islam dan para tokoh
yang berprestasi dalam sejarah Islam dimasa lampau, mulai dari sejarah
masyarakat Arab pra-Islam, sejarah kelahiran dan kerasulan Nabi Muhammad Sallallahu
alaihi wassallam. Sampai masa Khulafaurrasyidin. Secara substansial mata
pelajaran Sejarah Kebudayan Islam (SKI) memiliki kontribusi dalam memberikan
motivasi kepada peserta didik untuk mengenal, memahami, menghayati Sejarah
Kebudayaan Islam (SKI), yang mengandung nilai-nilai kearifan yang dapat di
gunakan untuk melatih kecerdasan, membentuk sikap, watak dan kepribadian
peserta didik.[53]
- Pengaruh Media
Audiovisual Terhadap Motivasi Belajar Peserta Didik
Proses pembelajaran pada hakikatnya adalah
proses komunikasi. Proses komunikasi terwujud melalui kegiatan penyampaian dan
saling tukar menukar informasi dari setiap pendidik kepada peserta didik. pesan
atau informasi yang dimaksud ialah berupa pengetahuan, keahlian, skill, ide,
pengalaman, dan lain sebagainya.
Upaya agar pesan atau
informasi itu dapat diserap dengan baik dan tidak terjadi kesesatan dalam
proses komunikasi perlu di gunakannya sarana yang dapat membantu proses
tersebut, karena dalam setiap tersebut sering terjadi hambatan-hambatan yang
mengakibatkan proses komunikasi tersebut tidak lancar.
Salah satunya ialah
hilangnya motivasi belajar, motivasi merupakan daya penggerak dari dalam untuk
melakukan aktivitas guna mencapai tujuan tertentu. Motif dapat di artikan
sebagai kondisi intern (kesiap siagaan). Dan kata motif ini di artikan sebagai
daya upaya yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu.[54]
Motivasi ini mengandung
tiga elemen penting, yang diantaranya :
a)
Bahwa motivasi itu
mengawali terjadinya perubahan energi pada diri setiap individu manusia.
b)
Motivasi ditandai dengan
munculnya rasa/feeling, afeksi seseorang.
c)
Motivasi akan dirangsang
karena adanya tujuan. Jadi motivasi dalam hal ini sebenarnya merupakan respon
dari suatu aksi, yaitu tujuan.
Cara untuk menanggulangi
hilangnya motivasi belajar tersebut, maka dibutuhkan media pembelajaran yang
dapat memicu timbulnya semangat guna menarik perhatian peserta didik dalam
belajar. Hal tersebut dapat di tanggulangi dengan menggunakan media
pembelajaran dalam proses belajar mengajar. Penggunaan media dalam pembelajaran
dapat membantu mengembangkan kreativitas pendidik dan peserta didik dengan cara
menyajikan mata pelajarannya menggunakan media sehingga lebih menarik.
Berdasarkan studi awal di Madrasah Aliyah Al-hidayah Cikancung yang
beralamat di Jl. Cikancung-Pangauban, rt/rw 02/02 Desa Cikancung, Kecamatan
Cikancung Kabupaten Bandung, penulis menemukan beberapa masalah diantaranya
kondisi kegiatan belajar mengajar di kelas XI yang kurang dapat menarik
perhatian peserta didik karena tidak di gunakannya metode yang bervariatif, pendidik
cenderung hanya menggunakan metode konvensional dan belum menggunakan media pembelajaran
yang tepat, sehingga dalam proses belajar mengajar pada mata pelajaran Sejarah
Kebudayaan Islam (SKI) perhatian peserta didik terhadap materi yang diajarkan
oleh pendidik masih kurang. Saat pendidik menyampaikan materi pelajaran, banyak
peserta didik yang tidak memperhatikan penjelasan dari pendidik. Hal tersebut
mengindikasikan kurangnya motivasi belajar peserta didik pada mata pelajaran
Sejarah Kebudayaan Islam (SKI), sehingga perlu diadakannya pembaharuan dalam
proses pembelajaran dengan menggunakan media belajar yang dapat membangkitkan
motivasi bagi peserta didik dalam belajar.[55]
Penggunaan media audio
visual yang merupakan kombinasi antara indera pendengaran dan penglihatan, di
harapkan siswa menjadi tertarik terhadap pelajaran yang diajarkan, serta fokus
mengikuti pelajaran sehingga dapat menyerap pelajaran secara optimal yang pada
akhirnya berujung pada tercapainya tujuan pembelajaran yang di harapkan.
Media audiovisual di rasa
cocok di gunakan dalam proses pembelajaran Sejarah Kebudayaan Islam (SKI),
karena media ini dirasa paling tepat dan efektif di gunakan untuk materi yang
bersifat cerita atau kisah-kisah sejarah. Sebagai contoh penggunaan media
televisi dan video compact disk (VCD) dalam materi peninggalan kejayaan
kerajaan-kerajaan Islam, maka peserta didik akan lebih dapat paham akan materi
tersebut karena mereka dapat menyaksikan bagaimana dahulu kerajaan-kerajaan
Islam mengalami kejayaannya, sehingga mereka semakin tertarik untuk memfokuskan
pikiran, pendengaran dan penglihatan pada materi yang diberikan oleh pendidik,
sehingga peserta didik termotivasi untuk belajar.
Hal ini diperkuat oleh beberapa penelitian sebelumnya yang serupa,
seperti hasil penelitian dari Imas Setiawati pada tahun 2012, Mahasiswa
Jurusan Pendidikan Agama Islam Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan Universitas
Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta dengan judul “Pengaruh Penggunaan
Media Audiovisual Terhadap Motivasi Belajar Peserta Didik di Madrasah Ibtidaiyah
Al-Bahri Kebon Nanas Jakarta”. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif
analisis. Instrumen penelitian yang di gunakan adalah angket dengan bentuk
skala sikap. Sedangkan teknis analisis data yang di gunakan adalah Product
Moment. Hasil penelitian dari Imas Setiawati menunjukan adanya hubungan
antara pengaruh media audiovisual dengan motivasi belajar peserta didik di
Madrasah Ibtidaiyah Al-Bahri, dengan indeks korelasi sebesar 0,946 dan termsuk
kategori yang sangat kuat (nilai r hitung pada rentang 0,90 – 1,00). Adanya
hubungan yang sangat kuat atau tinggi tersebut di nyatakan dengan adanya
kontribusi variabel X (pengaruh penggunaan media audiovisual) terhadap variabel
Y (motivasi belajar peserta didik).[56]
Hasil penelitian dari
Fitria Ningtias Rahmawati pada tahun 2011, Mahasiswa Jurusan Pendidikan Ilmu
Pengetahuan Sosial Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan Universitas Islam Negeri
Syarif Hidayatullah Jakarta dengan judul penelitian “Efektifitas Pemanfaatan
Media Audiovisual Video Pembelajaran Dalam Upaya Peningkatan Motivasi dan Hasil
Belajar Peserta Didik Pada Pembelajaran Sejarah (Penelitian Tindakan Kelas di
SMP Bina Sejahtera Depok)”. Penelitian ini menunjukan bahwa terjadi peningkatan
motivasi peserta didik yakni sebesar 76,26%. Hal ini menunjukan efektivitas
pemanfaatan media audiovisual video pembelajaran dapat meningkatkan motivasi
belajar peserta didik.[57]
Dari penelitian sebelumnya telah
disebutkan bahwa media audiovisual mampu mempengaruhi motivasi belajar.
Perbedaan penelitian sebelumnya dan penelitian yang penulis lakukan ialah
terletak pada lokasi penelitian serta subyek dan juga fokus yang diteliti.
Dimana peneneliti lebih berfokus kepada indikator-indikator variabel X dan juga
variabel Y.
[1] Depag RI, Al-Qur’an
dan Terjemahannya, (Jakarta: PT Sinergi Pustaka Indonesia, 2012). hlm. 375
[2] Abdullah bin Muhammad bin Abdurahman bin Ishaq
al-Sheikh, Tafsir Ibnu Katsir Jilid 5,
(Pustaka Imam Asy-Syafi’I, 2003). hlm. 88
[3] Ibid, hlm. 89
[4] Depag RI, Al-Qur’an
dan Terjemahannya, (Jakarta: PT Sinergi Pustaka Indonesia, 2012). hlm. 793
[5] Abuddin Nata, Tafsir
Ayat-Ayat Pendidikan (Tafsir Al-Ayat Al-Tarbawiy), (Jakarta: PT
Rajagrafindo Persada, 2002). hlm. 152
[6] Abdullah bin Muhammad bin Abdurahman bin Ishaq
al-Sheikh, Tafsir Ibnu Katsir Jilid 8,
(Pustaka Imam Asy-Syafi’I, 2003). hlm. 89
[7] Abuddin Nata, Tafsir
Ayat-Ayat Pendidikan (Tafsir Al-Ayat Al-Tarbawiy), (Jakarta: PT
Rajagrafindo Persada, 2002). hlm. 154
Dar al-Afaq al-Jadidah, [t.th.]), Juz 3, h. 83, hadits 2380 (selanjutnya
disebut Muslim ibn al-Hajjaj)
[9] Haryanto Al-Fandi, “Konsep Pendidikan Seumur Hidup
(Long Life Education)”, dalam Jurnal Studi Agama dan Budaya Manarul Qur’an,
t.t. hlm. 65
[10] Menurut Hasbullah Bakry, dalam Ahmad tafsir, filsafat umum, (Bandung: Remaja
Rosdakarya, 1990). hlm. 10
[11] Mif baihaqi, Ensikolpedia
Tokoh Pendidikan Dari Abendanon Hingga K.H. Imam Zarkasyi, (Bandung:
Nuansa, 2008). hlm. 86
[12] Tedy Mahmud, “Rasionalisme dan Empirisme Kontribusi
dan Dampaknya Pada Perkembangan Filsafat Matematika”, dalam Jurnal Inovasi, Vol. 8, No. 1, Maret 2011.
hlm 116
[13] Ibid, hlm 118
[14] Ricardo F. Naruru, “Progresivisme Pendidikan dan
Relevansinya di Indonesia”, dalam jurnal Uniera, volume 02, nomor 2, Agustus
2013. hlm. 134
[16] Tita Rostitawati, “Konsep Pendidikan John Dewey”,
dalam jurnal Manajemen Pendidikan Islam, volume. 02, nomor 2, Agustus 2014.
hlm. 134
[17] Ricardo F. Naruru, “Progresivisme Pendidikan dan
Relevansinya di Indonesia”, dalam jurnal Uniera, volume 02, nomor 2, Agustus
2013. hlm. 133-134
[20]Tita Rostitawati, “Konsep Pendidikan John Dewey”,
dalam jurnal Manajemen Pendidikan Islam, volume. 02, nomor 2, Agustus 2014.
hlm. 135
[21] Ricardo F. Naruru, “Progresivisme Pendidikan dan
Relevansinya di Indonesia”, dalam jurnal Uniera, volume 02, nomor 2, Agustus
2013. hlm. 134
[23] Muhibbin Syah, Psikologi Pendidikan Dengan Pendekatan
Baru, (Bandung, PT Remaja Rosdakarya, 2009). hlm 103
[24] Zakiah Daradjat, dkk, Metodik Khusus Pengajaran Agama Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 2001).
hlm. 6
[25] Muhibbin Syah, Psikologi Pendidikan Dengan Pendekatan
Baru, (Bandung, PT Remaja Rosdakarya, 2009). hlm 103-104
[26] Nana Sudjana dan Ahmad Rivai, Teknologi Pengajaran, (Bandung: Sinar Baru Algensindo, 2009). hlm.
37
[27] Bambang Priyodarminto, dan Wawan Setiawan, “Studi
Perbandingan Antara Model Pembelajaran Berbasis Komputer Dalam Peningkatan
Kemampuan Berpikir Matematis Tingkat Tinggi”, dalam Jurnal Pendidikan, Teknologi Informasi dan Komunikasi, Vol. 1, No. 2
Desember 2008. hlm. 70
[28] Nana Sudjana dan Ahmad Rivai, Teknologi Pengajaran, (Bandung: Sinar Baru Algensindo, 2009). hlm.
37
[29] Zakiah Daradjat, dkk, Metodik Khusus Pengajaran Agama Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 2001).
hlm. 9
[30] Ibid, hlm. 10
[31] Muhibbin Syah, Psikologi
Pendidikan Dengan Pendekatan Baru, (Bandung, PT Remaja Rosdakarya, 2009).
hlm 106
[32] Nana Sudjana dan Ahmad Rivai, Teknologi Pengajaran, (Bandung: Sinar Baru Algensindo, 2009). hlm.
38
[33] Abdul Majid Sayid Ahmad Mansur, Zakaria Ahmad
Syarbini dan Ismail Muhammad Fata, Perilaku Manusia dalam Pandangan Islam
dan Ilmu Psikologi Modern, alih bahasa: Bambang Suryadi, (Yogyakarta:
Mistaq Pustaka, 2009). hlm 139
[34] Agus Rifai, Media
Teknologi, (Tangerang Selatan: Universitas Terbuka, 2012). hlm. 1.5
[35] Zakiah Daradjat, dkk, Metodik Khusus Pengajaran Agama Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 2001).
hlm. 39
[36] Nana Sudjana dan Ahmad Rivai, Media Pengajaran, (Bandung: Sinar Baru Algensindo, 2013). hlm. 129
[37] Ibid, hlm. 57
[38] Ibid, hlm. 58
[39] Ibid, hlm. 4-5
[40] Sapto Haryoko, “Efektivitas Pemanfaatan Media
Audio-Visual Sebagai Alternatif Optimalisasi Model Pembelajaran”, dalam Jurnal Edukasi@Elektro, Vol. 5, No. 1, Maret
2009, hlm. 3
[41]Choirun Nisa’ dan Wahono Widodo, “Penggunaan Media
Audio Visual Dalam meningkatkan Kreativitas Dan Hasil Belajar Peserta Didik Pada
Materi Pembelajaran Membuat Aneka Lipatan Serbet (Napkin Folding), dalam e-jurnal boga, Vol. 2, No. 1, Tahun 2013,
edisi yudisium periode Februari 2013. hlm. 30”
[42] Sebagaimana dikutip oleh Muhibbin Syah dalam Psikologi Pendidikan Dengan Pendekatan Baru,
(Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2010). hlm. 134
[43] Sardiman, Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar,
(Jakarta: PT Rajawali Pers, 2014). hlm. 73
[44] Ghullam Hamdu dan Lisa Agustina, “Pengaruh Motivasi
Belajar Peserta Didik Terhadap Prestasi Belajar IPA Di Sekolah Dasar (Studi
Kasus Terhadap Peserta Didik Kelas IV SDN Tarumanagara Kecamatan Tawang Kota
Tasikmalaya)” dalam Jurnal Penelitian Pendidikan,
Vol. 12, No. 1 April 2011. hlm. 91
[45] Zakiah Daradjat, dkk, Metodik Khusus Pengajaran Agama Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 2001).
hlm. 141-142
[46] Muhibbin Syah, Psikologi
Pendidikan Dengan Pendekatan Baru, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2010).
hlm. 134
[47] Sardiman, Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar,
(Jakarta: PT Rajawali Pers, 2014). hlm. 85
[48] Zakiah Daradjat, dkk, Metodik Khusus Pengajaran Agama Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 2001).
hlm. 141
[49] Sardiman, Interaksi
dan Motivasi Belajar Mengajar, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2011).
hlm. 83
[50] Munawir, “Upaya Meningkatkan Hasil Belajar Sejarah
Kebudayaan Islam (SKI) Peserta Didik Kelas IV dengan Strategi Pembelajaran CTL
(Contextual Teaching And Learning) di Madrasah Ibtidaiyah Assyafi’iyah Tanggul
Wonoayu, Sidoarjo”, dalam Jurnal PGMI
Madrasatuna, Vol. 04, No. 01, September 2012. hlm. 5
[51] Jaih Mubarok, Sejarah
Peradaban Islam, (Bandung: Pustaka Bani Quraisy, 2005). hlm. 5
[52] Munawir, “Upaya Meningkatkan Hasil Belajar Sejarah
Kebudayaan Islam (SKI) Peserta Didik Kelas IV dengan Strategi Pembelajaran CTL
(Contextual Teaching And Learning) di Madrasah Ibtidaiyah Assyafi’iyah Tanggul
Wonoayu, Sidoarjo”, dalam Jurnal PGMI
Madrasatuna, Vol. 04, No. 01, September 2012. hlm. 6
[53] Ibid, hlm, 7
[54] Sardiman, Interaksi dan Motivasi Belajar mengajar,
(Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2011). hlm. 73
[55] Sesuai dengan studi awal
observasi yang telah dilaksanakan pada tanggal 8 januari 2016
[56] Imas setiawati, Pengaruh Penggunaan Media
Audiovisual Terhadap Motivasi Belajar Peserta Didik di Madrasah Ibtidaiyah
Al-Bahri Kebon Nanas Jakarta. skripsi, (Jakarta: UIN Syarif Hidayatullah,
2012). hlm. 64 diunduh dari http://repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/24267/1/Imas%20Setiawati.pdf (pada selasa 1 maret 2016 pukul 20.30 WIB)
[57] Fitria ningtias, Efektifitas Pemanfaatan Media
Audiovisual Video Pembelajaran Dalam Upaya Peningkatan Motivasi dan Hasil
Belajar Peserta Didik Pada Pembelajaran Sejarah (Penelitian Tindakan Kelas di
SMP Bina Sejahtera Depok, skripsi, (Jakarta, UIN Syarif Hidayatullah, 2011).
hlm. 97 diunduh dari http://repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/3107/1/FITRIA%20NINGTIAS%20RAHMAWATI-FITK.pdf (pada selasa 1 maret 2016 pukul 20.47 WIB)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar