Sabtu, 15 Oktober 2016

Contoh Skripsi Media audiovisual Bab II





BAB II
LANDASAN TEORI
TENTANG MEDIA AUDIOVISUAL DAN MOTIVASI BELAJAR

A.    Landasan Teologis
Beberapa ayat yang di jadikan landasan teologi dalam penelitian ini diantaranya:
1.      Landasan Teologi Tentang Media Audiovisual
a.      Al-Quran Surat An-Nahl [16] ayat 78:
ª!$#ur Nä3y_t÷zr& .`ÏiB ÈbqäÜç/ öNä3ÏF»yg¨Bé& Ÿw šcqßJn=÷ès? $\«øx© Ÿ@yèy_ur ãNä3s9 yìôJ¡¡9$# t»|Áö/F{$#ur noyÏ«øùF{$#ur   öNä3ª=yès9 šcrãä3ô±s? ÇÐÑÈ  
Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur.[1]
Text Box: 23
 


23
 
Allah Subhanahu wattaalla menyebutkan berbagai anugerah yang Dia limpahkan kepada hamba-hamba-Nya ketika mereka di keluarkan dari perut ibunya dalam keadaan tidak mengetahui apapun. Setelah itu Dia memberikan pendengaran yang dengannya mereka mengetahui suara, penglihatan yang dengannya mereka dapat melihat berbagai hal, dan hati, yaitu akal yang pusatnya adalah hati, demikian menurut pendapat yang shahih. Ada juga yang mengatakan, otak dan akal. Allah Subhanahu wattaalla juga memberikan akal yang dengannya dia dapat membedakan berbagai hal, yang membawa mudharat dan yang membawa manfaat. Semua kekuatan dan indera tersebut di peroleh manusia secara berangsur-angsur, sedikit demi sedikit. Setiap kali tumbuh, bertambahlah daya pendengaran, penglihatan, dan akalnya hingga dewasa. Penganugerahan daya tersebut kepada manusia di maksudkan agar mereka dapat beribadah kepada Rabb-Nya Yang Maha Tinggi. Dia dapat meminta kepada setiap anggota tubuh dan kekuatan untuk mentaati Rabb-Nya.[2]
Implikasinya dengan media audiovisual, ayat ini menjelaskan tentang fungsi pendengaran dan penglihatan untuk mendapatkan ilmu pengetahuan. Sama halnya dengan media audiovisual yang menekankan indera pendengaran dan penglihatan dalam mencapai tujuan belajar.

b.      Hadits Riwayat Bukhori
Hadits tentang penggunaan media audiovisual di dalam kitab Shahih al-Bukhori, dari Abu Hurairah radiallahu anhu, dari Rasulullah Sallallahu alaihi wassallam, beliau bersabda :
يَقُوْ لُ تَعَا لىَ: مَنْ عَادَى لِيْ وَلِيًَا فَقَدْ بَارَزَنِيْ بِالْحَرْبِ، وَمَا تَقَرَّبَ إِلَىَّ عَبْدِيْ بِشَيْءٍ أَفْضَلُ مِنْ أَدَاءٍ مَـا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ وَلاَ يَزَالُ عَبْدِيْ يَتَقَرَّبَ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ، فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِيْ يَسْمَعُ بِهِ وَبَصَرَهُ الَّذِيْ يُبْصِرُ بِهِ وَيَدَهُ الَّتِيْ يَبْطِشُ بِهَا وَرِخْلَهُ الَّتِيْ يَمْشِيْ بِهَا وَلَئِنْ سَأَلَنِيْ لأُعْطِيَنَّهُ وَلَئِنْ دَعَـانِيْ لأُجِيْبَنَّهُ وَلَئِنِ اسْتَعَاذَ بِيْ لأُ عِيْذَنَّهُ، وَمَا تَرَدَّدْتُ فِيْ شَيْءٍ أَنَ فَاعِلُهُ تَرَدُّدِى فِيْ قَبْضِ نَفْسٍ عَبْدِى الْمُؤْمِنِ يَكْرَهُ المَوْتَ وَأُكْرَهُ مَسَاءَ تُهُ وَلاَبُدَّ لَهُ مِنْهُ.

Allah Ta’alla berfirman: barang siapa yang telah memusuhi wali-Ku berarti dia telah menyatakan perang dengan terang-terangan kepada-Ku. Dan tidaklah seorang hamba mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih baik daripada pelaksanaan apa yang telah Aku wajibkan kepadanya. Dan hamba-Ku masih terus mendekatkan diri kepada-ku dengan amalan-amalan nafilah (sunnah) sehingga Aku mencintainya. Jika aku mencintainya, maka Aku akan menjadi pendengarannya yang dengannya dia mendengar, penglihatannya yang dengannya dia melihat, tangannya yang dengannya dia memegang, dan kakinya yang dengannya dia berjalan. Jika meminta kepada-ku maka Aku pasti akan memberinya, dan jika berdoa kepada-Ku, Aku pasti mengabulkannya, jika memohon perlindungan kepada-Ku, Aku pasti akan melindunginya. Aku tidak pernah ragu terhadap sesuatu yang Aku akan melakukannya. Keraguan-Ku adalah, pada pencabutan nyawa seorang mukmin yang tidak menyukai kematian dan Aku tidak ingin menyakitinya, sedang kematian itu merupakan suatu keharusan baginya.”(HR. Bukhori)

Makna hadits diatas adalah jika seorang hamba telah mengikhlasan ketaatan, maka seluruh amal perbuatannya hanya untuk Allah Subhanahu wattaalla, sehingga dia tidak mendengar kecuali karena Allah dan tidak melihat apa yang telah disyariatkan Allah kepadanya melainkan hanya karena Allah semata, tidak memegang dan tidak pula berjalan melainkan dalam rangka mentaati Allah Subhanahu wattaalla. Seraya memohon pertolongan kepada-Nya dalam melakukan semuanya itu. Karena semuanya itu dalam beberapa riwayat hadits selain yang shahih, disebutkan dalam firman Allah, dan kakinya yang dengannya dia berjalan, “Dengan-Ku dia mendengar, dengan-Ku pula dia melihat, dengan-Ku dia memegang, dan dengan-Ku pula dia berjalan”. Oleh karena itu, Allah Subhanahu wattaalla berfirman, “Dan Dia memberi kamu pendengaran, pengliahatn dan hati, agar kamu bersyukur”.[3]
Implikasi dengan media audiovisual, media audiovisual merupakan media pembelajaran yang menekankan indera pendengaran dan pandangan. Dalam hadits ini dijelaskan tentang peran atau fungsi media pendengaran dan penglihatan sebagai alat atau media untuk memperoleh sesuatu, terutama untuk memperoleh ilmu pengetahuan. Ini sangat sesuai dengan peran media audiovisual yang dapat di gunakan sebagai media belajar yang baik untuk mendapatkan ilmu pengetahuan.

2.      Landasan Teologi Tentang Motivasi Belajar Peserta Didik
a.      Al-Quran Surat Al-Mujadilah [58] ayat 11 :
$pkšr'¯»tƒ tûïÏ%©!$# (#þqãZtB#uä #sŒÎ) Ÿ@ŠÏ% öNä3s9 (#qßs¡¡xÿs? Îû ħÎ=»yfyJø9$# (#qßs|¡øù$$sù Ëx|¡øÿtƒ ª!$# öNä3s9 ( #sŒÎ)ur Ÿ@ŠÏ% (#râà±S$# (#râà±S$$sù Æìsùötƒ ª!$# tûïÏ%©!$# (#qãZtB#uä öNä3ZÏB tûïÏ%©!$#ur (#qè?ré& zOù=Ïèø9$# ;M»y_uyŠ 4 ª!$#ur $yJÎ/ tbqè=yJ÷ès? ׎Î7yz ÇÊÊÈ  
Hai orang-orang yang beriman, apabila di katakan kepadamu “Berlapang-lapanglah dalam majlis.” Maka lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila di katakan “Berdirilah kamu.” Maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu, dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.[4]

Berkenaan dengan turunnya ayat tersebut dapat diikuti keterangan yang diberikan oleh Ibn Abi Khatim. Menurut riwayatnya yang diterima dari Muqatil bin Hibban, bahwa pada suatu ketika di hari jumat Rasulullah berada di suatu tempat yang sempit, saat mana ia tengah menerima tamu dari penduduk Badar dari kalangan Muhajirin dan Anshar, tiba-tiba sekelompok seorang yang ada di dalamnya termasuk Tsabit bin Qais datang dan ingin duduk di bagian depan tempat tersebut. Mereka berdiri memuliakan Rasulullah, dan mengucapkan salam kepadanya. Nabi menjawab salam sekelompok orang tersebut, dan juga kelompok tersebut menjawab salam yang lainnya. Mereka berdiri disampingnya dan menunggu agar diberikan tempat yang agak luas. Namun orang yang dating terdahulu tetap tidak memberikan peluang. Kejadian tersebut kemudian mendorong Rasulullah mengambil inisiatif dan berkata sebagian orang yang ada disekitarnya, berdirilah kalian, berdirilah kalian. Kemudian berdirilah sebagian kelompok tersebut berdekatan dengan orang yang datang terdahulu, sehingga Rasulullah tampak menunjukan kekecewaannya di hadapan mereka. Dalam keadaaan demikian itulah ayat tersebut diturunkan.[5]
Qatadah mengatakan: “Ayat ini turun berkenaan dengan majelis-majelis dzikir. Yaitu, jika mereka melihat salah seorang diantara mereka datang, maka mereka tidak memberikan peluang untuk duduk didekat Rasulullah Sallallahu alaihi wassallam. Kemudian Allah Subhanahu wattaalla menyuruh mereka memberikan kelapangan sesama mereka.” Sedangkan Muqatil bin Hayyan berkata: “Ayat ini diturunkan pada hari jum’at.”[6]
Firman Allah Ta’alla, “Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu, dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” Maksudnya, bahwa Allah akan mengangkat orang-orang mukmin yang melaksanakan segala perintah-Nya dan perintah Rasul-Nya dengan memberikan kedudukan khusus, baik dari segi pahala maupun keridlaan-Nya.
Singkatnya bahwa setiap orang mukmin dianjurkan agar memberikan kelapangan kepada sesama kawannya ketika berada di majelis, ketika kawannya itu datang belakangan; atau apabila dianjurkan agar keluar meninggalkan majelis, maka segera tinggalkanlah tempat itu, dan jangan ada prasangka bahwa perintah tersebut akan menghilangkan haknya, melainkan merupakan kesempatan yang dapat menambah kedekatan pada Tuhannya, karena Allah tidak akan menyia-nyiakan setiap perbuatan yang dilakukan hamba-Nya, melainkan akan diberikan balasan yang setimpal di dunia dan akhirat. Sedangkan potongana ayat “Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” Maksudnya bahwa Allah mengetahui setiap perbuatan yang baik dan buruk yang dilakukan hamba-Nya, dan akan membalasnya amal tersebut. Orang yang baik di balas dengan kebaikan. Demikian pula orang yang berbuat buruk di balas buruk, atau di ampuninya.[7]
Implikasinya dengan motivasi belajar, ayat ini mengatakan Allah Subhanahu wattaalla mengangkat setiap manusia yang berilmu beberapa derajat. Ini jelas merupakan sebuah motivasi agar manusia senantiasa mencari ilmu sedalam mungkin karena dengan ilmu Allah menjanjikan mengangkat derajat manusia.

b.      Hadits Riwayat Bukhori
بَاب الْعِلْمُ قَبْلَ الْقَوْلِ وَالْعَمَلِ لِقَوْلِ اللَّهِ تَعَالَى{فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ}فَبَدَأَ بِالْعِلْمِ وَأَنَّ الْعُلَمَاءَ هُمْ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ وَرَّثُوا الْعِلْمَ مَنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ وَمَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَطْلُبُ بِهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ وَقَالَ جَلَّ ذِكْرُهُ{إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ}وَقَالَ{وَمَا يَعْقِلُهَا إِلَّا الْعَالِمُون}{وَقَالُوا لَوْ كُنَّا نَسْمَعُ أَوْ نَعْقِلُ مَا كُنَّا فِي أَصْحَابِ السَّعِيرِ}وَقَالَ{هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ}وَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ يُرِدْ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ وَإِنَّمَا الْعِلْمُ بِالتَّعَلُّمِ وَقَالَ أَبُو ذَرٍّ لَوْ وَضَعْتُمْ الصَّمْصَامَةَ عَلَى هَذِهِ وَأَشَارَ إِلَى قَفَاهُ ثُمَّ ظَنَنْتُ أَنِّي أُنْفِذُ كَلِمَةً سَمِعْتُهَا مِنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَبْلَ أَنْ تُجِيزُوا عَلَيَّ لَأَنْفَذْتُهَا وَقَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ{كُونُوا رَبَّانِيِّينَ}حُلَمَاءَ فُقَهَاءَ وَيُقَالُ الرَّبَّانِيُّ الَّذِي يُرَبِّي النَّاسَ بِصِغَارِ الْعِلْمِ قَبْلَ كِبَارِهِ [رواه البخاري]

Berdasarkan firman Allah Subhanahu Wattaalla maka ketahuilah bahwa sesungguhnya ialah Allah tiada Tuhan selain Dia, maka segalanya bermula dengan ilmu, dan sesungguh nya para ulama itu pewaris (ilmu) para Nabi Sallallahu alaihi wasallam yang berusaha memperolehnya maka ia memang sangat bertuah memperolehnya, dan barang siapa yang memperoleh dan barang siapa yang berjalan untuk menuntut ilmu niscaya Allah akan memudahkan baginya jalan menuju ke surga, seperti juga firman Allah: “sesungguhnya mereka yang benar-benar takut kepada Allah adalah dikalangan hamba-hamba-Nya yang berilmu berbanding dengan orang-orang yang tak berilmu? Dan Nabi Sallallahu alaihi wasallam bersabda, siapa yang ingin mengkaruniakan kebaikan untuknya, maka akan diberikan peluang untuknya mendalami ilmu untuk mengetahui agama dan sesungguh nya ilmu itu ditimba dengan menuntutnya, Ibnu Abbas berkata: jadilah kamu pendidik yang penyantun, ahli fiqih, dan ahli ilmu, disebut pendidik bila seseorang telah mendidik manusia dengan ilmunya sedikit-sedikit lama kelamaan banyak”.(Hadits Riwayat Bukhari)[8]

Hadits di atas menjelaskan bahwa bagi siapa yang menuntut ilmu Allah akan mempermudahkan baginya jalan ke surga. Seorang pendidik yang telah mendidik manusia ilmunya semakin bertambah. Dan bagi siapa yang menuntut ilmu maka di mudahkan jalannya masuk ke surga.
Islam memberikan perhatian dan penghargaan yang besar terhadap masalah ilmu, orang-orang yang menuntut ilmu (tholabul ilmi) dan para ahlinya (orang-orang yang berilmu:ulama). Dalam konsepsi Islam orang berilmu itu berbeda dengan orang yang tidak berilmu, di katakan bahwa orang yang berilmu itu lebih baik dan lebih terhormat dari pada orang yang tidak memiliki ilmu (bodoh).[9]
Implikasi dengan motivasi belajar, hadits ini berisi penjelasan tentang kewajiban manusia untuk menuntut ilmu, dan juga memotivasi manusia agar terus senantiasa menimba ilmu karena dengan ilmu Allah akan memudahkannya jalan menuju surga.

B.     Landasan Filosofis
Filsafat secara etimologi berasal dari bahasa Yunani yaitu philosophia - philien atau juga bahasa Arab, yaitu falsafah: cinta dan sophia: kebijaksanaan. Filsafat sebagai sejenis pengetahuan yang menyelidiki segala sesuatu dengan mendalam mengenai ketuhanan, alam semesta, dan manusia sehingga dapat menghasilkan pengetahuan tentang bagaimana hakikatnya sejauh yang dapat dicapai akal manusia dan bagaimana sikap manusia itu seharusnya setelah mencapai pengethuan itu.[10] Dalam penelitian ini ada beberapa aliran filsafat yang berkaitan dengan judul, diantaranya aliran empirisme, dan aliran progresivisme.
  1. Filsafat Empirisme Tentang Pendidikan (John Locke)
Landasan filosofis dalam penelitian ini mengacu pada filsafat Empirisme. John Locke adalah seorang filosof empiris. Bagi dia, empiris (empirie, experience) atau pengalaman adalah sumber semua pengetahuan. Dalam bidang pendidikan, ia mengajarkan pengamatan gejala-gejala psikis. John Locke menganut paham tabula rasa, teori kertas putih, kertas tidak bertulis. Menurutnya, segala sesuatu yang ada dalam pikirannya berasal dari pengalaman inderawi, tidak dari akal budi. Otak (dan juga jiwa) seperti sehelai kertas yang masih putih, kosong dan pasif. Melalui pengalaman inderawilah helai-helai kertas itu diisi. Artinya, pengamatan dengan pancaindera akan mengisi jiwa dengan kesan-kesan (sensation) yang dengan jalan sintesis, analisis dan perbandingan di olah menjadi pengetahuan (reflexion).[11]
Empirisme adalah suatu doktrin filsafat yang menekankan peranan pengalaman dalam memperoleh pengetahuan dan mengecilkan peranan akal.[12] Salah satu tokoh empirisme yang terkenal pada abad ke 17 adalah David Hume (1711-1776). Pemikiran empirisnya terakumulasi dalam ungkapannya yang singkat yaitu I never catch my self at any time with out a perception (saya selalu memiliki persepsi pada setiap pengalaman saya). Hume dalam ungkapan ini menyampaikan bahwa seluruh pemikiran dan pengalaman tersusun dari rangkaian-rangkaian kesan (impression). Pemikiran ini lebih maju selangkah dalam merumuskan bagaimana sesuatu pengetahuan terangkai dari pengalaman, yaitu melalui suatu institusi dalam diri manusia (impression, atau kesan yang di sistematiskan) dan kemudian menjadi pengetahuan. Di samping itu, pemikiran Hume ini merupakan usaha analisis agar empirisme dapat di rasionalkan terutama dalam pemunculan ilmu pengetahuan yang di dasarkan pada pengamatan (observasi) dan uji coba (eksperimentasi), kemudian menimbulkan kesan, pengertian-pengertian dan akhirnya pengetahuan.
Hume melakukan pembedaan antara kesan dan ide. Kesan merupakan penginderaan langsung atas realitas lahiriah, sementara ide adalah ingatan atas kesan-kesan. Menurutnya, kesan selalu muncul lebih dahulu, sementara ide sebagai pengalaman langsung tidak dapat diragukan. Dengan kata lain, karena ide merupakan ingatan atas kesan-kesan, maka isi pikiran manusia tergantung kepada aktivitas inderanya. Kesan maupun ide, menurut Hume, dapat sederhana maupun kompleks Sebuah ide sederhana merupakan perpanjangan dari kesan sederhana. Begitu pula ide kompleks merupakan kelanjutan dari kesan kompleks. Tapi, dari ide kompleks dapat diturunkan menjadi ide sederhana.[13]
Alasan peneliti menggunakan filsafat empirisme karena empirisme menekankan pengalaman inderawi sebagai sumber pengetahuan, yaitu melalui suatu institusi dalam diri manusia (impression, atau kesan yang di sistematiskan) dan kemudian menjadi pengetahuan, kesan tersebut dapat di peroleh melalui penggunaan media audiovisual karena media ini menekankan pengalaman inderawi yaitu pendengaran dan pandangan untuk memperoleh pengetahuan.

  1. Filsafat Progresivisme Tentang Pendidikan (John Dewey)
Pendidikan dalam aliran progressivisme ini muncul adalah sebagai oposisi atas pendidikan model tradisional di Amerika Serikat, sekitar tahun 1800-an.[14] Progresivisme adalah suatu bangunan filsafat atau aliran filsafat yang berdiri sendiri, melainkan merupakan suatu gerakan dan perkumpulan yang didirikan pada tahun 1918. Gerakan progresif terkenal luas karena reaksinya terhadap formalisme dan sekolah tradisional yang membosankan, yang menekankan disiplin keras, belajar pasif, dan banyak hal-hal kecil yang tidak bermanfaat dalam pendidikan. Lebih jauh gerakan ini dikenal karena dengan himbauannya kepada pendidik: “kami mengharapkan perubahan, serta kemajuan yang lebih cepat setelah perang dunia pertama”. Banyak pendidik yang mendukungnya, sebab gerakan pendidikan progresivisme merupakan semacam kendaraan mutakhir untuk digelarkan. Beberapa tokoh dalam aliran ini : George Axtelle, william O. Stanley, Ernest Bayley, Lawrence B. Thomas, Frederick C. Neff.[15]
John Dewey adalah seorang tokoh pendidikan, lahir di Burlington Amerika pada tanggal 20 Oktober tahun 1859 M, Setelah menyelesaikan studinya di Baltimore, ia menjadi guru besar dalam bidang filsafat dan kemudian dalam bidang pendidikan pada beberapa universitas.[16]
Progresivisme sebagai aliran pendidikan ditopang oleh filsafat sosial John Dewey, yang menghendaki implementasi sosial dalam dunia pendidikan. Gerakan pendidikan progresivisme di satu pihak hadir sebagai protes, dan di pihak lain sebagai visi atau pandangan. Awal mulanya, aliran ini hadir sebagai protes terhadap pendidikan yang bersifat otoriter, resimentasi pemikiran, standarisasi metode pendidikan yang ditetapkan oleh psikologi pendidikan (metode latihan dan disiplin formal). Semulanya, pendidikan progresivisme melaksanakan pendidikan yang berpusat pada anak dalam kehidupan riil. Mereka menganjurkan prosedur pendidikan yang berdasarkan dorongan tumbuh kodrati dari dalam, perkembangan pribadi secara merdeka, dan minat spontan anak.[17]
Dasar pemikiran dari pendekatan filosofis progresivisme adalah pengetahuan yang benar pada masa kini mungkin tidak benar di masa mendatang. Karenanya cara terbaik mempersiapkan peserta didik untuk suatu masa depan yang tidak diketahui adalah membekali mereka dengan strategi-strategi pemecahan masalah yang memungkinkan mereka mengatasi tantangan baru dalam kehidupan untuk menemukan kebenaran kebenaran yang relevan pada saat ini.[18]
John Dewey berpandangan bahwa progresivisme menekankan pengalaman indera, belajar sambil bekerja, dan mengembangkan intelegensi, sehingga anak dapat menemukan dan memecahkan masalah yang dihadapi.[19] Keberhasilan pendidikan bagi Dewey terletak pada partisipasi setiap individu yang didukung oleh kesadaran umum masyarakat.[20] Perkembangan zaman yang ditopang oleh kemajuan ilmu dan teknologi dalam tatanan masyarakat membutuhkan kemajuan dalam pendidikan itu pula. Untuk menjawab persoalan inilah yang menjadi dasar pemikiran dari pendidikan model filsafat progressivisme ini.[21]
Berdasarkan pembahasan diatas, progresivisme mengharapkan adanya perubahan pada proses pembelajaran dari pembelajaran tradisional seperti hafalan, dikte, mencatat di buku, dll. Ke arah yang lebih maju dan sesuai kemajuan jaman dan ilmu teknologi agar tidak terjadi kejenuhan dalam belajar. Maka jelas kaitannya dengan penggunaan media audiovisual dalam pengaruhnya untuk meningkatkan motivasi belajar peserta didik, karena dalam hal ini di gunakannya sebuah media belajar yang lebih modern karena dengan media audiovisual sesuatu yang abstrak akan nampak lebih nyata dan akan mempermudah dalam memecahkan suatu masalah.

C.    Landasan Teoritis
Teori merupakan sebuah penjelasan umum tentang berbagai pengamatan yang dibuat seiring dengan berjalannya waktu, teori menjelaskan dan meramalkan timbulnya perilaku, suatu teori tidak bisa dibangun diatas keragu-raguan, suatu teori dapat diubah, dimodifikasi.[22]
1.      Teori Koneksionisme (connectionism)
Teori koneksionisme (connectionism) adalah teori yang ditemukan dan dikembangkan oleh Edward L. Thorndike (1874-1949) berdasarkan eksperimen yang ia lakukan pada tahun 1890-an. Eksperimen Thorndike ini menggunakan hewan-hewan terutama kucing untuk mengetahui fenomena belajar.
Seekor kucing yang lapar ditempatkan dalam sangkar berbentuk kotak berjeruji yang dilengkapi dengan peralatan, seperti pengungkit, gerendel pintu, dan tali yang menghubungkan pengungkit dengan gerendel tersebut. Peralatan ini ditata sedemikian rupa sehingga memungkinkan kucing tersebut memperoleh makanan yang tersedia di depan sangkar tadi.
Keadaan bagian dalam sangkar yang disebut puzzle box (peti teka-teki) itu merupakan situasi stimulus yang merangsang kucing untuk bereaksi melepaskan diri dan memperoleh makanan yang ada di muka pintu. Mula-mula kucing tersebut mengeong, mencakar, melompat, dan berlari-larian, namun gagal membuka pintu untuk memperoleh makanan yang ada di depannya. Akhirnya, entah bagaimana, secara kebetulan kucing itu berhasil menekan pengungkit dan terbukalah pintu sangkar tersebut.[23] Hasil pengamatan Thorndike atas tingkah laku kucing itu dapat dicatat bahwa:
a.       Pada dasarnya kucing bertingkah laku tanpa tujuan (gamak dan galat).
b.      Kucing membuat tanggapan yang tepat atas kejadian (harapan berhasil).
c.       Kucing diberi upah dengan makanan yang memuaskan.[24]
Apabila kita perhatikan dengan seksama, dalam eksperimen Thorndike tadi akan kita dapati dua hal pokok yang mendorong timbulnya fenomena belajar. Pertama, keadaan kucing yang lapar. Seandainya kucing itu kenyang sudah tentu tidak akan berusaha keras untuk keluar. Bahkan, barangkali ia akan tidur saja dalam puzzle box yang mengurunganya. Dengan kata lain, kucing itu tidak kan menampakan gejala belajar untuk keluar. Sehubungan dengan hal ini, hamper dapat dipastikan bahwa motivasi (seperti rasa lapar) merupakan hal yang sangat vital dalam belajar. Kedua, tersedianya makan di muka pintu puzzle box. Makanan ini merupakan efek positif atau memuaskan yang dicapai oleh respons dan kemudian menjadi dasar timbulnya hokum belajar yang di sebut law of effect. Artinya , jika sebuah respons menghasilkan efek yang memuaskan, hubungan antara stimulus dengan respons akan semakin kuat. Sebaliknya, semakin tidak memuaskan (menggangu) efek yang dicapai respons, semakin lemah pula hubungan stimulus dan respons tersebut.[25]
Edward L. Thorndike juga menyatakan bahwa belajar adalah pembentukan asosiasi atau koneksi antara kesan-kesan pancaindera dengan kecenderungan untuk bertindak. Thorndike mengemukakan tiga hukum belajar, yakni :
a.       Hukum Kesiapaan (law of readiness)
Berdasarkan hukum kesiapan, kegiatan belajar hanya akan terjadi apabila individu telah matang atau siap menerima stimulus. Kesiapan ini bergantung pada perkembangan dan kebutuhannya. Oleh sebab itu, teknologi dalam pembelajaran harus disesuaikan dengan tingkat perkembangan dan kebutuhan anak didik.
b.      Hukum Latihan (law of exercise)
Hukum ini mengandung makna bahwa belajar memerlukan latihan-latihan yang teratur. Asumsinya adalah, semakin sering diulang, semakin kuat hubungan antara stimulus dan respons.
c.       Hukum Efek (law of effect)
Hukum ini artinya ialah hubungan stimulus respons akan semakin kuat apabila menghasilkan kesenangan dan kepuasan. Hadiah atau reward biasanya merupakan salah satu cara dalam penggunaan hukum penguatan.[26]
Kemampuan berpikir manusia dipengaruhi oleh dua faktor, yaitu faktor intern dan faktor ekstern. Yang dimaksud dengan faktor intern ialah intelegensi/kecerdasan dan kemampuan lain yang dimiliki setiap individu sebagai modal awal untuk mengembangkan kemampuan atau pengetahuannya. Thorndike menitik beratkan intelegensi sebagai kesanggupan untuk merespon yang baik sesuai fakta yang dihadapi. Sedangkan faktor ekstern adalah pengaruh dari luar individu yaitu orang lain atau lingkungan yang dapat mempengaruhi kemampuan berpikir seseorang.[27]

2.      Teori Kondisioning Klasikal (classical conditioning)
Teori kondisioning klasikal (classical conditioning) dari Pavlov, teori ini berpendapat bahwa tingkah laku dibentuk melalui pengaturan dan manipulasi stimulus dalam lingkungan. Proses pembentukan tingkah laku tersebut disebut proses pengondisian. Dalam terori ini tekanan utamanya terdapat pada pengaturan stimulus, sedangkan dalam teori koneksionisme tekanan utamanaya ada pada pengaturan respons. Oleh sebab itu, teori kondisioning klasikal disebut tipe stimulus (S-type theory), sedangkan teori koneksionisme disebut R-type theory. Oleh sebab itu, dalam teori kondisioning klasikal, memberikan pancingan dan dorongan stimulus belajar merupakan faktor penting agar dapat menimbulkan respons sehingga terjadi proses perubahan tingkah laku.[28]
Dalam eksperimennya, Pavlov menemukan bahwa apabila suatu perangsang seperti bunyi lonceng (perangsang bersyarat) dibunyikan pada waktu makan (perangsang tak bersyarat) membuat liur anjing lapar itu meleleh menanggapi suara lonceng tersebut.[29]

3.      Teori Kondisioning Operan (operant conditioning)
Operant adalah suatu tanggapan yang beroperasi pada lingkungan dan instrumen untuk mencapai penguatan.[30] Teori pembiasaan perilaku (operant conditioning) ini merupakan teori belajar yang berusia paling muda dan masih sangat berpengaruh dikalangan para ahli psikologi belajar masa kini. Penciptanya bernama Burrhus Frederic Skinner (lahir tahun 1904), seorang penganut behaviorisme yang dianggap kontraversial.[31]
Teori Kondisioning Operan dari Skinner sebenarnya merupakan kombinasi dari kedua teori diatas, terutama sekali dari teori Pavlov dan Watson. Perbedaannya, Skinner membedakan dua macam respons, yakni respondent response (reflexive) dan operant response (instrumental response). Respondent response adalah respons yang secara alami timbul karena rangsangan yang sesuai dengan stimulus tersebut (eliciting stimulus), sedangkan operant response adalah respons yang timbul dan perkembangannya diikuti oleh stimulus tertentu yang dapat memperkuat terjadinya respons (reinforcing stimulus). Berdasarkan konsep ini maka dikembangkan sistem pembelajaran yang dikenal dengan itilah modifikasi tingkah laku dengan elemen utamanya hadiah dan hukuman. Prosedur yang ditempuh adalah:
a.       Menentukan jenis tingkah laku yang di kehendaki (tujuan).
b.      Menganalisis komponen tingkah laku yang mendarai tingkah laku yang di kehendaki.
c.       Mengidentifikasi hadiah (reinforcer) yang sesuai untuk setiap komponen.
d.      Melaksanakan pembentukan tingkah laku sesuai dengan urutan yang telah ditentukan.
Salah satu bentuk pembelajaran yang dikembangkan dari teori skinner adalah pembelajaran berprogram dan mesin pembelajaran.[32] Dalam salah satu eksperimennya, Skinner menggunakan seekor tikus yang ditempatkan dalam sebuah peti yang kemudian terkenal dengan nama “Skinner Box”. Peti sangkar ini terdiri atas dua macam komponen pokok, yakni: manipulandum dan alat pemberi reinforcement yang antara lain berupa wadah makanan. Manipulandum adalah komponen yang dapat di manipulasi dan gerakannya berhubungan dengan reinforcement. Komponen ini terdiri atas tombol, batang jeruji, dan pengungkit.
Pada eksperimen tadi mula-mula tikus itu mengeksplorasi peti sangkar dengan cara lari kesana kemari, mencium benda-benda yang ada di sekitarnya, mencakar dinding, dan sebagainya. Aksi-aksi ini disebut “emitted behavior” (tingkah laku yang terpancar), yakni tingkah laku yang terpancar dari organisme tanpa memperdulikan stimulus tertentu. Kemudian pada gilirannya, secara kebetulan salah satu emitted behavior tersebut (seperti cakaran kaki depan atau sentuhan moncong) dapat menekan pengungkit. Tekanan pengungkit ini mengakibatkan munculanya butiran-butiran makanan kedalam wadahnya.
Butiran-butiran makanan yang muncul itu merupakan reinforce bagi penekanan pengungkit. Penekanan pengungkit inilah disebut tingkah laku operant yang akan terus meningkat apabila di iringi dengan reinforcement, yakni penguatan berupa butiran-butiran makanan yang muncul pada wadah makanan.
Berdasarkan teori-teori di atas, maka penulis menyimpulkan bahwa dalam upaya membentuk tingkah laku peserta didik yang di harapkan dalam pendidikan perlu adanya stimulus dan respons untuk membantu meningkatkan motivasi belajar peserta didik, dengan penggunaan media audiovisual maka di harapkan mampu meningkatkan motivasi belajar peserta didik dalam halnya mencapai tujuan pembelajaran. Mekanisme hubungan stimulus dan respons inilah memunculkan suatu aktivitas.


4.      Teori Motivasi Kesempurnaan McClelland dan John Atkinson
Menurut teori Atkinson dan McClelland untuk menghitung faktor-faktor yang mempunyai andil dalam sebuah aktivitas yang cemerlang, perilaku yang membuahkan hasil, Atkinson dan McClelland menyatakan ada dua faktor khusus bagi seorang individu dan dua faktor khusus untuk perbuatan yang hendak dilakukan. Dua faktor khusus bagi individu yaitu: a) Dorongan untuk berhasil sempurna. b) Takut gagal.
Kedua faktor ini merupakan faktor yang biasanya seorang motivator akan menyampaikan sebuah motivasinya dan menggambarkan sebuah keberhasilan dalam suatu pencapaian pekerjaan dengan dorongan yang kuat dan menganalogikan atau menggambarkan setiap kisah sukses yang pernah dialaminya, sehingga ketakutan akan sebuah kegagalan bisa dihindarkan oleh setiap orang yang ingin melakukan pekerjaan sesulit apapun. Adapun faktor khusus untuk perbuatan yang hendak dilakukan antara lain:
a.       Kemampuan yang tinggi karena potensi yang dimiliki.
b.      Kemampuan yang rendah karena potensi yang dimiliki.
Kedua faktor kemampuan yang khusus tersebut biasanya menjadi faktor yang mempengaruhi terhadap perbuatan yang hendak dilakukan, Atkinson dan McClelland menyatakan bahwa jika kecenderungan utnuk berhasil lebih besar dari kecenderungan untuk menjauhi kegagalan maka disana terjadi pengutamaan pekerjaan-pekerjaan sederhana yang sulit, dan secara penafsirannya orang-orang yang memiliki motivasi tinggi adalah orang-orang yang realistis. Setiap pekerjaan sesulit apapun akan bisa ditempuh dan dilaluinya selama motivasi untuk berhasil tertanam dalam jiwanya.[33]
Berdasarkan pengertian teori diatas, penulis menyimpulkan bahwa motivasi peserta didik akan muncul apabila dilandasi dengan kemauan atau dorongan-dorongan yang kuat untuk membuatnya bertindak, baik itu dorongan dari luar (ekstern) ataupun dorongan dari dalam (intern).

D.    KONSEP DASAR
1.      Media Audiovisual dalam Pembelajaran
a.       Pengertian Media Audiovisual
Kata “media”, bentuk jamak dari kata medium, bersal dari bahasa Latin yang secara harfiah memiliki arti perantara atau pengantar. Media merupakan perantara atau pengantar pesan dari pengirim ke penerima pesan.[34] Sementara media pembelajaran adalah alat perlengkapan mengajar untuk melengkapi pengalaman belajar bagi pendidik. Dalam menggunakan media mengajar ini, pendidik hendaklah selalu mengingat bahwa tujuan utama menggunakan media tersebut adalah mendekatkan peserta didik kepada kenyataan. Media itu ada yang berupa alat-alat yang dicetak dan alat-alat elektronik yang di gunakan untuk menyampaikan isi pelajaran. Alat-alat tercetak seperti buku, majalah, dan buletin telah lama dipergunakan pendidik sebagai media mengajar utama. Akan tetapi sekarang alat audiovisual telah dipergunakan pula oleh pendidik.[35]
Audio yaitu bahan yang mengandung pesan dalam bentuk auditif (pita suara atau piringan suara), yang dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian dan kemuan peserta didik, sehingga terjadi proses belajar mengajar.[36]
Visual yaitu setiap gambar, model, benda, atau alat-alat lain yang memberikan pengalaman visual yang nyata kepada peserta didik.[37]
Media Audiovisual dalam pembelajaran bermakna sejumlah peralatan yang di gunakan oleh pendidik dalam menyampaikan konsep, gagasan, dan pengalaman yang di tangkap oleh indera pandang dan pendengaran. Penekanan utama dalam pembelajaran audiovisual adalah pada nilai belajar yang di peroleh melalui pengalaman kongkret, tidak hanya di dasarkan atas kata-kata belaka.[38]

b.      Prinsip-Prinsip Penggunaan Media Audiovisual
Memilih media untuk kepentingan pembelajaran sebaiknya memperhatikan kriteria-kriteria sebagai berikut :
1)      Ketepatannya dengan tujuan pembelajaran. Artinya media pembelajaran dipilih atas dasar tujuan-tujuan instruksional yang telah ditetapkan. Yang berisikan unsur pemahaman, aplikasi, analisis, sintesis lebih memungkinkan di gunakannya media pembelajaran.
2)      Dukungan terhadap isi bahan pelajaran, artinya bahan pelajaran yang sifatnya fakta, prinsip, konsep, dan generalisasi sangat memerlukan bantuan media agar lebih mudah dipahami peserta didik.
3)      Kemudahan memperoleh media, artinya media yang diperlukan mudah di peroleh, setidak-tidaknya mudah dibuat oleh pendidik pada waktu mengajar. Media grafis umumnya dapat dibuat pendidik tanpa biaya yang mahal, disamping sederhana dan praktis penggunaannya.
4)      Keterampilan pendidik dalam penggunaannya, apapun jenis media yang diperlukan syarat utama adalah pendidik dapa menggunakannya dalam proses pembelajaran. Nilai dan manfaat yang di harapkan bukan pada medianya, tetapi dampak dari penggunaan oleh pendidik pada saat terjadinya interaksi belajar peserta didik dengan lingkungannya. Adapun OHP, proyeksi film, komputer, dan alat canggih lainnya, tidak mempunyai arti apa-apa bila pendidik tidak dapat menggunakannya dalam pembelajaran untuk mempertinggi kualitas pembelajaran.
5)      Tersedianya waktu untuk menggunakannya, sehingga media tersebut dapat bermanfaat bagi peserta didik selama pembelajaran berlangsung.
6)      Sesuai dengan taraf berpikir peserta didik, memilih media untuk pendidikan dan pembelajaran harus sesuai dengan taraf berpikir peserta didik, sehingga makna yang terkandung di dalamnya dapat dipahami oleh para peserta didik.[39]

c.       Jenis Media Audiovisual
Media audiovisual dibagi menjadi dua macam, yaitu:
1)      Audiovisual Diam, yaitu media yang menampilkan suara dan gambar diam. Seperti film bingkai suara, dan cetak suara.
2)      Audiovisual Gerak, yaitu media yang menampilkan unsur suara dan gambar yang bergerak. Seperti film suara dan video cassette. [40]

d.      Indikator Media Audiovisual
Indikator dari penggunaan media audiovisual ini diantaranya:
1)      Proses belajar mengajar di dalam kelas akan lebih menarik.
2)      Media yang bersifat interaktif.
3)      Akan memunculkan kreativitas peserta didik.
4)      Hasil belajar peserta didik akan lebih baik.
5)      Peserta didik lebih mudah dalam memahami materi yang di sampaikan oleh pendidik.
6)      Meningkatkan ilmu pengetahuan dan teknologi.[41]
2.      Motivasi Belajar
a.       Pengertian Motivasi Belajar
Motivasi ialah keadaan internal organisme baik manusia maupun hewan yang mendorongnya untuk berbuat sesuatu. Menurut Gleitman dan Reber, motivasi berarti pemasok daya (energizer) untuk bertingkah laku secara terarah.[42] Motivasi berasal dari kata “motif” yang dapat di artikan sebagai daya upaya yang dapat mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu. Motif dapat di katakan sebagai daya penggerak dari dalam dan di dalam subjek untuk melakukan aktivitas-aktivitas tertentu demi mencapai suatu tujuan. Bahkan motif dapat di artikan sebagai suatu kondisi intern (kesiap siagaan).[43] Pada dasarnya motivasi adalah suatu usaha yang didasari untuk menggerakan, mengarahkan dan menjaga tingkah laku seseorang agar ia terdorong untuk bertindak melakukan sesuatu sehingga mencapai hasil atau tujuan tertentu.[44]
Motivasi dapat dibagi atas dua jenis yaitu motivasi instrinsik dan motivasi ekstrinsik. Pada motivasi instrinsik anak belajar karena belajar itu sendiri cukup bermakna baginya. Tujuan yang ingin dicapai terletak dalam perbuatan belajar itu sendiri (menambah pengetahuan, keterampilan dan sebagainya). Pada motivasi ekstrinsik anak belajar bukan karena belajar itu berarti baginya, melainkan mengharap sesuatu dibalik kegiatan belajar itu misalnya nilai yang baik, hadiah, penghargaan atau menghindari hukuman atau celaan. Tujuan yang ingin dicapai terletak di luar perbuatan belajar itu. Contoh: anak mempelajari sembahyang karena ingin tahu dan terampil melaksanakannya (motivasi instrinsik). Sebaliknya kalau ia mempelajari karena ingin dipuji atau takut akan dimarahi, maka dalam hal ini berlaku motivasi ekstrinsik.[45]
Jadi dapat disimpulkan bahwa motivasi belajar adalah keseluruhan daya penggerak di dalam diri peserta didik yang menimbulkan kegiatan belajar menjamin kelangsungan dan memberikan arah pada kegiatan belajar sehingga tujuan yang di kehendaki dapat tercapai.

b.      Macam-Macam Motivasi
Motivasi belajar dapat dibedakan menjadi dua macam, diantaranya:[46]
1)      Motivasi Intrinsik
Motivasi intrinsik adalah hal dan keadaan yang berasal dari dalam diri peserta didik sendiri yang dapat mendorongnya melakukan tindakan belajar. Termasuk dalam motivasi intrinsik peserta didik adalah perasaan menyenangi materi dan kebutuhannya terhadap materi tersebut, misalnya untuk kehidupan masa depan peserta didik yang bersangkutan.

2)      Motivasi Ekstrinsik
Adalah hal dan keadaan yang datang dari luar individu peserta didik yang juga mendorongnya untuk melakukan kegiatan belajar. Pujian dan hadiah, peraturan atau tata tertib sekolah, suri tauladan orangtua, pendidik, dan seterusnya merupakan contoh-contoh konkret motivasi ekstrinsik yang dapat menolong peserta didik untuk belajar. Kekurangan atau ketiadaan motivasi, baik yang bersifat internal atau bersifat eksternal, menyebabkan kurang bersemangatnya peserta didik dalam melakukan proses belajar materi-materi pelajaran baik di sekolah maupun di rumah.

c.       Fungsi Motivasi Dalam Belajar
Fungsi motivasi dalam belajar diantaranya sebagai berikut:[47]
1)      Mendorong manusia untuk berbuat, jadi sebagai penggerak atau motor yang melepaskan energi. Motivasi dalam hal ini merupakan motor penggerak dari setiap kegiatan yang harus dikerjakan sesuai dengan rumusan tujuannya.
2)      Menentukan arah perbuatan, yakni kea rah tujuan yang hendak dicapai. Dengan demikian motivasi dapat memberikan arah dan kegiatan yang harus dikerjakan sesuai dengan rumusan dan tujuannya.
3)      Menyeleksi perbuatan, yakni menentukan perbuatan-perbauatn apa yang harus dikerjakan yang serasi guna mencapai tujuan, dengan menyisihkan perbuatan-perbuatan yang tidak bermanfaat bagi tujuan teersebut. Seorang peserta didik yang akan mengahadapi ujian dengan harapan dapat lulus, tentu akan melakukan kegiatan belajar dan tidak akan menghabiskan waktunya untuk bermain kartu atau membaca komik, sebab tidak serasi dengan tujuan.

d.      Faktor Penghambat Motivasi Belajar
Kesukaran-kesukaran yang sering di hadapi pendidik dalam memotivasi peserta didik adalah:
1)      Kenyataan bahwa pendidik belum memahami sepenuhnya akan motif.
2)      Motif itu sendiri bersifat perorangan. Kenyataan menunjukan bahwa dua orang atau lebih melakukan kegiatan yang sama dengan motif berbeda sama sekali bahkan bertentangan bila ditinjau dari nilainya.
3)      Tidak ada alat, metode atau teknik tertentu yang dapat memotivasi semua peserta didik dengan cara yang sama atau dengan hasil yang sama.[48]


e.       Indikator Motivasi Belajar
Indikator-indikator motivasi belajar di antaranya:
1)      Tekun menghadapi tugas.
2)      Ulet menghadapi kesulitan (tidak lekas putus asa).
3)      Menunjukkan minat terhadap bermacam-macam masalah.
4)      Lebih senang bekerja mandiri.
5)      Tidak cepat bosan terhadap tugas-tugas yang rutin.
6)      Dapat mempertahankan pendapatnya.
7)      Tidak cepat menyerah terhadap hal yang diyakini.
8)      Senang mencari dan memecahkan masalah soal-soal.[49]

3.      Mata Pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam (SKI)
Sejarah secara etimologi dapat di telusuri dari asal kata Arab syajarah artinya pohon. Dalam bahasa asing lainnya peristiwa sejarah disebut histore (Prancis), geschicte (Jerman) dan masih banyak lagi. Sejarah menurut islilah adalah suatu yang tersusun dari serangkain peristiwa masa lampau, keseluruhan pengalaman manusia dan sejarah sebagai suatu cara yang diubah-ubah, dijabarkan dan dianalisa. Sejarah memberikan pemahaman akan arti memiliki sifat objektif tentang masa lampau, dan hendaknya difahami sebagai suatu peristiwa itu sendiri.[50]
Menurut E.B. Taylor, kebudayaan ialah “keseluruhan yang rumit yang mencakup pengetahuan, iman (kepercayaan), seni, moral, hukum, adat atau kebiasaan, dan kemampuan-kemampuan lain serta kebiasaan yang di peroleh manusia sebagai anggota masyarakat.”[51]
Islam adalah agama yang ajaran-ajarannya di wahyukan Tuhan kepada manusia melalui Muhammad sebagai Rasul. Dan datangnya dari Allah, baik dengan perantaraan malaikat Jibril, maupun langsung kepada Nabi Muhammad Sallallahu alaihi wassallam. Dalam Al-quran, Allah sendiri mendefisinikan Islam dengan al-‘amilush shalihat atau iman dan amal. Menurut Abdul Qodir Audah, Islam sebagai berikut :
1)      Al-Islam ‘aqidah wa nizham (Islam adalah kepercayaan dan system (syari’ah)
2)      Al-Islam dinum wa daulah (Islam adalah agama dan Negara)
Berdasarkan beberapa pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa Islam berarti seorang mukmin yang saleh atau seorang mukmin yang sungguh-sungguh menjalankan syariat Islam.[52]
Sejarah Kebudayaan Islam (SKI) merupakan suatu pelajaran yang menelaah tentang asal-usul, perkembangan, peranan kebudayaan atau peradaban Islam dan para tokoh yang berprestasi dalam sejarah Islam dimasa lampau, mulai dari sejarah masyarakat Arab pra-Islam, sejarah kelahiran dan kerasulan Nabi Muhammad Sallallahu alaihi wassallam. Sampai masa Khulafaurrasyidin. Secara substansial mata pelajaran Sejarah Kebudayan Islam (SKI) memiliki kontribusi dalam memberikan motivasi kepada peserta didik untuk mengenal, memahami, menghayati Sejarah Kebudayaan Islam (SKI), yang mengandung nilai-nilai kearifan yang dapat di gunakan untuk melatih kecerdasan, membentuk sikap, watak dan kepribadian peserta didik.[53]

  1. Pengaruh Media Audiovisual Terhadap Motivasi Belajar Peserta Didik
Proses pembelajaran pada hakikatnya adalah proses komunikasi. Proses komunikasi terwujud melalui kegiatan penyampaian dan saling tukar menukar informasi dari setiap pendidik kepada peserta didik. pesan atau informasi yang dimaksud ialah berupa pengetahuan, keahlian, skill, ide, pengalaman, dan lain sebagainya.
Upaya agar pesan atau informasi itu dapat diserap dengan baik dan tidak terjadi kesesatan dalam proses komunikasi perlu di gunakannya sarana yang dapat membantu proses tersebut, karena dalam setiap tersebut sering terjadi hambatan-hambatan yang mengakibatkan proses komunikasi tersebut tidak lancar.
Salah satunya ialah hilangnya motivasi belajar, motivasi merupakan daya penggerak dari dalam untuk melakukan aktivitas guna mencapai tujuan tertentu. Motif dapat di artikan sebagai kondisi intern (kesiap siagaan). Dan kata motif ini di artikan sebagai daya upaya yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu.[54]
Motivasi ini mengandung tiga elemen penting, yang diantaranya :
a)      Bahwa motivasi itu mengawali terjadinya perubahan energi pada diri setiap individu manusia.
b)      Motivasi ditandai dengan munculnya rasa/feeling, afeksi seseorang.
c)      Motivasi akan dirangsang karena adanya tujuan. Jadi motivasi dalam hal ini sebenarnya merupakan respon dari suatu aksi, yaitu tujuan.
Cara untuk menanggulangi hilangnya motivasi belajar tersebut, maka dibutuhkan media pembelajaran yang dapat memicu timbulnya semangat guna menarik perhatian peserta didik dalam belajar. Hal tersebut dapat di tanggulangi dengan menggunakan media pembelajaran dalam proses belajar mengajar. Penggunaan media dalam pembelajaran dapat membantu mengembangkan kreativitas pendidik dan peserta didik dengan cara menyajikan mata pelajarannya menggunakan media sehingga lebih menarik.
Berdasarkan studi awal di Madrasah Aliyah Al-hidayah Cikancung yang beralamat di Jl. Cikancung-Pangauban, rt/rw 02/02 Desa Cikancung, Kecamatan Cikancung Kabupaten Bandung, penulis menemukan beberapa masalah diantaranya kondisi kegiatan belajar mengajar di kelas XI yang kurang dapat menarik perhatian peserta didik karena tidak di gunakannya metode yang bervariatif, pendidik cenderung hanya menggunakan metode konvensional dan belum menggunakan media pembelajaran yang tepat, sehingga dalam proses belajar mengajar pada mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam (SKI) perhatian peserta didik terhadap materi yang diajarkan oleh pendidik masih kurang. Saat pendidik menyampaikan materi pelajaran, banyak peserta didik yang tidak memperhatikan penjelasan dari pendidik. Hal tersebut mengindikasikan kurangnya motivasi belajar peserta didik pada mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam (SKI), sehingga perlu diadakannya pembaharuan dalam proses pembelajaran dengan menggunakan media belajar yang dapat membangkitkan motivasi bagi peserta didik dalam belajar.[55]
Penggunaan media audio visual yang merupakan kombinasi antara indera pendengaran dan penglihatan, di harapkan siswa menjadi tertarik terhadap pelajaran yang diajarkan, serta fokus mengikuti pelajaran sehingga dapat menyerap pelajaran secara optimal yang pada akhirnya berujung pada tercapainya tujuan pembelajaran yang di harapkan.
Media audiovisual di rasa cocok di gunakan dalam proses pembelajaran Sejarah Kebudayaan Islam (SKI), karena media ini dirasa paling tepat dan efektif di gunakan untuk materi yang bersifat cerita atau kisah-kisah sejarah. Sebagai contoh penggunaan media televisi dan video compact disk (VCD) dalam materi peninggalan kejayaan kerajaan-kerajaan Islam, maka peserta didik akan lebih dapat paham akan materi tersebut karena mereka dapat menyaksikan bagaimana dahulu kerajaan-kerajaan Islam mengalami kejayaannya, sehingga mereka semakin tertarik untuk memfokuskan pikiran, pendengaran dan penglihatan pada materi yang diberikan oleh pendidik, sehingga peserta didik termotivasi untuk belajar.
Hal ini diperkuat oleh beberapa penelitian sebelumnya yang serupa, seperti hasil penelitian dari Imas Setiawati pada tahun 2012, Mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Islam Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta dengan judul “Pengaruh Penggunaan Media Audiovisual Terhadap Motivasi Belajar Peserta Didik di Madrasah Ibtidaiyah Al-Bahri Kebon Nanas Jakarta”. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif analisis. Instrumen penelitian yang di gunakan adalah angket dengan bentuk skala sikap. Sedangkan teknis analisis data yang di gunakan adalah Product Moment. Hasil penelitian dari Imas Setiawati menunjukan adanya hubungan antara pengaruh media audiovisual dengan motivasi belajar peserta didik di Madrasah Ibtidaiyah Al-Bahri, dengan indeks korelasi sebesar 0,946 dan termsuk kategori yang sangat kuat (nilai r hitung pada rentang 0,90 – 1,00). Adanya hubungan yang sangat kuat atau tinggi tersebut di nyatakan dengan adanya kontribusi variabel X (pengaruh penggunaan media audiovisual) terhadap variabel Y (motivasi belajar peserta didik).[56]
Hasil penelitian dari Fitria Ningtias Rahmawati pada tahun 2011, Mahasiswa Jurusan Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta dengan judul penelitian “Efektifitas Pemanfaatan Media Audiovisual Video Pembelajaran Dalam Upaya Peningkatan Motivasi dan Hasil Belajar Peserta Didik Pada Pembelajaran Sejarah (Penelitian Tindakan Kelas di SMP Bina Sejahtera Depok)”. Penelitian ini menunjukan bahwa terjadi peningkatan motivasi peserta didik yakni sebesar 76,26%. Hal ini menunjukan efektivitas pemanfaatan media audiovisual video pembelajaran dapat meningkatkan motivasi belajar peserta didik.[57]
Dari penelitian sebelumnya telah disebutkan bahwa media audiovisual mampu mempengaruhi motivasi belajar. Perbedaan penelitian sebelumnya dan penelitian yang penulis lakukan ialah terletak pada lokasi penelitian serta subyek dan juga fokus yang diteliti. Dimana peneneliti lebih berfokus kepada indikator-indikator variabel X dan juga variabel Y.



[1] Depag RI, Al-Qur’an dan Terjemahannya, (Jakarta: PT Sinergi Pustaka Indonesia, 2012). hlm. 375
[2] Abdullah bin Muhammad bin Abdurahman bin Ishaq al-Sheikh, Tafsir Ibnu Katsir Jilid 5, (Pustaka Imam Asy-Syafi’I, 2003). hlm. 88
[3] Ibid, hlm. 89
[4] Depag RI, Al-Qur’an dan Terjemahannya, (Jakarta: PT Sinergi Pustaka Indonesia, 2012). hlm. 793
[5] Abuddin Nata, Tafsir Ayat-Ayat Pendidikan (Tafsir Al-Ayat Al-Tarbawiy), (Jakarta: PT Rajagrafindo Persada, 2002). hlm. 152
[6] Abdullah bin Muhammad bin Abdurahman bin Ishaq al-Sheikh, Tafsir Ibnu Katsir Jilid 8, (Pustaka Imam Asy-Syafi’I, 2003). hlm. 89
[7] Abuddin Nata, Tafsir Ayat-Ayat Pendidikan (Tafsir Al-Ayat Al-Tarbawiy), (Jakarta: PT Rajagrafindo Persada, 2002). hlm. 154
[8] Abu al-Husayn Muslim ibn al-Hajjaj al-Qusyayrn al-Naysaburi, Shahih Muslim,(Beirut:
Dar al-Afaq al-Jadidah, [t.th.]), Juz 3, h. 83, hadits 2380 (selanjutnya disebut Muslim ibn al-Hajjaj)
[9] Haryanto Al-Fandi, “Konsep Pendidikan Seumur Hidup (Long Life Education)”, dalam Jurnal Studi Agama dan Budaya Manarul Qur’an, t.t. hlm. 65
[10] Menurut Hasbullah Bakry, dalam Ahmad tafsir, filsafat umum, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 1990). hlm. 10
[11] Mif baihaqi, Ensikolpedia Tokoh Pendidikan Dari Abendanon Hingga K.H. Imam Zarkasyi, (Bandung: Nuansa, 2008). hlm. 86
[12] Tedy Mahmud, “Rasionalisme dan Empirisme Kontribusi dan Dampaknya Pada Perkembangan Filsafat Matematika”, dalam Jurnal Inovasi, Vol. 8, No. 1, Maret 2011. hlm 116
[13] Ibid, hlm 118
[14] Ricardo F. Naruru, “Progresivisme Pendidikan dan Relevansinya di Indonesia”, dalam jurnal Uniera, volume 02, nomor 2, Agustus 2013. hlm. 134
[15] Uyoh Sadulloh, Pengantar Filsafat Pendidikan,(Bandung: Alfabeta,2010). hlm. 135
[16] Tita Rostitawati, “Konsep Pendidikan John Dewey”, dalam jurnal Manajemen Pendidikan Islam, volume. 02, nomor 2, Agustus 2014. hlm. 134
[17] Ricardo F. Naruru, “Progresivisme Pendidikan dan Relevansinya di Indonesia”, dalam jurnal Uniera, volume 02, nomor 2, Agustus 2013. hlm. 133-134
[18] Uyoh Sadulloh, Pengantar Filsafat Pendidikan,(Bandung: Alfabeta,2010). hlm. 143
[19] Ibid, hlm. 146.
[20]Tita Rostitawati, “Konsep Pendidikan John Dewey”, dalam jurnal Manajemen Pendidikan Islam, volume. 02, nomor 2, Agustus 2014. hlm. 135
[21] Ricardo F. Naruru, “Progresivisme Pendidikan dan Relevansinya di Indonesia”, dalam jurnal Uniera, volume 02, nomor 2, Agustus 2013. hlm. 134
                [22]. Menurut Dorin, Demmin and Gabel (1990) dan Smith (2009:76) dalam Suyono dan Hariyanto, Belajar dan pembelajaran, (Bandung: Rosdakarya, 2011) hlm 27
[23] Muhibbin Syah, Psikologi Pendidikan Dengan Pendekatan Baru, (Bandung, PT Remaja Rosdakarya, 2009). hlm 103
[24] Zakiah Daradjat, dkk, Metodik Khusus Pengajaran Agama Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 2001). hlm. 6
[25] Muhibbin Syah, Psikologi Pendidikan Dengan Pendekatan Baru, (Bandung, PT Remaja Rosdakarya, 2009). hlm 103-104
[26] Nana Sudjana dan Ahmad Rivai, Teknologi Pengajaran, (Bandung: Sinar Baru Algensindo, 2009). hlm. 37
[27] Bambang Priyodarminto, dan Wawan Setiawan, “Studi Perbandingan Antara Model Pembelajaran Berbasis Komputer Dalam Peningkatan Kemampuan Berpikir Matematis Tingkat Tinggi”, dalam Jurnal Pendidikan, Teknologi Informasi dan Komunikasi, Vol. 1, No. 2 Desember 2008. hlm. 70
[28] Nana Sudjana dan Ahmad Rivai, Teknologi Pengajaran, (Bandung: Sinar Baru Algensindo, 2009). hlm. 37
[29] Zakiah Daradjat, dkk, Metodik Khusus Pengajaran Agama Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 2001). hlm. 9
[30] Ibid, hlm. 10
[31] Muhibbin Syah, Psikologi Pendidikan Dengan Pendekatan Baru, (Bandung, PT Remaja Rosdakarya, 2009). hlm 106
[32] Nana Sudjana dan Ahmad Rivai, Teknologi Pengajaran, (Bandung: Sinar Baru Algensindo, 2009). hlm. 38
[33] Abdul Majid Sayid Ahmad Mansur, Zakaria Ahmad Syarbini dan Ismail Muhammad Fata, Perilaku Manusia dalam Pandangan Islam dan Ilmu Psikologi Modern, alih bahasa: Bambang Suryadi, (Yogyakarta: Mistaq Pustaka, 2009). hlm 139
[34] Agus Rifai, Media Teknologi, (Tangerang Selatan: Universitas Terbuka, 2012). hlm. 1.5
[35] Zakiah Daradjat, dkk, Metodik Khusus Pengajaran Agama Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 2001). hlm. 39
[36] Nana Sudjana dan Ahmad Rivai, Media Pengajaran, (Bandung: Sinar Baru Algensindo, 2013). hlm. 129
[37] Ibid, hlm. 57
[38] Ibid, hlm. 58
[39] Ibid, hlm. 4-5
[40] Sapto Haryoko, “Efektivitas Pemanfaatan Media Audio-Visual Sebagai Alternatif Optimalisasi Model Pembelajaran”, dalam Jurnal Edukasi@Elektro, Vol. 5, No. 1, Maret 2009, hlm. 3
[41]Choirun Nisa’ dan Wahono Widodo, “Penggunaan Media Audio Visual Dalam meningkatkan Kreativitas Dan Hasil Belajar Peserta Didik Pada Materi Pembelajaran Membuat Aneka Lipatan Serbet (Napkin Folding), dalam e-jurnal boga, Vol. 2, No. 1, Tahun 2013, edisi yudisium periode Februari 2013. hlm. 30”
[42] Sebagaimana dikutip oleh Muhibbin Syah dalam Psikologi Pendidikan Dengan Pendekatan Baru, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2010). hlm. 134
[43] Sardiman, Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar, (Jakarta: PT Rajawali Pers, 2014). hlm. 73
[44] Ghullam Hamdu dan Lisa Agustina, “Pengaruh Motivasi Belajar Peserta Didik Terhadap Prestasi Belajar IPA Di Sekolah Dasar (Studi Kasus Terhadap Peserta Didik Kelas IV SDN Tarumanagara Kecamatan Tawang Kota Tasikmalaya)” dalam Jurnal Penelitian Pendidikan, Vol. 12, No. 1 April 2011. hlm. 91
[45] Zakiah Daradjat, dkk, Metodik Khusus Pengajaran Agama Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 2001). hlm. 141-142
[46] Muhibbin Syah, Psikologi Pendidikan Dengan Pendekatan Baru, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2010). hlm. 134
[47] Sardiman, Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar, (Jakarta: PT Rajawali Pers, 2014). hlm. 85
[48] Zakiah Daradjat, dkk, Metodik Khusus Pengajaran Agama Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 2001). hlm. 141
[49] Sardiman, Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2011). hlm. 83
[50] Munawir, “Upaya Meningkatkan Hasil Belajar Sejarah Kebudayaan Islam (SKI) Peserta Didik Kelas IV dengan Strategi Pembelajaran CTL (Contextual Teaching And Learning) di Madrasah Ibtidaiyah Assyafi’iyah Tanggul Wonoayu, Sidoarjo”, dalam Jurnal PGMI Madrasatuna, Vol. 04, No. 01, September 2012. hlm. 5
[51] Jaih Mubarok, Sejarah Peradaban Islam, (Bandung: Pustaka Bani Quraisy, 2005). hlm. 5
[52] Munawir, “Upaya Meningkatkan Hasil Belajar Sejarah Kebudayaan Islam (SKI) Peserta Didik Kelas IV dengan Strategi Pembelajaran CTL (Contextual Teaching And Learning) di Madrasah Ibtidaiyah Assyafi’iyah Tanggul Wonoayu, Sidoarjo”, dalam Jurnal PGMI Madrasatuna, Vol. 04, No. 01, September 2012. hlm. 6
[53] Ibid, hlm, 7
[54] Sardiman, Interaksi dan Motivasi Belajar mengajar, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2011). hlm. 73
[55] Sesuai dengan studi awal observasi yang telah dilaksanakan pada tanggal 8 januari 2016
[56] Imas setiawati, Pengaruh Penggunaan Media Audiovisual Terhadap Motivasi Belajar Peserta Didik di Madrasah Ibtidaiyah Al-Bahri Kebon Nanas Jakarta. skripsi, (Jakarta: UIN Syarif Hidayatullah, 2012). hlm. 64 diunduh dari http://repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/24267/1/Imas%20Setiawati.pdf (pada selasa 1 maret 2016 pukul 20.30 WIB)
[57] Fitria ningtias, Efektifitas Pemanfaatan Media Audiovisual Video Pembelajaran Dalam Upaya Peningkatan Motivasi dan Hasil Belajar Peserta Didik Pada Pembelajaran Sejarah (Penelitian Tindakan Kelas di SMP Bina Sejahtera Depok, skripsi, (Jakarta, UIN Syarif Hidayatullah, 2011). hlm. 97 diunduh dari http://repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/3107/1/FITRIA%20NINGTIAS%20RAHMAWATI-FITK.pdf (pada selasa 1 maret 2016 pukul 20.47 WIB)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar